Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » » » Senyum Bahagia Guruku AGH Sanusi Baco


Pedoman Karya 10:43 PM 0

Almarhum Dr (HC) AGH Muhammad Sanusi Baco Lc (mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia Sulsel, dan mantan Ketua Nahdlatul Ulama Sulsel) telah meninggalkan kita semua. Beliau wafat Sabtu malam, 15 Mei 2021, dua hari setelah Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriyah, hari kemenangan karena mensucikan diri selama bulan Ramadhan. 





--------- 

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 22 Mei 2021

 

In Memoriam:

 

Senyum Bahagia Guruku AGH Sanusi Baco

 

 

Oleh: Bahaking Rama

(Guru Besar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar)

 

Tujuh hari sudah berlalu, almarhum Dr (HC) AGH Muhammad Sanusi Baco Lc (mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia Sulsel, dan mantan Ketua Nahdlatul Ulama Sulsel) telah meninggalkan kita semua. Beliau wafat Sabtu malam, 15 Mei 2021, dua hari setelah Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriyah, hari kemenangan karena mensucikan diri selama bulan Ramadhan.

Manusia diciptakan oleh Allah SWT, lahir dalam keadaan fitrah, suci-bersih tanpa dosa. Setiap muslim selalu berupaya dan berdo’a supaya kembali menghadap Ilahi dalam keadaan fithrah, suci-bersih tanpa dosa sebagai waktu dilahirkan.

AGH Sanusi Baco telah kembali menghadap Ilahi, dalam keadaan fitrah, ridha, dan diridhai. Beliau akan menempati surga, tempat hidup bahagia, kekal-abadi selamanya dengan izin dan ridha Allah, aamiin YRA.

Dalam pengalaman saya bersama Anregurutta (sapaan akrab yang artinya sama dengan  Kiai, red), ada empat kejadian penting beliau memperlihatkan “senyum, bahagia.”

Pertama, pada tahun 1974, sebagai dosen, beliau mengajarkan mata kuliah Fiqhi Ibadah (salah satu pokok bahasannya adalah shalat wajib) kepada mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin Makassar. Saya salah seorang di antara mahasiswa itu.

Materi ajar mudah dipahami karena cara mengajarnya sistematis, tenang, dari hati yang dalam, dan tampak sangat ikhlas. Dalam mengajar, beliau sangat piawai memfungsikan pendengaran, penglihatan, dan hati mahasiswanya untuk memahami materi kuliah yang diajarkan.

Beliau gunakan metode ceramah untuk fungsi pendengaran, metode examples untuk fungsi penglihatan, dan metode drama, fi’liyah, praktek untuk memfungsikan hati mahasiswanya.

Setelah menjelaskan materi kuliah, beliau membuka kesempatan bertanya. Ada beberapa pertanyaan sekaitan perbedaan paham dan amalan dalam shalat. Tanya jawab berjalan dinamis. Beliau menjawab semua pertanyaan dengan banyak merujuk pendapat para Imam Mazhab.

Beliau sangat demokratis, toleran, dan moderat, menyerahkan pilihan pada mahasiswa,  pendapat mazhab mana diyakini. Pada kesempatan tanya jawab itulah, beliau selalu terlihat senyum, pertanda bahagia menyaksikan antusiasme, kesungguhan, dan keikhlasan mahasiswanya bertanya untuk menerima ilmu dari Anregurutta.

Kedua, pada akhir tahun 1983, saya menemui Anregurutta memohon kesediaannya membawakan ceramah takziyah, pada tanggal 30 Desember di salah satu desa di Jeneponto atas wafatnya tante saya (Lantera Daeng Romba). Mendengar permohonan itu, beliau dengan senyum khasnya langsung memenuhi permohonan saya.

Pada jam 17.00 sore di tanggal 30 Desember itu, saya jemput beliau di rumah jalan Pongtiku Makassar. Sepanjang perjalanan pergi dan pulang Makassar-Jeneponto, saya banyak mendapat petuah, nasehat, dan ilmu dari beliau, apalagi saya masih tergolong dosen muda, baru.

Pada acara malam takziyah di Jeneponto, jamaah takziyah tergolong besar (banyak). Maklum karena masyarakat sangat berharap bisa bertemu dan mendengar langsung Pak Kiai membawakan ceramah, yang selama ini hanya mengenal namanya.

Jamaah takziyah yang tergolong besar itu, sangat antusias dan tenang, khusuk mengikuti ceramah beliau yang memang menarik. Anregurutta “senyum, bahagia"” menyaksikan bahwa masih banyak umat yang mau mendengar ceramah agama. Beliau senyum, bahagia menyaksikan kesungguhan dan keikhlasan jama'ah ta'ziyah mengikuti ceramah.

Ketiga, pada bulan Mei tahun 1987, kembali saya jumpai beliau (seingat saya masih di Jalan Pongtiku, Makassar) memohon kesediaan Anregurutta membawakan ceramah takziyah di Jalan Baji Gau Makassar, atas wafatnya mertua perempuan saya.

Seperti biasanya, dengan senyum khasnya, beliau langsung menerima dan memenuhi permohonan itu. Pada acara malam takziyah, banyak hadir mahasiswa program khusus (qiraat, ulumul Qur'an) IAIN Alauddin Makassar.

Sepanjang ceramah, jamaah takziyah sangat khusyuk mendengarkan ceramah agama. Anregurutta “senyum, bahagia” menyaksikan kehadiran banyak mahasiswa, generasi muda beratensi, sangat khusyuk menyimak dan mendengarkan ceramah talziyah.

Keempat, pada Bulan Juni tahun 2016, bertepatan bulan Ramadhan, kembali beliau ditemui oleh Dr Halim Talli (dosen UIN Alauddin Makassar, yang juga keluarga kami) dan dimohon perkenan dan kesediaannya semoga Anregurutta bersedia membawakan ceramah takziyah di Jalan Bontotangngang, Pao-pao, Gowa, atas wafatnya Dra Hj Mantasiah M Daeng Riolo (istri saya).

Pak Kiai langsung menerima dan memenuhi permohonan. Jamaah takziyah, selain dari unsur keluarga, handai tolan dan masyarakat, juga hadir dari unsur pimpinan, dosen, dan karyawan UIN Alauddin Makassar.

Anregurutta “senyum, bahagia” menyaksikan kehadiran pimpinan, dosen dan karyawan UIN Alauddin Makassar (mahasiswanya dahulu) sebagai jamaah takziyah, yang khusyuk dan ikhlas, kembali meneriama wejangan dan ilmu dari gurunya.

Dari keempat pertemuan di atas, saya menemukan bahwa Anregurutta adalah sosok pribadi yang (a) sangat mencintai, menyayangi, dan memperhatikan keluarga. (b) sosok yang tidak mau mengecewakan siapa saja yang bermohon do’a dan bermohon kesediaan beliau membawakan ceramah agama, takziyah.

(c) Pribadi yang moderat (tidak fanatik memaksakan kehendak) kepada mahasiswanya agar mengikuti aliran mazhab keagamaan yang dianutnya, (d) gemar menanyakan keadaan kesehatan keluarga teman bicaranya dan senang memberikan petuah keagamaan untuk keselamatan hidup bagi teman bicaranya.

(e) Merasa bahagia melihat orang lain sukses (terutama kalau itu murid atau mahasiswanya), (f) gembira melihat masyarakat, generasi muda yang aktif mengikuti tauziyah, menuntut ilmu, dan mendengarkan nasihat ulama.

(g) Hidup sederhana, menerima apa adanya, tidak mempersoalkan kondisi dan jenis kendaraan apa yang dipakai menjemput, mengantar ke acara takziyah, baik dalam maupun luar kota.

Tanteku, mertua perempuanku, dan istriku adalah perempuan yang saya sangat cintai,  insya Allah ketiganya selamat dan bahagia di alam kuburnya atas berkat do’a dari Anregurutta pada acara malam takziyahnya masing-masing dan do’a dari anak, keluarga.

Almarhum Anregurutta Sanusi Baco, guruku, tetap “Senyum, bahagia” di alam kuburnya menerima do’a keselamatan dari setiap murid dan mahasiswanya, kita semua.

Selamat jalan gurunda, do’aku selalu menyertai, semoga tetap senyum, hidup bahagia di alam yang baru atas ridha dan kasih sayang Allah SWT. Aamiin YRA.

 

Pao-pao, Gowa, Sabtu, 22 Mei 2021

 

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply