Abdi Satria, Wartawan Olahraga Berpengalaman Internasional Nan Rendah Hati

Selama kurang lebih 31 tahun menjadi wartawan olahraga, Abdi Satria telah meliput berbagai event olahraga nasional dan internasional. Tahun 1994, Abdi meliput event sepakbola internasional Piala Dunia di Amerika Serikat, dan juga event sepakbola Piala Toyota di Jepang (Piala Toyota ketika itu mempertemukan Juara Piala Eropa versus Juara Piala Amerika Latin).
 




-----

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 23 Juli 2022

 

In memoriam Abdi Satria (1):

 

 

Abdi Satria, Wartawan Olahraga Berpengalaman Internasional Nan Rendah Hati

 

 

Oleh: Asnawin Aminuddin

(Wartawan)

 

 

“Saya dan keluarga menyampaikan duka cita mendalam atas berpulangnya saudaraku Abdi Satria Aspar, kiranya Allah SWT menerima amal kebaikan semasa hidup. Kepada keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.”

Demikian kalimat yang diposting Zulkarnain Hamson (wartawan senior dan akademisi) di grup WhatsApp (WA), SATUPENA Sulsel, Jumat malam, 22 Juli 2022, pukul 20.43 Wita.

“Abdi Satria meninggal?” tanya saya.

Zulkarnain Hamson kemudian membalas dengan mengirim foto Abdi Satria bersama pemain timnas sepakbola Argentina, Carlos Teves, disertai kalimat, “Masih di UGD Akademis.”

Saya kemudian membuka grup WA, Media Koni Sulsel, dan ternyata Agus Nyomba (wartawan Sindo News), sudah memposting gambar almarhum Abdi Satria di Rumah Sakit Akademis Makassar, pada pukul 20.20 Wita, dengan disertai kalimat, “Turut berdukacita atas meninggalnya saudara kita Abdi Satria di RS Akademis. Semoga husnul khotima. Jenazah akan disemayamkan di Kompleks Unhas Jalan Sunu Makassar.”

Setelah itu, saya melihat, pemberitaan dan ucapan duka cita banyak diposting di beberapa grup WA, begitu pun di akun Facebook, Abdi Satria.

Salah satu postingan di Grup WA, SATUPENA Sulsel, yang sangat menyentuh hati saya, ditulis oleh Aspar paturusi, ayahanda dari almarhum Abdi Satria. Pesan itu diposting pada Jumat malam 22 Juli 2022, pukul 20.53 Wita.

“Kemarin dulu dia nelpon pagi-pagi. Kami ngobrol lama. Tentang banyak hal. Itu jarang kami lakukan. Biasanya lewat WA. Mungkin dia pamit,” tulis Aspar Paturusi.

Seniman dan sastrawan Sulsel, Bahar Merdu, di Grup WA FOSAIT, menulis, “Selamat pulang sahabat kami jurnalis Andi Abdi Satria bin Andi Sofyan Paturusi ... Al Fatihah. Aamiin YRA. (Anak Pak Aspar)”

Innalillahi wainna ilaihi raji’un. Semoga segala amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT dan dosa-dosanya diampuni, serta kuburnya dilapangkan dan diterangi, amin…..

Mengapa begitu banyak orang yang memberitakan dan juga mengucapkan belasungkawa disertai do’a untuk almarhum Abdi Satria? Jawabannya, karena beliau orang baik dan luas pergaulannya, serta karya-karya jurnalistiknya banyak. Abdi Satria juga banyak berbagi ilmu melalui pelatihan-pelatihan jurnalistik.


Jadi Wartawan Sejak 1991

 

Abdi Satria sudah menjadi wartawan sejak tahun 1991. Waktu itu, ia masih kuliah pada Program Studi (S1) Ilmu Komunikasi, Fisip, Unhas. Abdi pertama kali jadi wartawan di Harian Fajar Makassar (1991-1992), kemudian pindah ke Tabloid BOLA (1992-1994).

Selanjutnya pindah ke Tabloid GO (1994-2008), kemudian kembali ke Makassar dan menjadi wartawan Harian Ujungpandang Ekspres (2008-2009). Setelah bergabung kembali ke Tabloid BOLA (2010-2014), dan terakhir di Bola.com, dan Nusakini.com.

Total, Abdi Satria menjadi wartawan selama 31 tahun, dan tetap menjadi wartawan hingga akhir hayatnya dalam usia 52 tahun. Ia benar-benar wartawan sejati.

Pria kelahiran Makassar, 18 Mei 1970, meninggalkan seorang istri, Anik Armadani, dan tiga orang anak, yakni Ahmad Rajendra Paturusi, Ahmad Latando Paturusi, dan Azzahra Siti Fatima.

Dalam curriculum vitae yang dikirimkan kepada saya pada Januari 2021, Abdi menulis jenjang pendidikan formalnya yakni dimulai dari SDN Tanggul Patompo Makassar, SMPN 1 Makassar, SMAN 1 Makassar, dan Fisip Unhas Makassar.

 

Pengalaman Internasional

 

Selama kurang lebih 31 tahun menjadi wartawan olahraga, Abdi Satria telah meliput berbagai event olahraga nasional dan internasional.

Tahun 1992, ia meliput putaran sepakbola Final Piala Perserikatan, dan juga Kejurnas Bulutangkis. Tahun 1993, ia meliput Kejuaran Panahan Asia di Makassar, Pekan Olahraga Nasional (PON) di Jakarta.

Pada tahun yang sama, Abdi Satria juga sempat wawancara khusus dengan KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (mantan Presiden RI), Hamzah Haz (mantan Wapres RI), Ali Sadikin (mantan Gubernur DKI Jakarta) dan Maladi (mantan Menteri Penerangan, mantan Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga, dan juga mantan Ketua Umum PSSI).

Tahun 1994, Abdi meliput event sepakbola internasional Piala Dunia di Amerika Serikat, dan juga event sepakbola Piala Toyota di Jepang (Piala Toyota ketika itu mempertemukan Juara Piala Eropa versus Juara Piala Amerika Latin).

Tahun 1995, ia meliput Pra Olimpiade 1996 di Hongkong. Tahun 1996, meliput PON di Jakarta, Piala UEFA di Prancis, Piala Champions di Italia, meliput kegiatan PSSI Baretti di Italia.

Pada tahun yang sama, Abdi melakukan wawancara khusus dengan Franz Beckenbauer (mantan Pelatih Timnas Jerman), Zinedine Zidane (pemain terbaik Piala Dunia 2006 asal Perancis, serta pelatih klub sepakbola Real Madrid, Spanyol), Enrico Chiesa (mantan pemain Timnas Italia), dan Louis van Gaal (mantan pelatih Timnas Belanda).

Tahun 1997, Abdi meliput Piala Afrika di Afrika Selatan, SEA Games di Jakarta, serta Kejuaraan Gulat Asia di Malaysia.

Tahun 2001, ia meliput Undian Piala Dunia 2002 di Busan, Korea Selatan, serta wawancara khusus dengan Michel Platini (Pemain Terbaik Eropa 1983, 1984, 1985, mengantarkan Timnas Perancis meraih juara Piala Eropa Tahun 1984, serta mantan Presiden UEFA), Johan Cruyff (mantan pemain dan pelatih Timnas Belanda, serta Pemain Terbaik Dunia pada musim 1970/71 dan 1972/73) dan Rudi Voeller (mantan pemain dan pelatih Timnas Jerman).

Tahun 2004, Abdi Satria meliput pesta olahraga Olimpiade di Athena, dan terakhir tahun 2005, meliput Final Piala Tiger di Singapura.

 

Komentator Sepakbola

 

Selain menjadi wartawan olahraga, Abdi Satria juga pernah menjadi Komentator Sepakbola di TPI, La Tivi, Anteve, dan Mustang FM. Abdi juga pernah menjadi penulis lepas di Harian Fajar dan Harian Tribun Timur Makassar, Penyiar Radio Suara Celebes FM, serta menjadi narasumber pelatihan jurnalistik di Makassar. (bersambung)


-----

Artikel berikutnya:

Abdi Satria, Anggota Biasa PWI Sejak 1997

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama