Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » » » Doa Berjiwa Diamku


Pedoman Karya 11:10 PM 0

Esensi diksi “Doa Berjiwa Diamku” boleh saja dimulti-tafsirkan oleh orang lain. Itu hal yang bersifat wajar, dan esensi kebebasan juga di dalam memaknai tanpa memahami arti yang sesungguhnya, menjadi soal biasa saja. Tidak mesti dikerangkeng atau di-lockdown, seperti logika budaya ketakutan berlebihan karena radiasi depresi oposan di era zaman lelangan ini. (Maman A Majid Binfas)
 




------

PEDOMAN KARYA

Kamis, 01 Juli 2021

 

 

Doa Berjiwa Diamku

 

 

Oleh: Maman A Majid Binfas

(Dosen Pascasarjana Uhamka Jakarta, dan Unismuh Makassar)

 

Esensi saling mendoakan antara sesama makhluk Tuhan, terutama yang diyakini oleh kaum mukmin sangat dianjurkan. Di mana hakikat untuk saling mendoakan adalah dimensi keimanan berlogika tinggi di atas rata-rata, dikarenakan radius doa akan berbuah butiran cahaya yang didapatkan setimpal, baik yang didoakan maupun mendoakannya.

Untuk itu, kaum beriman pada Tuhan sangat dianjurkan dan sebaiknya tidak terlalu kikir untuk saling mendoakan. Walaupun, ia pernah menyakitkan hati kita sekalipun, baik secara terang-terangan maupun secara ghaib tanpa diketahui. Tidak mesti kita balas dendam dan kikir untuk memaafkannya, serta mendoakan guna dilapangkan jalan di sisi-Nya. Akan lebih baik, kita saling mendoakan tanpa sepengetahuannya, sebagaimana esensi hadits diriwayatkan oleh HR Muslim, no 4094, _yang artinya:

“Tidak ada seorang hamba Muslim yang berkenan mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan kecuali malaikat mendoakan orang yang berdoa tersebut dengan kalimat ‘Kamu juga mendapat sama persis sebagaimana doa yang kamu ucapkan itu,”

Kemudian,  Muhammad Abdul Baqi, dan dunukilkan oleh Ahmad Mundzir (2020) memaknai esensi diksi “zhahrul ghaib” dalam redaksi hadits di atas adalah tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.

Apabila kita mendoakan orang lain secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang yang kita doakan, dan bermanfaat bagi pribadi kita sendiri. Kadarnya pun sebagaimana isi doa yang kita panjatkan untuk orang lain tersebut, tanpa berkurang sama sekali.

Mengapa mendoakan perlu tanpa sepengetahuan orang yang didoakan?

Tentu esensial menjadi rahasianya, di mana orang yang mendoakan secara diam-diam tentu lebih ikhlas tanpa mengharap imbalan apa pun dari orang yang didoakan.

Oleh karena itu, semakin banyak kita mendoakan orang lain, malaikat semakin banyak pula mendoakan kita sebagaimana esensi hakikat dari kandungan hadits di atas.

Kenapa kita mesti kikir saling mendoakan, padahal mendoakan orang lain juga untuk kita pula. Rasa kikir koq dipelihara biar dengan diri sendiri dikikirin pula.

Minimal dalam diksi dilantunkan, baik berupa ucapan biasa maupun syair puisi berjiwa sekalipun.

...

Sukma cinta tiada jua mesti dimiliki secara kasat mata

tetapi tertancap dalam jiwa__

 

Walau

sungguh tiada dapat terukir dengan durasi diksi betapapun

nestapa atau apapun

tetapi ampunan

mesti terjalin

melalui suratan Tuhan

 

Sukma Cinta berjiwa

mungkin tanpa antara

denyutan rasa dalam hati

Tentu

         anugerah takdir Tuhan

         dan kenyataan

          mesti

                   diterima

 

tiada dapat dipungkiri

bertautan

menjadi poros atmosfir kehidupan tetapi ada pilar mesti jadi pilihan tanpa menodai

kemilauan Arsy nur Ilahi

 

_aku mengenali

dan berjejak

juga hampa jarak

akan mendoakan

semoga

tetap menjadi sukma berjiwa

pada Arsy poros Ilahi

sesuai lafad kosa kata namamu _

tiada berjarak

            juga sesak

                      dan terjebak

                       harapan terbaik

                        Dariku 

                         untuk raga jiwamu

Dalam doa nafas diamku__

(30 Juni, 2021)

 

Esensi diksi “Doa Berjiwa Diamku” boleh saja dimulti-tafsirkan oleh orang lain. Itu hal yang bersifat wajar, dan esensi kebebasan juga di dalam memaknai tanpa memahami arti yang sesungguhnya, menjadi soal biasa saja. Tidak mesti dikerangkeng atau di-lockdown, seperti logika budaya ketakutan berlebihan karena radiasi depresi oposan di era zaman lelangan ini.

Tidak juga kita mesti ikutan ketakutan berlebihan karena bias Covidien, kemudian ikutan beringas menglockdown doa dengan kekikiran berlebihan untuk saling mendoakan sesama mahluk Tuhan, yang lagi tertimpa musibah bencana. 

Prosais “Lagi Lockdown” berikut ini, juga merupakan esensi rasa iba dalam gelora jiwa yang bersifat “zhahrul ghaib” dalam dimensi lain, namun tersirat makna hampir sama dengan diksi “doa berjiwa diamku” di atas.

 

LAGI

LOCKDOWN LAGI

 

Lockdown lagi di Jakarta

bukan jua maut hitam

Lalu, melepas maskeran

__ seakan mencekam tanpa ampun

 

Hingga tiada boleh berpose santai,

sekalipun pada gedung berlantai begini

walau sekali

lagi santai, _tiada mesti berkali-kali

_juga lockdown

 

Kini, berjauhan kerumunan dari rutinitas literasi, boleh jadi pilihan kehidupan dalam pengabdian kepada Sang Keabadian

_tanpa lockdown

 

_di lain sisi

Boleh jadi

juga sebagai wujud fardhu kifayah, berdimensi pilihan, tentu lebih bermakna dalam fantasyiru fil-ardhi bersuratan

hingga tiada berlaku lagi Lockdown

 

Bukan jua

Lockdown

hampa tiada berhingga__

 

Salam doa kami

semoga kita terbebas dari bencana,

menjadi diksi cinta sesama__

Mungkin jua mesti Lockdown ?

 

LAGI

LOCKDOWN LAGI

JAKARTA

 

Biasanya siang begini

jalan ini tiada sepi

bahkan prapatan

super mampet

juga lengket di atas rata-rata__

 

...(23 Juni 2021)

 

Mari saling lengketkan ukhuwah Islamiah, minimal jangan kikir untuk saling mendoakan antara sesama, bahkan kepada musuh sekalipun dengan secara diam-diam semoga ia segera siuman pula.

 

Wallâhu a’lam bis shawâb.


«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply