Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » » » » Datu Museng Serahkan Ajimatnya kepada Karaeng Galesong


Pedoman Karya 6:48 AM 0

“Ambillah ajimat ini, dan laksanakan niat yang terkandung dalam hati saudara. Sekaranglah saatnya aku harus menunaikan janji...”

Ketika ajimat sudah di tangan, Karaeng Galesong menikam Datu Museng dengan tombak. Dadanya tembus, dan ia jatuh terkulai disambar maut, dijembah mati. Maka bersoraklah para serdadu kompeni dan lasykar tubarani kawan Tumalompoa karena gembira.

 



------

PEDOMAN KARYA

Jumat, 05 Agustus 2022

 

Datu Museng dan Maipa Deapati (43):

 

 

Datu Museng Serahkan Ajimatnya kepada Karaeng Galesong

 

 

Oleh: Verdy R. Baso

(Mantan Wartawan Harian Pedoman Rakyat)

 

 

Ketika ia menengadah ke cakrawala, dilihatnya matahari telah jauh condong ke barat. Ia yakin ashar telah tiba. Untuk kembali ke rumah mendirikan sembahyang, rasanya tak mungkin lagi. Musuh telah mengepungnya ketat sekali dari jarak dekat. Pertahanan musuh telah berlapis-lapis. Tak ada lagi celah yang dapat diterobos.

Dengan menyebut nama Tuhan berkali-kali, ia berdoa dan memohon ampun karena tak dapat melaksanakan shalat ashar sebagaimana mestinya, dihalang manusia-manusia bengis yang akan merampas nyawanya secara paksa.

Diniatkannya dalam hati puja-puji kepada Tuhan, semoga kelalaiannya ini dapat dimaafkan. Setelah itu ia mulai menembaki lagi musuh yang kian maju. Mereka nampaknya sudah bertekad tak akan memberi ampun panglima perang Sumbawa itu yang kini bertahan beberapa puluh meter saja di depannya.

Mereka yakin, Datu Museng akan kehabisan peluru sehingga makin mudah menghancurkannya. Ya, mereka juga yakin, Datu Museng adalah manusia biasa. Kendati sakti, tentu akan kehabisan tenaga jika tak diberi kesempatan melepaskan lelah.

Oleh sebab itu, ketika bedilnya tak meletup lagi karena kehabisan peluru, dengan bersorak gemuruh, serdadu-serdadu kompeni bersama lasykar tubarani kawan Tumalompoa, serentak berdiri dari tempat-tempat pertahanan mereka, lalu menyerbu gegap-gempita laksana banjir dari hulu sungai yang dahsyat menerjang dan menumbangkan apa saja yang menghalanginya.

Beberapa saat saja Datu Museng sudah dikerubuti lagi. Tubuhnya yang sudah hampir-hampir telanjang karena baju koyak-koyak, kini menjadi sasaran terbuka tikaman keris dan tombak yang membadai. Kendati ia mempertahankan dirinya sekuat tenaga dengan menerjang dan menikam, musuh tak mau lari lagi.

Mayat terus-menerus jatuh. Sepuluh, dua puluh, tiga puluh, empat puluh..., tapi mereka terus menghantamnya. Bedil tak lagi ditembakkan, tetapi digunakan memukuli kepala panglima perang sakti itu.

Akhirnya, perlawanan Datu Museng perlahan-lahan mengendur. Ia amat lelah, karena tak diberi kesempatan melepaskan letih. Namun la merasa puas, telah membalaskan dendam isterinya, seperti yang dijanjikannya.

Sekonyong-konyong ia sadar, hari berangsur gelap. Magrib telah di ambang pintu. Batas waktu janjinya untuk menyongsong isterinya telah tiba. Dan benarlah, kini terbentang di hadapannya samudera mega berpancarkan sinar keindahan gilang-gemilang.

Maipa Deapati, intan zamrud kesayangannya telah datang menggapai, mengulurkan tangan mengajak berjalan seiring ke tempat yang lama dicita-citakannya. Didorong keyakinan yang kuat, letih cinta pada janji dan sumpah terhadap kekasih di seberang -- di alam baqa ia segera mengambil keputusan terakhir, menanggalkan ajimat penjaga diri dari tubuh. Kemudian digapainya Karaeng Galesong dan menyerahkan ajimat itu padanya.

“Ambillah ajimat ini, dan laksanakan niat yang terkandung dalam hati saudara. Sekaranglah saatnya aku harus menunaikan janji...”

Ketika ajimat sudah di tangan, Karaeng Galesong menikam Datu Museng dengan tombak. Dadanya tembus, dan ia jatuh terkulai disambar maut, dijembah mati. Maka bersoraklah para serdadu kompeni dan lasykar tubarani kawan Tumalompoa karena gembira.

Datu Museng yang telah membunuh ratusan teman-teman mereka, kini sudah tewas. Karaeng Galesong kemudian memisahkan kepala Datu Museng dari tubuhnya, lalu diarak keliling kota, diikuti serdadu dan lasykar tubarani sambil bersorak gembira atas kemenangan ini. Mereka bersukaria, menyanyi sepanjang jalan:

 

Sampailah kini apa di angan

Bahagia sudah hati tertawan

Sampailah pula cita harapan

Bahagia selalu sepanjang jaman

 

Tumalompoa dan Jurubahasa girang tak terkira ketika Karaeng Galesong datang menghadap dengan seluruh lasykar sambil membawa kepala panglima perang Sumbawa itu. Tercapailah sudah satu dari dua keinginannya.

Keinginan yang kedua ialah menguasai isteri Datu Museng yang cantik jelita itu, kini teramat mudah untuk dicapai. Bukankah penghalang satu-satunya hanya Datu Museng seorang? Sekarang penghalang itu sudah disingkirkan. Jalan yang akan dilalui sudah lempang.

Tanpa dapat menahan keinginannya, Tumalompoa memerintahkan Jurubahasa cepat-cepat ke rumah Datu Museng, membawa usungan indah permai, menjemput Maipa Deapati. Tuan Jurubahasa girang alang kepalang menerima perintah itu. Rasa bahagia memenuhi rongga dadanya karena mendapat kesempatan menerima puji-sanjungan dari I Tuan Tumalompoa. Apalagi jika diingat-ingat, dialah yang pertama-tama akan menyaksikan dari dekat kecantikan wanita yang tersohor itu.

“Ah, aku akan memandang puteri molek itu sepuas-puasnya sebelum kuantar ke hadapan Tumalompoa,” katanya di dalam hati.

Ia berjalan bergegas-gegas, menirukan lenggang Tuan Tumalompoa yang perkasa. Beberapa pengiring dan sebarisan pengusung berpakaian indah, mengikutinya dari belakang. Setiba di depan rumah yang dituju, ia memerintahkan para pengiring menanti di anak tangga terbawah.

Ia pun melangkah menaiki tangga dengan gerak yang dibuat sedemikian rupa agar indah kelihatan, supaya Maipa memandangnya sebagai lelaki sopan, gagah dan terhormat. Di pelataran rumah, tiada seorang manusia pun yang dijumpainya.

Ia melanjutkan langkahnya masuk ruang tengah. Di sana ia berhenti sejenak, menengok ke kiri dan kanan. Akhirnya matanya tertumbuk di tiang tengah, di atas sebuah kursi. Di sana, matanya terpesona beberapa jenak. Betapa tidak, di kursi itulah Maipa sedang duduk termenung merunduk memejamkan mata. Lehernya dibebat dengan kain merah.

“Aduh, sungguh indah karunia Tuhan kepada perempuan ini,” pikirnya. (bersambung)


----

Kisah sebelumnya:

Karaeng Nyikko dan Karaeng Mangemba Tewas, Karaeng Galesong Melarikan Diri

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply