Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

PPI BEBA. Ribuan orang setiap hari mendatangi PPI Beba, Galesong Utara, Takalar. Ada perjanjian pengelolaan yakni hasil pemasukan di PPI Beba 70 persen untuk Pemkab Takalar, dan 30 persen untuk Pemprov Sulsel, tapi sampai Mei 2021 ini, PPI Beba belum pernah berkontribusi kepada Pemprov Sulsel. (Foto-foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA) 

 

 


-----

Ahad, 09 Mei 2021

 

 

PPI Beba Takalar Belum Pernah Berkontribusi ke Pemprov Sulsel

 

 

Febrian: Pembagian Hasil 70% untuk Kabupaten dan 30% untuk Provinsi

Iskandar Adam: Kami Belum Paham Adanya Perjanjian Tersebut

 


TAKALAR, (PEDOMAN KARYA). Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Beba Kabupaten Takalar sejak 2017 sudah menjadi aset Pemerintah Provinsi Sulsel, dan berada di bawah koordinasi Pelabuhan Wilayah II Dinas Kelautan Perikanan Provinsi Sulsel.

Beban-beban yang timbul dalam pengelolaan PPI Beba, baik perbaikan, pemeliharan, bahkan pembayaran listrik, semua ditanggung dan ditalangi oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulsel.

Meskipun demikian, pengelolaan PPI Beba tetap diserahkan kepada Pemerintah kabupaten Takalar dan pelaksanaannya di lapangan diserahkan kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Takalar.

“Ada perjanjian pengelolaan yakni hasil pemasukan di PPI Beba 70 persen untuk Pemkab Takalar, dan 30 persen untuk Pemprov Sulsel, tapi sampai Mei 2021 ini, PPI Beba belum pernah berkontribusi kepada Pemprov Sulsel,” kata Kasubag Tata Usaha Pelabuhan Wilayah II Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel, Febrian, kepada wartawan di Sekretariat Takalar, pada pekan Mei 2021.

Dia menambahkan, PPI Beba adalah aset Pemprov Sulsel sesuai ketentuan UU Nomor 23 Tahun 2014, bahwa Pengelolaan Pesisir dan Laut Mulai dari Titik Nol Diukur dari Surut Terendah Sampai 12 Mil Laut Menjadi Kewenangan Pemerintah Provinsi.

Selain PPI Beba, beberapa pelabuha pendaratan ikan lainnya di Wilayah II juga berada di bawah kewenangan Pemprov Sulsel, yaitu PPI Paotere Makassar, PPI Tanru Sampe Jeneponto, PPI Birea Bantaeng, PPI Bonto Bahari Bukumba, PPI Kajang Bulukumba, dan PPI Lappa Sinjai.

 

Belum Paham

 

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Takalar, Iskandar Adam, yang dikonfirmasi mengenai pengalihan kewenangan PPI Beba dari Pemkab Takalar ke Pemprov Sulsel, mengaku belum memahami adanya ketentuan dan perjanjian tersebut.

“Kami belum paham adanya perjanjian tersebut, apalagi saya belum lama menjabat sebagai Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan,” kata Iskandar.

Dia kemudian menyarankan agar wartawan menemui Kepala Seksi Sarana Prasarana, serta Kepala Bidang Tangkap, untuk mendapatka penjelasan lebih rinci, namun hingga berita ini diturunkan, Selasa, 04 Mei 2021, Pedoman Karya belum sempat berkomunikasi dengan kedua pejabat tersebut. (Hasdar Sikki)

“Sikatutuiki bunting, sipaingakki matoang, katena montu, poteranna maloloa.”

Arti bebasnya: “Wahai anakku pengantin, jaga kebersamaan, saling pengertian, dan kasih-sayang. Para mertua, saling ingat-memperingatilah membina rumah tangga sang anak, karena masa muda, mustahil bisa kembali berulang.”




---------- 

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 08 Mei 2021

 

Kelong Pendidikan Religius (8):

 

 

Sikatutuiki Bunting, Sipaingakki Matoang

 

 

Oleh: Bahaking Rama

(Guru Besar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar)

 

Membina Keluarga Sakinah

 

Pada acara pernikahan, lazim ada nasihat perkawinan dari ustadz. Inti nasehatnya, bangunlah rumah tangga sakinah, mawaddah-warahmah dengan kasih-sayang dan saling pengertian.

Selain nasihat dari ustadz, leluhur kita dahulu berpesan dalam Kelong;

“Sikatutuiki bunting, sipaingakki matoang, katena montu, poteranna maloloa.”

Arti bebasnya: “Wahai anakku pengantin, jaga kebersamaan, saling pengertian, dan kasih-sayang. Para mertua, saling ingat-memperingatilah membina rumah tangga sang anak, karena masa muda, mustahil bisa kembali berulang.”

Hari dan minggu pertama pernikahan, tampak sifat kasih-sayang ditunjukkan. Bulan berikutnya, mulai muncul sifat asli dan kepribadian aktual suami-isteri. Suami yang selama ini menunjukkan kasih-sayang, ternyata sifat aslinya, pemarah.

Ia tidak memberi uang belanja rumah tangga kepada isteri. Sementara sang isteri yang kelihatan penyabar, penutut, ternyata sifat aslinya, cerewet dan keras kepala.

Dalam keadaan seperti ini, bisa terjadi masalah dalam kehidupan rumah tangga. Kalau mertua ikut campur memperkeruh suasana, sangat memungkinkan kehidupan rumah tangga berakhir tragis dengan perceraian. Istri menjadi janda (jatah untuk duda) dan suami menjadi duda (dulu ada).

Pesan moral kelong di atas adalah “Rumahku-surgaku apapun kondisinya.” Suami isteri saling kasih-sayang membangun rumah tangga sakinah, mawaddah wa rahmah, hingga waktunya tiba, ajal menjemput. Semoga, aamiin YRA

 

Pao-Pao, Gowa, Sabtu, 01 Mei 2021


----------

Artikel sebelumnya:


Kelong Pendidikan Religius (7): Anjo Tope Tassampea, Teaki Kalli’ Matai, Nia’ Patanna

Kelong Pendidikan Religius (6): Sampang Se’re, Se’re tongji, Punna Rua Pela’ Se’re

Kelong Pendidikan Religius (5): Assambayangko Nutanjeng, Pakajai Amala’nu


“Anjo tope tassampea, teaki kalli’ matai, nia' patanna, tanna salinringna mami.”

Arti bebasnya: “Anak gadis-pemuda yang sudah tunangan, janganlah dilirik apa lagi diganggu. Ia sudah dalam penantian, menunggu masa yang tepat pelaksanaan pesta pernikahan.” (Foto: int)

 



------

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 08 Mei 2021

 

Kelong Pendidikan Religius (7):

 

 

Anjo Tope Tassampea, Teaki Kalli’ Matai, Nia’ Patanna, Tanna Salinringna Mami

 

 

Oleh: Bahaking Rama

(Guru Besar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar)


Etika Perjodohan

 

Anak gadis dan pemuda menjadi tanggung-jawab orangtua mencarikan jodoh. Dahulu, orangtua menjodohkan anaknya di kalangan keluarga, antar-sepupu. Ada antar-sepupu satu kali, paling lazim antar-sepupu dua kali.

Anak menerima perjodohan pertanda hormat, patuh, dan taatnya kepada orangtua. Anak yang telah dijodohkan, berkewajiban memelihara kesucian perjodohan itu. Ia tabu melirik dan berhasrat kepada gadis atau pemuda sekelilingnya.

Gadis-pemuda yang sudah dijodohkan (nipassi tallikang) tidak lagi boleh diganggu pemuda-gadis lain. Etika perjodohan dipesankan dalam kelong;

“Anjo tope tassampea, teaki kalli’ matai, nia' patanna, tanna salinringna mami.”

Arti bebasnya: “Anak gadis-pemuda yang sudah tunangan, janganlah dilirik apa lagi diganggu. Ia sudah dalam penantian, menunggu masa yang tepat pelaksanaan pesta pernikahan.”

Pemuda-gadis milenial, penting memahami dan mengamalkan makna pesan kelong di atas, sebagai etika dalam mencari jodoh.

Kalau seorang gadis diketahui sudah ada pemuda idamannya, maka pemuda lain, tidak boleh mengganggunya. Jangan disabot (nilacci) karena akan melukai perasaan kekasihnya.

Perasaan yang luka, bisa menimbulkan kemarahan dan perselisihan dan kemudian perkelahian. Bukan hanya perkelahian individu, tetapi bisa berkembang menjadi  perkelahian antar-kelompok pemuda, bahkan perkelahian antar-kelompok keluarga atau antar-kampung.

Dendam perkelahian sewaktu-waktu bisa muncul, menyebabkan ketidak-stabilan hidup dalam masyarakat.

Nilai kelong “Teaki kalli’ matai” yang berarti jangan mengganggu pasangan perjodohan  maupun pasangan suami isteri, adalah pesan moral yang wajib dijunjung tinggi. Semoga, aamiin YRA.

 

Pao-Pao, Gowa. Jum’at, 30 April 2021


“Sampang se’re-se’re tongji, punna rua pela’ se’re, ero’jakontu, rua tallu pa’risi’nu.”

Arti bebasnya: Kuatkan keyakinan, Allah esa dan tetap satu. Kalau ragu ada kekuatan lain selain-Nya, buanglah keraguan itu, tetaplah istiqamah. Allah esa, satu. Kalau ada keraguan, maka akan mengalami banyak kesulitan dalam hidup. (Foto: int)

 


--------

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 08 Mei 2021

 

Kelong Pendidikan Religius (6):

 

 

Sampang Se’re, Se’re tongji, Punna Rua Pela’ Se’re

 

 

Oleh: Bahaking Rama

(Guru Besar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar)


Kemaha-Esa-an Allah menjadi faktor utama dalam kepercaan beragama (Islam). Negara Indonesia menempatkannya sebagai falsafah bangsa, terpatri kokoh dalam urutan pertama Pancasila, “Ketuhanan yang maha Esa”. Nilainya menjiwai dan menginjeksi empat sila setelahnya. Salah satu metode memperkokoh keyakinan tentang ke-Esa-an Allah pada setiap anak adalah melalui Kelong;

“Sampang se’re-se’re tongji, punna rua pela’ se’re, ero’jakontu, rua tallu pa’risi’nu.”

Arti bebasnya: Kuatkan keyakinan, Allah esa dan tetap satu. Kalau ragu ada kekuatan lain selain-Nya, buanglah keraguan itu, tetaplah istiqamah. Allah esa, satu. Kalau ada keraguan, maka akan mengalami banyak kesulitan dalam hidup.

Ragu ada kekuatan yang diyakini selain Allah, akan melahirkan kemusyrikan. Musyrik tergolong perbuatan dosa besar. Allah tidak mengampuninya kecuali taubat.

Singkretisme bermakna seseorang mencampur-adukkan kepercayaan pada Tuhan. Untuk menghindari singkretisme, maka perlu istiqamah menegakkan ajaran tauhid. Juga perlu memahami dan mengamalkan nilai moral ajaran kelong di atas.

Percaya kepada Allah, hanya kepada-Nya manusia menyembah dan hanya kepada-Nya minta pertolongan. Hamba minta tolong diberi jalan lurus, bukan jalan munafikuun, bukan jalan biadab, dan bukan jalan dzalimuun.

Jalan lurus supaya menjadi pemerintah, pemimpin yang adil dan bijaksana pada seluruh rakyat. Jalan lurus supaya menjadi suami-isteri yang jujur dan saling kasih, sayang-menyayangi.

Jalan lurus supaya menjadi pedagang terpercaya. Jalan lurus supaya menjadi pegawai yang bertanggung-jawab, disiplin, kerja maksimal, dan tidak korupsi.

Jalan lurus supaya menjadi orang tua yang bijak. Jalan lurus supaya menjadi orang kaya yang dermawan, dan jalan lurus lainnya.

Yakini Tuhan, Allah itu esa, satu. Tidak mensyarikatkan, apalagi meniadakannya. Meniadakan Allah, berarti manusia atheis, komunis. Ia menjadi sekuler, liberalis, melakukan kebijakan secara bebas, tanpa berdasar pada etika ajaran keagamaan.

Pastikan Allah hadir dalam diri, kapan dan dimanapun manusia berada. Sesibuk apapun dan sejauh manapun manusia berjalan di muka bumi, Tuhan pasti tetap hadir dan mengetahui perbuatan hamba-Nya, baik perbuatan gaib maupun yang nyata. 

Ajaran-Nya wajib diamalkan, perintah-Nya wajib dikerjakan, larangan-Nya ditinggalkan. Semoga, aamiin YRA.

 

Pao-Pao Gowa, Kamis, 29 April 2021

“Assambayangko nutanjeng, pakajai amala’nu, mateko sallang, nanusassala’ kalennu.”

Arti bebasnya: “Wahai anakku, dirikanlah shalat dengan ikhlas dan penuh pasrah pada Allah. Anakku, perbanyaklah berbuat amal, karena ayah khawatir anakku akan menyesal setelah hari kematianmu.” (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMANN KARYA)

 



-------------

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 08 Mei 2021

 

Kelong Pendidikan Religius (5):

 

 

Assambayangko Nutanjeng, Pakajai Amala’nu

 

 

Oleh: Bahaking Rama

(Guru Besar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar)


Shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Orang tua tidak rela anaknya berbuat keji dan mungkar. Orang tua yang bijak, punya perhatian penuh dan merasa bertanggung jawab kepada perilaku shalat anaknya. Ia tidak bosan mendidik dan membimbing melalui kelong, wahai anakku:

“Assambayangko nutanjeng, pakajai amala’nu, mateko sallang, nanusassala’ kalennu.”

Arti bebasnya: “Wahai anakku, dirikanlah shalat dengan ikhlas dan penuh pasrah pada Allah. Anakku, perbanyaklah berbuat amal, karena ayah khawatir anakku akan menyesal setelah hari kematianmu.

Shalat adalah mata pelajaran penting dan mendasar untuk dipahami dan diamalkan. Orang tua mendidik anak di rumah, guru mendidik murid-murid di sekolah, dan kiai- ulama mendidik masyarakat.

Salah satu prinsip pembelajaran adalah keteladanan. Juga pembiasaan dan keterlibatan langsung. Orang tua, ayah membawa, menggendong anaknya untuk dibiasakan dan terlibat langsung shalat berjamaah di masjid, meskipun anaknya masih usia dini.

Ibu di rumah membimbing dan melatih anaknya shalat, meskipun ia sibuk mengurus kebutuhan rumah tangga. Sambil mengusap-usap kepala anaknya sebagai tanda kasih-sayang yang tulus dalam pemeliharaannya.

Ibu berkata, “Anakku, janganlah pernah tinggalkan shalat, karena shalat akan menyelamatkan dan membahagiakan hidupmu dunia-akhirat. Kalau anakku tinggalkan shalat, anakku akan menyesal. Kalau tidak menyesal di dunia, pasti menyesal di akhirat. Anakku, supaya tidak menyesal, tanjenglah, shalat dan sandarkan keyakinan yang kokoh pada Allah Yang Maha Penolong. Pasti Allah akan memenuhi janjinya, menolong hamba-Nya yang shalat dan dzikir.” Semoga, aamin yaa rabbil aalamin…

 

Pao-Pao, Gowa. Rabu, 28 April 2021


“Edaran dikeluarkan untuk mencegah gratifikasi di seluruh SKPD, apalagi Inspektorat merupakan perpanjangan tangan dari KPK mengenai gratifikasi ini.” 

- Kamsina -
(Inspektur Inspektorat Kabupaten Gowa)





------

Jumat, 07 Mei 2021

 

 

ASN Gowa Dilarang Terima Bingkisan Hari Raya

 

 

Kalau Sudah Terlanjur Terima Harus Lapor ke Inspektorat

 

GOWA, (PEDOMAN KARYA). Seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) Lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gowa dilarang menerima gratifikasi hari raya, baik berupa bingkisan maupun bentuk lainnya, yang berhubungan dengan jabatan atau berlawanan dengan fungsi tugasnya.

Larangan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Bupati Gowa, Nomor Surat 700/018/Inspektorat, tentang Pencegahan Gratifikasi Terkait Hari Raya Keagamaan.

Edaran tersebut dikeluarkan agar menjadi perhatian bagi seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) agar tidak menerima maupun memberi jelang perayaan Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah yang jatuh pada tanggal 13 Mei 2021.

“Edaran dikeluarkan untuk mencegah gratifikasi di seluruh SKPD, apalagi Inspektorat merupakan perpanjangan tangan dari KPK mengenai gratifikasi ini,” kata Inspektur Inspektorat Kabupaten Gowa, Kamsina, kepada wartawan, Jum’at, 07 Mei 2021.

Dalam surat edaran ini dijelaskan kalaupun terdapat beberapa ASN yang terlanjur menerima boleh memberikan langsung kepada masyarakat yang membutuhkan atau pihak yang terdampak Covid-19, namun setelah itu harus dilaporkan ke Unit Pengendalian Gratifikasi (UPG) Kabupaten Gowa di Inspektorat, yang selanjutnya UPG melakukan rekapitulasi dan dilaporkan kepada KPK.

“Kalau ada yang terlanjur mendapatkan namun tergolong mampu, bisa menyerahkan ke orang yang lebih membutuhkan atau kurang mampu, dengan catatan harus menyampaikan ke UPG ditambah bukti terlampir misalnya foto dan lainnya. Hal ini dilakukan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” jelas Kamsina yang juga menjabat Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Gowa.

Ia mengimbau agar sebaiknya seluruh ASN tidak menerima segala bentuk gratifikasi, khususnya menjelang Idul Fitri ini dan tidak menganggap remeh persoalan tersebut. (met)


BERKELAHI. Dari kiri atas searah jarum jam, Ketua DPRD Takalar, Darwis Sijaya, Andi Noor Zaelan (PDIP), Nurdin HS (PPP), Johan Nojeng (PBB), dan Haris Nassa (PKB).


 



-------

Kamis, 06 Mei 2021

 

 

Protes Pembentukan Pansus LKPJ Bupati, Anggota DPRD Takalar Berkelahi

 


- Johan Nojeng Dilarikan ke Rumah Sakit

- Andi Ellang Serahkan Diri ke Polres Takalar

 

TAKALAR, (PEDOMAN KARYA). Perkelahian sesama Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Takalar terjadi pada Senin, 03 Mei 2021. Akibatnya, dua anggota dewan mengalami luka, bahkan salah seorang di antaranya sempat dibawa ke rumah sakit untuk diberikan perawatan, dan seorang lainnya langsung menyerahkan diri ke Polres Takalar.

Anggota dewan yang menyerahkan diri ke Polres Takalar, yaitu Andi Noor Zaelan. Pria yang akrab disapa Andi Ellang ini tak lain adalah Ketua Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan selama ini dikenal cukup vocal, sedangkan dua anggota lainnya yaitu Johan Nojeng dan Bakri Daeng Sewang.

Johan Nojeng adalah politisi Partai Bulan Bintang (PBB), sedangkan Bakri Daeng Sewang adalah olitisi Partai Amanat Nasional (PAN). Andi Ellang kini sudah berstatus tersangka dan ditahan di MapolresTakalar.

Insiden perkelahian itu terjadi pada rapat pembentukan ulang Panitia Khusus (Pansus) Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Takalar, di Ruang Bamus DPRD Takalar, Senin, 03 Mei 2021.

Sebelumnya sudah pernah dilakukan rapat pembentukan Pansus LKPJ, yakni pada hari Jumat, 30 April 2021, tetapi beberapa anggota dewan yang tidak mengikuti rapat tersebut memprotes susunan Pansus yang dihasilkan dari rapat tersebut.

Karena adanya protes tersebut, maka pimpinan dewan kemudian mengadakan rapat ulang, dan pada rapat ulang itulah terjadi insiden perkelahian.

 

Tidak Dilibatkan

 

Rapat pertama dengan agenda pembentukan Pansus LKPJ Bupati Takalar, dipimpin Wakil Ketua DPRD Takalar, Hj Erni Halerah (PAN). Ketua DPRD Takalar, Darwis Sijaya, pada saat bersamaan sedang berada di Jakarta.

Rapat dihadiri enam anggota dewan yakni H Mukhtar Maluddin (Partai Golkar), Hairil Anwar (PKS), H Ahmad Sija (Partai Gerindra), Darmawati (Partai Nasdem), Bakri Sewang (PAN), dan Johan Nojeng (PBB).

Rapat memutuskan menunjuk H Mukhtar Maluddin sebagai Ketua Pansus, Bakri Sewang sebagai wakil ketua.

Hasil rapat tersebut diprotes oleh tiga anggota dewan lainnya, yakni Andi Noor Zaelan (Andi Ellang), H Abdul Haris Nassa (PKB), dan H Nurdin HS (PPP), karena ketiganya merasa tidak dilibatkan dalam rapat tersebut.

Abdul Haris Nassa mengatakan, mereka mengusukan rapat ulang karena seharusnya terlebih dahulu ada SK dari ketiga pimpinan dewan, tapi kenyataan tidak ada SK dan langsung dilakukan rapat pembentukan Pansus.

“Ada tiga pimpinan di sini, seharusnya sebelum pembentukan Pansus, harus ada SK dari ketiga pimpinan DPRD. Kami belum melihat itu, dan juga tidak ada pemberitahuan, sehingga kami meminta kepada Ketua DPRD untuk menjadwalkan ulang rapat pembentukan Pansus LKPJ Bupati Takalar,” jelas Haris.

 

Usulkan Perubahan Pansus

 

Andi Noor Zaelan, Hars Nassa, dan H Nurdin HS kemudian meminta kepada pimpinan dewan agar dilakukan rapat ulang, dan permintaan itu diakomodir kemudian diadakanlah rapat ulang dan dipimpin oleh Ketua DPRD Takalar, Darwis Sijaya.

“Dengan niat yang baik, saya menjadwalkan rapat ulang pada hari Senin (03 Mei 2021), dengan harapan kita bisa menyatukan pendapat dan dapat mengakomodir teman-teman yang belum masuk struktur kepanitian tersebut,” kata Darwis saat dikonfirmasi beberapa wartawan.

Dalam pertemuan tersebut, katanya, berkembang usulan agar dilakukan perubahan struktur Pansus LKPJ Bupati Takalar. Ketua Pansus tetap diberikan kepada Mukhtar Maluddin, sedangkan Wakil Ketua Pansus Bakri Sewang diusulkan diganti oleh Andi Noor Zaelan.

“Dari situlah terjadi perdebatan, tetapi itu biasa. Dalam rapat, ada perbedaan pendapat, dan rapat tersebut tidak bisa disalahkan. Setiap rapat juga harus ada keputusan, walaupun keputusan itu tidak dapat memuaskan semua peserta rapat. Tapi kalau itu sudah menjadi keputusan, maka sepatutnya harus disepakati dan diikuti. Dan dalam hal kejadian kemarin, pada dasarnya saya yakin tidak ada yang menghendaki hal tersebut, tapi akan menjadi pengalaman dan pelajaran bagi kita semua,” tutur Darwis.

 

Pukul Meja

 

Bakri Sewang yang dihubungi secara terpisah memberikan keterangan berbeda. Politisi PAN ini mengatakan, terjadinya keributan itu dipicu lantaran Darwis Sijaya tidak becus dalam memimpin rapat.

“Pimpinan sidang tidak memberikan kesempatan bagi kami yang mengusulkan supaya kita poting saja. Pimpinan sidang langsung mengetuk palu dan memutuskan Andi Ellang menjadi Wakil Ketua Pansus. Dari situlah terjadi keributan ketika Pak Johan Nojeng memprotes sambil memukul meja, kemudian Andi Ellang berdiri sambil bicara dengan emosi membela pimpinan sidang. Jadi yang memicu keributan adalah Darwis Sijaya selaku pimpinan rapat,” papar Bakri.

H Nurdin HS yang juga dimintai keterangannya mengatakan, pada saat terjadi keributan antara Andi Ellang dengan Johan Nojeng dan Haris Nassa, dirinya langsung meninggalkan ruangan dengan maksud memanggil pengamanan.

Dia mengaku tidak mengetahui benda apa yang digunakan oleh And Ellang sehingga Johan Nojeng dan Bakri Sewang mengalami luka.

“Saya tidak tahu persis bagaimana kejadiannya, karena ketika mulai rebut saya keluar ruangan untuk memanggil pihak pengamanan,” ungkap Nurdin. (Hasdar Sikki)

"Sungguh sangat disayangkan jika ada oknum anggota DPRD sampai adu jotos dan ada yang luka, hanya karena keegoisan masing-masing, yang belum tentu pula tingkat kebenarannya."

- Samsuar Saddara -

(Pemerhati Sosial – Budaya / Penasehat PWI Takalar)




--------- 

PEDOMAN KARYA

Kamis, 06 Mei 2021

 

 

Kasus Perkelahian Anggota DPRD Takalar: Inikah Yang Diharapkan? Sungguh Memalukan

 

 

Oleh: Samsuar Saddara

(Pemerhati Sosial – Budaya / Penasehat PWI Takalar)

 

DPRD adalah sebuah lembaga negara yang terhormat, di mana lembaga ini merupakan turunan dari lembaga legislatif dari pusat yakni DPR RI. Dalam Hukum Tata Negara Indonesia, kita kenal yang namanya Trias Politika yakni pembagian kekuasaan negara, terdiri atas Lembaga Eksekutif (Pemerintah), Lembaga Legislatif (DPR/DPRD), dan Lembaga Yudikatif (Mahkamah Agung).

Namun yang akan kami bahas hanyalah Lembaga Legislatif (DPRD) yang berfokus di daerah tingkat dua.

Kita sama ketahui bahwa Lembaga DPRD adalah sebuah lembaga yang melekat mewakili suara rakyat yang ada di daerah pemilihannya. Penulis tidak terlalu memberikan narasi yang komprehensif dari sudut regulasi yang mengaturnya, akan tetapi lebih pada substansi sebagai sebuah lembaga perwakilan suara rakyat di parlemen, yang selama ini dilakukan oleh para wakil rakyat.

Anggota DPRD dalam kurun waktu lima tahun bisa saja berganti, namun substansi kerja kerja DPRD sebagai lembaga legislasi, pengawasan dan hak budgeting tidak boleh berubah. Namun satu keanehan jika ada oknum anggota DPRD bermanuver di luar batasan aturan yang ada. Tentu ini harus dipertanyakan.

Sebagai Anggota DPRD, tempatnyalah orang berargumentasi dan saling menginterupsi hal-hal yang berkaitan dengan suara rakyat yang diperdebatkan. Namun bukan tempat kita saling menyakiti secara fisik dalam sebuah forum yang terhormat tersebut.

Sebagai anggota DPRD, pemikiran negarawan jauh lebih dikedepankan dibanding pemikiran yang emosional, yang sesungguhnya sangat merugikan eksistensi dan elektabilitas sebagai anggota dewan yang terhormat.

Sungguh sangat disayangkan jika ada oknum anggota DPRD sampai adu jotos dan ada yang luka, hanya karena keegoisan masing-masing, yang belum tentu pula tingkat kebenarannya.

Sebaiknya jika ada kesalahpahaman yang tidak ditemukan solusinya pada saat rapat tersebut, maka sebagai anggota dewan yang terhormat bisa saja sidang diskorsing. Tapi kalau permasalahan tersebut adalah persoalan pribadi, maka bukan di ruang Gedung DPRD penyelesaiannya.

Dengan demikian setiap masalah mari kita menempatkan sesuatu pada tempatnya, karena kalau bukan tempatnya sebuah masalah diselesaikan, maka tungguh masalah baru akan  muncul.

Mari kita bermuhasabah karena momentum Ramadhan kali ini, sangat pas untuk dijadikan rujukan untuk kembali kepada jalan yang terbaik.

Mari kita gunakan waktu yang tersisa di bulan suci Ramadhan ini, untuk berbuat yang terbaik buat rakyat dan keluar dari bulan suci Ramadhan ini menjadi orang-orang yang muttaqin.

“Berarti bertambahmi ini syarat menjadi calon Anggota DPRD,” kata Daeng Nappa’.

“Syarat apa?” tanya Daeng Tompo’.

“Harus jago berkelahi,” jawab Daeng Nappa’ sambil tersenyum.

“Dan kalau bisa jago juga main double stick,” timpal Daeng Tompo’ sambil tertawa dan keduanya pun tertawa-tawa. 



------- 

PEDOMAN KARYA

Senin, 03 Mei 2021

 

Obrolan Daeng Tompo’ dan Daeng Nappa’:

 

 

Ada Anggota DPRD Jago Tawwa Seperti Bruce Lee

 

 

“Masih ki ingatki Bruce Lee to?” tanya Daeng Tompo’ kepada Daeng Nappa’ saat ngopi berdua di teras rumah Daeng Nappa’ setelah pulang shalat tarwih.

“Bruce Lee yang bintang film to?” Daeng Nappa' balik bertanya.

“Baa, itumi. Bruce Lee itu bukan cuma jago akting di film, tapi jago memangtongi. Salah satu kelebihanna yaitu jago main double stick,” kata Daeng Tompo’.

“Betul, malah dia pernah main pimpong dengan juara pimpong asal China, dan Bruce Lee pakai double stick, bukan bat pimpong napakai,” timpal Daeng Nappa’.

“Berarti kembali’mi ingatanta’ tentang Bruce Lee,” kata Daeng Tompo’ sambal tersenyum.

“Terus apa ini yang mau kita sampaikan?” tanya Daeng Nappa’.

“Sekarang ada Anggota DPRD yang jago tawwa seperti Bruce Lee,” kata Daeng Tompo’.

“Maksudnya jago berkelahi?” tanya Daeng Nappa’.

“Jago main double stick seperti Bruce Lee,” jawab Daeng Tompo’.

“Jadi main fillm ki juga?” tanya Daeng Nappa’ sambil tersenyum.

“Bukan main film, tapi main double stick seperti adegan di film,” jawa Daeng Tompo’.

“Maksudta’ dia atraksi double stick?” tanya Daeng Nappa’.

“Bukan atraksi, tapi ini kejadian nyata. Napukulki temanna sesama Anggota DPRD di Kantor DPRD,” papar Daeng Tompo’.

“Hebatna tawwa,” kata Daeng Nappa’.

“Makanya kubilang tadi ada Anggota DPRD yang jago tawwa seperti Bruce Lee,” kata Daeng Tompo’ sambil tersenyum.

“Maksudnya, berkelahi di Kantor DPRD?” tanya Daeng Nappa’.

“Begitumi barangkali. Mungkin emosi dan langsung nakasi’ keluar double stick na, baru napukulki temanna pakai double stick,” kata Daeng Tompo’.

“Jadi kenapami itu temanna?” tanya Daeng Nappa’.

“Langsung beng dibawa ke rumah sakit, baru itu Anggota DPRD yang memukul langsung pergi ke Kantor Polres mengamankan diri,” tutur Daeng Tompo’.

“Berarti bertambahmi ini syarat menjadi calon Anggota DPRD,” kata Daeng Nappa’.

“Syarat apa?” tanya Daeng Tompo’.

“Harus jago berkelahi,” jawab Daeng Nappa’ sambil tersenyum.

“Dan kalau bisa jago juga main double stick,” timpal Daeng Tompo’ sambil tertawa dan keduanya pun tertawa-tawa. (asnawin)    

-----

@TettaTompo

Selasa malam, 04 Mei 2021

FIKIH ZAKAT. Direktur Ma’had Al-Birr Unismuh Makassar, Dr H Lukman Abdul Samad Lc, mengisi Kajian Tarjih Fikh Zakat, di Masjid Subulussalam Al-Khoory Kampus Unismuh Makassar, Selasa, 04 Mei 2021. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)
 




-----------

Selasa, 04 Mei 2021

 

 

Orang Yang Rajin Bersedekah akan Bersih Jiwanya

 

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Zakat secara bahasa artinya tumbuh, bertambah, berkah, bersih. Zakat tidak mengurangi harta, tapi malah akan bertambah, karena di sana ada berkah. Orang yang membayar zakat disebut muzakkih.

Infaq artinya memberikan sesuatu kepada orang lain, termasuk kepada masjid. Orang yang berinfaq disebut munfiq. Sadaqah artinya benar. Orang yang rajin bersedeqah berarti imannya benar. Orang yang bersedekah disebut musaddiq.

“Orang yang rajin berzakat, berinfaq, dan bersedekah akan bersih jiwanya, bersih hartanya, sehingga hartanya berkah, hidupnya berkah,” kata Direktur Ma’had Al-Birr Unismuh Makassar, Dr H Lukman Abdul Samad Lc, pada acara Kajian Tarjih Fikh Zakat, di Masjid Subulussalam Al-Khoory Kampus Unismuh Makassar, Selasa, 04 Mei 2021.

Dia mengatakan, iman seseorang perlu diuji dan ujian itu antara lain melalui zakat, infaq, dan sadaqah. Sedekah tidak selalu berupa materi, tapi banyak yang tidak berupa materi, bahkan senyum juga bisa menjadi sedekah.

“Zakat, infaq, dan sadaqah, jika dikelola dengan baik dapat mengatasi kemiskinan,” kata Lukman.

Kajian tarjih dihadiri dosen, karyawan, dan mahasiswa Unismuh Makassar. Kajian tarjih diadakan setiap hari kerja selama bulan Ramadhan, sesudah shalat lohor secara berjamaah.

Sekretaris Pengurus Masjid Subulussalam Al-Khoory Kampus Unismuh Makassar, Muhammad Rizal, kepada wartawan mengatakan, selain Lukman Abdul Samad, kajian tarjih juga diisi secara bergantian oleh Dr Abbas Baco Miro Lc MA (Ketua Prodi Komunikasi Penyiaran Islam / KPI, Fakultas Agama Islam, Unismuh Makassar), dan Dr Ilham Muchtar Lc MA (Ketua Prodi Ahwal Syakshiyah, FAI, Unismuh Makassar). (win)

----

Baca juga:



KADO RAMADHAN. Wakil Rektor III Unismuh Makassar, Dr Muhammad Thahir (paling kanan) foto bersama Wakil Ketua Badan Pengurus LazisMu Sulsel, Dr H Rahim Razak, seusai penyerahan paket Kado Ramadhan, di Kampus Unismuh Makassar, Selasa, 04 Mei 2021. (Foto: Nasrullah Rahim)





------------ 

Selasa, 04 Mei 2021

 

 

LazisMu Sulsel Salurkan 129 Paket Kado Ramadhan ke Unismuh Makassar

 

 

MAKASAR, (PEDOMAN KARYA). Lembaga Amal Zakat, Infaq, dan Sadaqah Muhammadiyah (LazisMu) Sulsel menyalurkan 129 paket bingkisan Kado Ramadhan kepada Unismuh Makassar, Selasa, 04 Mei 2021. Paket Ketahanan Pangan tersebut, terdiri atas beras 5 kg, gula 1 kg, sirup, teh, minyak, dan susu.

Bingkisan diserahkan secara simbolis oleh Wakil Ketua Badan Pengurus LazisMu Sulsel, Dr H Rahim Razak, kepada Wakil Rektor III Unismuh Makassar, Dr Muhammad Thahir, disaksikan Wakil Ketua Muhammadiyah Sulsel sekaligus Koordinator LazisMu Sulsel, Dr KH Mustari Bosra, di Kampus Unismuh Makassar.

Rahim Razak mengatakan, melalui penyaluran paket ketahanan pangan ini, diharapkan akan lebih mendekatkan LazisMu Sulsel kepada masyarakat. Ini diharapkan dapat mengedukasi terkait pentingnya kepedulian kepada sesama. 

“Paket yang disalurkan ini nilainya Rp150.000 per paket. Kami berharap selanjutnya nilainya bertambah sehingga manfaat yang dirasakan lebih besar. Semoga juga dengan ini LazisMu Sulsel bisa tetap menjadi lembaga yang dapat dipercaya oleh semua pihak,” kata Rahim Razak.

Sumber pendanaan kegiatan, katanya, berasal dari zakat, Infaq, dan sedekah dari para donatur yang telah mempercayakan dananya untuk disalurkan oleh LazisMu Sulsel.

 

Untuk Tenaga Kebersihan dan Keamanan

 

Wakil Rektor III Unismuh Makassar, Muhammad Thahir, menyampaikan terimakasih kepada LazisMu Sulsel atas terlaksananya kembali Program Kado Ramadhan. Ia menyebut, selama ini, LazisMu Sulsel memang menjalin kerja sama dengan Unismuh Makassar.

Thahir menjelaskan paket ini akan diserahkan kepada tenaga pengamanan, tenaga kebersihan, pengelola taman, mantan karyawan, petugas di Asrama KH Djamaluddin Amien, staf di PT Surya Pangan Indonesia di Bollangi, dan petugas di pesantren Unismuh Makassar di Bissoloro.

“Kami upayakan kedepan dengan rezki yang diberikan Allah SWT, nilai paket akan ditingkatkan nilai dan jumlah paketnya,” kata Thahir.

Penerima paket Ketahanan Pangan ini berjumlah 596 orang, berdasarkan data yang telah diinput. Selain Unismuh Makassar, pihak penerima lainnya adalah PT Indoprima sejumlah 30 paket, dan Poltekkes Muhammadiyah Makassar sejumlah 21 paket. (zak)

 

RELAWAN PAJAK. Kepala Seksi Ekstensifikasi dan Penyuluhan di KPP Pratama Makassar, Taufik, menyerahkan piagam penghargaan relawan pajak kepada Ketua Tax Center sekaligus Dosen Prodi Perpajakan dari Polibos Makassar, Veronika Sari, di Kampus Polibos Makassar, Selasa, 04 Mei 2021. (ist)
 




-----------

Selasa, 04 Mei 2021

 

 

Politeknik Bosowa Terima Penghargaan Relawan Pajak dari KPP Pratama Makassar

 

 

MAKASAR, (PEDOMAN KARYA). Tax Center Politeknik Bosowa (Polibos) Makassar menerima Piagam Penghargaan Relawan Pajak 2021 dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Makassar.

Piagam penghargaan diserahkan oleh Kepala Seksi Ekstensifikasi dan Penyuluhan di KPP Pratama Makassar, Taufik, kepada Ketua Tax Center sekaligus Dosen Prodi Perpajakan dari Polibos Makassar, Veronika Sari, di Kampus Polibos Makassar, Selasa, 04 Mei 2021.

Taufik mengatakan, Polibos Makassar diberi piagam penghargaan atas keterlibatannya dalam kegiatan relawan pajak sebagai bagian dari upaya peningkatan kepatuhan wajib pajak, serta perluasan peran pihak ketiga dalam melakukan edukasi perpajakan di KPP Pratama Makassar, khususnya dalam kegiatan penerimaan SPT Tahunan.

“Demikian pun dalam kegiatan asistensi pelaporan SPT Tahunan secara tatap muka. Kami di KPP Pratama Makassar sangat terbantu dengan keterlibatan aktif teman-teman Relawan Pajak Politeknik Bosowa yang dengan penuh semangat memberikan asistensi langsung kepada Wajib Pajak yang melaporkan SPT Tahunannya di beberapa lokasi, mulai dari Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Kantor Dinas Pendidikan Nasional Kota Makassar, sampai ke Pusat Perbelanjaan seperti Mall Panakkukang dan Mall Nipah,” papar Taufik.

Ia juga berharap sinegritas antara KPP Pratama Makassar dengan Polibos dapat terus ditingkatkan tidak hanya dalam kegiatan SPT Tahunan tetapi juga dalam kegiatan-kegiatan lain seperti Tax Goes To School, Tax Goes To Campus, dan Pajak Bertutur.

Veronika juga menyampaikan pengalaman langsung mahasiswa dan dosen yang bertugas sebagai relawan pajak, tidak hanya fokus pada asistensi wajib pajak, tetapi juga meningkatkan pengembangan kapasitas diri.

Selain melakukan asistensi kepada wajib pajak, relawan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari petugas pajak di KPP Pratama Makassar.

“Kami sebagai tax center berharap peran relawan pajak bisa lebih luas lagi. Jika pada saat ini peran relawan pajak adalah memberikan asistensi pengisian SPT Tahunan kepada wajib pajak yang berlangsung di awal tahun, ke depan peran relawan pajak kami harapkan bisa dilibatkan pada saat edukasi perpajakan seperti ke kelompok UMKM dan perusahaan di sekitar lokasi kampus Politeknik Bosowa, bendaharawan pemerintah, asosiasi usaha di kota Makassar, lembaga, yayasan, tempat ibadah, dan lain-lain,” tutur Veronika.

Dia menambahkan, peran relawan pajak yang semakin meningkat akan menjadi nilai tambah bagi mahasiswa dan  menambah kontribusi Program Studi Perpajakan terhadap masyarakat. (ima)