Hikayat Gajah Duduk: Cermin Kekuasaan dan Kejelataan


Hikayat Gajah Duduk dipentaskan kembali pada 18 Oktober 2025 (hingga 21 Oktober 2025) di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Nusa Tenggara Barat (NTB). Menjadi momentum penting dalam perjalanan teater eksperimental Indonesia. (Foto: Agus K. Saputra) 


------

PEDOMAN KARYA

Ahad, 19 Oktober 2025

 

Hikayat Gajah Duduk: Cermin Kekuasaan dan Kejelataan

 

Catatan Agus K Saputra

 

Hikayat Gajah Duduk dipentaskan kembali pada 18 Oktober 2025 (hingga 21 Oktober 2025) di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Nusa Tenggara Barat (NTB). Menjadi momentum penting dalam perjalanan teater eksperimental Indonesia.  

Hadir dalam pentas malam pertama ini Koordinator Tim Percepatan Pembangunan Gubernur NTB Adhar Hakim, pegiat budaya Dr. Salman Alfarisi, HL Agus Fathurrahman, pegiat teater Kongso Sukoco, R. Eko Wahono, Winsa Le Embrio, pegiat musik Ary Daryanto, Sidzia Madvox, pegiat sastra Gottar Parra, Akademisi Prof. Dr. H. Nuriadi SS MHum, Dr. Agus Purbathin Hadi, dan pemerhati sosial politik NTB Nurdin Ranggabarani.

Setelah hampir dua dekade, sejak pementasan perdananya pada 2009 (disutradarai oleh Saefullah Sapturi), Teater Kamar Indonesia menampilkan lagi karya mendiang Imtihan Taufan ini. Bukan hanya sebagai bentuk nostalgia, melainkan sebagai refleksi sosial yang tajam terhadap kondisi kekuasaan dan moralitas publik dewasa ini.

Dukungan penuh Taman Budaya NTB di bawah kepemimpinan Lalu Suryadi Mulawarman, yang juga seorang koreografer ternama pimpinan Saksak Dance, patut dicatat.

Hal ini semakin mengentalkan proses dalam bingkai keseriusan berkesenian. Taman Budaya NTB hadir sebagai katalisator penting dalam membangun atmosfir produksi yang berkelas.

Dengan memasukan dan menyatukan unsur tradisi Rudat—sebuah kesenian rakyat yang sarat nilai religius dan kolektivitas—pementasan Hikayat Gajah Duduk melahirkan sintesis artistik antara bentuk tradisional dan kritik modern.

Teater Kamar Indonesia, di bawah pimpinan Naniek I. Taufan, memperlihatkan kedewasaan estetik dan kedisiplinan kreatif dalam menggarap naskah yang sarat simbol sosial tersebut.

“Menyiapkan pertunjukan teater itu bukan sekadar menghafal naskah,” ujar Naniek, “tetapi proses yang komprehensif—artistik dan non-artistik.”

Pernyataan ini menjadi fondasi filosofis pementasan Hikayat Gajah Duduk, yang tidak sekadar menampilkan lakon, melainkan juga membangun kesadaran kritis bagi penontonnya.

Dalam konteks Indonesia, teater kerap berfungsi sebagai medium perlawanan simbolik terhadap kekuasaan yang timpang. Hikayat Gajah Duduk melanjutkan tradisi panjang itu.

Dengan humor, absurditas, dan satir, naskah ini menggambarkan bagaimana kekuasaan sering kali terperangkap dalam paradoks: di satu sisi mengklaim diri sebagai pengayom rakyat, namun di sisi lain menumpuk kebusukan moral dan politik di balik “kursi mewah” yang menjadi lambang statusnya.

Tokoh Kalangkabo, sang pejabat yang terjerat “bungkusan penuh tambalan”—simbol dosa kekuasaan yang membusuk—menjadi personifikasi dari sistem birokrasi yang korup dan feodal. Ia ditemani Karta, staf yang licik namun jenaka, yang menguasai retorika pengelabuan. Dialog mereka membuka naskah dengan nada ironis:

“Kain merah dari sumpah palsu, kain putih dari doa semu, tak apa sajadah jadi alas bangkai, asal kekuasaan tetap utuh sampai usai.”

Bait ini menyingkap realitas politik yang banal: moralitas bisa dikompromikan demi kekuasaan. Sementara itu, hadirnya Teriak Mardika, tokoh rakyat yang membawa suara perlawanan, menandai munculnya kesadaran kolektif terhadap kebusukan yang selama ini disembunyikan.

Ia datang “bukan membawa senjata, tapi membawa tabuh dan tanya”—menegaskan bahwa resistensi rakyat bisa muncul lewat kesenian, suara, dan solidaritas, bukan kekerasan.

Salah satu simbol paling kuat dalam naskah ini adalah bungkusan besar penuh tambalan yang diletakkan di atas kursi Kalangkabo. Bungkusan itu terdiri dari sobekan surat, kuitansi, kain batik, bahkan kain kafan—perpaduan antara hal-hal duniawi, administratif, dan spiritual yang telah terkontaminasi.

Ia menjadi metafora dari tumpukan dosa birokrasi: dokumen korupsi, janji politik, dan kepura-puraan religius yang dijahit menjadi satu paket kebusukan.

Kalangkabo mencoba menutupi bungkusan itu dengan cara paling klasik: duduk di atasnya. Tindakan ini bukan hanya literal tetapi simbolik. Ia menggambarkan bagaimana penguasa berupaya menutupi aib dengan kekuasaan itu sendiri. Namun semakin lama ia duduk, bau amis makin kuat—menandakan bahwa kebusukan moral tidak bisa disembunyikan selamanya.

Dalam konteks sosial-politik Indonesia, simbol ini terasa relevan: korupsi, nepotisme, dan penyalahgunaan wewenang kerap “terbungkus rapi” di bawah formalitas jabatan.

Dialog antara Kalangkabo dan Karta tentang bungkusan itu bahkan menyerupai ironi Kafkaesque:

“Sudah sepuluh kali dibuang ke tong sampah belakang kantor—balik lagi!

Dikirim ke Dinas Perizinan—malah makin besar!

Dikirim ke oposisi—besoknya nongol lagi dengan sobekan kuitansi baru!”

Dalam tataran simbol, “bungkusan” adalah siklus dosa struktural yang tak bisa dihapus hanya dengan pergantian pejabat atau rezim. Ia adalah akumulasi kesalahan kolektif yang menuntut penyadaran kultural.

 

Tradisi Rudat sebagai Medium Kritik

 

Eksperimen yang dilakukan dengan memasukkan unsur seni tradisi Rudat merupakan terobosan artistik penting. Rudat, sebagai kesenian tradisional Lombok, identik dengan nilai-nilai spiritual Islam, kedisiplinan, dan kebersamaan.

Dalam pementasan ini, Rudat tidak hanya berfungsi sebagai musik pengiring, tetapi juga sebagai bahasa kritik yang halus dan simbolik.

Tabuhan rebana dan nyanyian rakyat digunakan untuk menegaskan dinamika antara kekuasaan dan rakyat. Ketika rakyat mulai “menari dan menabuh rebana sambil bernyanyi dengan beringas,” itu menjadi tanda kebangkitan kesadaran kolektif. Bunyi tabuhan yang awalnya religius berubah menjadi instrumen protes sosial.

Dengan demikian, Rudat dalam konteks ini bukan sekadar warisan budaya, melainkan senjata estetika yang menembus tembok kekuasaan. Penggabungan tradisi dengan kritik sosial ini menciptakan lapisan makna yang dalam: bahwa spiritualitas dan budaya lokal bisa menjadi alat resistensi terhadap struktur kekuasaan yang menindas.

Teater Kamar Indonesia, melalui tangan Syahirul Alim sebagai sutradara dan adaptator naskah, berhasil menjadikan Rudat bukan sekadar unsur estetika, tetapi juga etika pertunjukan.

Babak-babak selanjutnya dari Hikayat Gajah Duduk menyingkap lapisan lain dari kritik sosialnya: hubungan antara kekuasaan, media, dan publik. Adegan masuknya Juru Kabar—dua wartawan yang datang untuk menginvestigasi “bau tak sedap di balik kursi sedap”—menjadi potret satir dari jurnalisme yang ambivalen.

Mereka tampak idealis, namun mudah digoyahkan oleh amplop dan pesona istri pejabat, Nyonya Eksisa.

Eksisa dan asistennya, Martha, membawa dimensi baru: representasi kemunafikan sosial di lingkaran elite. Mereka berbicara dengan gaya glamour, memamerkan kosmetika dan fashion sambil mengaku “meresapi penderitaan rakyat.” Satire mencapai puncaknya ketika Eksisa berkata:

“Bayangkan kalau saya tampil kusam dan lusuh di depan rakyat? Bukankah itu penghinaan pada demokrasi?”

Dialog ini menguliti absurditas kelas sosial yang membungkus kepalsuan moral di balik citra kemanusiaan. Demokrasi yang sejatinya ruang kesetaraan berubah menjadi panggung pertunjukan kosmetik, di mana empati dikomodifikasi menjadi citra publik.

Sementara itu, interaksi Kalangkabo dan Karta dengan media menggambarkan bagaimana kekuasaan berusaha mengontrol narasi. Mereka tidak melawan secara frontal, tetapi mengelola persepsi—“upload ke kanal resmi, kasih judul Nyanyian Hati Pemimpin, kolom komentar disaring dulu sebelum tayang.”

Ini sindiran tajam terhadap politik pencitraan era digital, di mana kejujuran sering kali dikorbankan demi like, viewer, dan citra publik.

Puncak dramatik Hikayat Gajah Duduk terjadi ketika rakyat yang dipimpin Teriak Mardika merangsek ke panggung, menantang kekuasaan. Mereka tidak membawa senjata, tetapi membawa suara, tabuhan, dan nyanyian. Gerakan mereka bukan lagi bentuk protes destruktif, melainkan ekspresi kesadaran kultural.

Rakyat “menari dalam rusuh”—sebuah metafora bahwa perlawanan bisa lahir dari kebersamaan dan kreativitas.

Ketika bungkusan akhirnya terbuka dan mengeluarkan asap, simbol kebusukan kekuasaan terungkap. Kalangkabo panik dan berusaha menutupi dengan alasan “itu warisan, bukan salah kami.” Namun Teriak Mardika menjawab dengan tegas:

“Warisan atau alasan, kami sudah tak bisa mencium bedanya! Kursi itu bukan milik satu orang, tapi milik satu bangsa!”

Di sini, naskah mencapai kesimpulan moralnya: rakyat bukan lagi objek politik, tetapi subjek sejarah. Kursi kekuasaan tidak sakral, melainkan ruang tanggung jawab.

Dengan menutup adegan lewat nyanyian kolektif rakyat, Syahirul Alim menyuguhkan bentuk teater rakyat yang sekaligus menjadi manifestasi etika sosial.

 

Teater Kamar dan Etika Penciptaan

 

Naniek I. Taufan menegaskan bahwa Teater Kamar Indonesia bukan proyek kesenian, melainkan karya seni. Pandangan ini tampak jelas dalam produksi Hikayat Gajah Duduk. Kedisiplinan, riset, dan pemilihan elemen tradisi bukan keputusan spontan, tetapi hasil dari pemahaman mendalam terhadap konteks sosial-budaya.

“Berkarya selama 32 tahun, Teater Kamar Indonesia berproses untuk melahirkan sebuah karya seni, bukan mengerjakan proyek kesenian,” ujar Naniek.  “Harga diri karya juga harus dipertimbangkan. Maka target Teater Kamar Indonesia selanjutnya adalah melangkah jauh. Untuk itu, butuh keseriusan, tidak bisa main-main. Itu butuh waktu.”

Ini pun tampak jelas dalam produksi Hikayat Gajah Duduk, setiap elemen artistik—dari penataan lampu oleh Bagus Livianto hingga kostum oleh Elly—menyumbang pada narasi simbolik: kemewahan panggung yang justru dikelilingi sampah, kostum penuh renda emas namun busuk secara moral, cahaya lampu yang memperlihatkan bukan keindahan, melainkan kebusukan.

Semua dirancang untuk menciptakan “estetika paradoks”—bahwa kemegahan sering kali menyembunyikan kehampaan.

Dalam konteks produksi, Naniek memegang teguh prinsip serius dalam berproses. Artinya, kesenian tidak boleh berhenti pada hiburan. Ia harus menjadi refleksi yang menggugah kesadaran, baik bagi pelaku maupun penontonnya.

Teater Kamar Indonesia dengan demikian menjalankan fungsi ganda: sebagai ruang eksperimentasi estetika dan sebagai laboratorium moral bagi masyarakat.

Judul Hikayat Gajah Duduk sendiri menyimpan ironi. “Gajah duduk” adalah kiasan bagi kekuasaan yang besar, berat, dan lamban. Ia duduk diam, namun jejaknya merusak tanah di bawahnya.

Hikayat ini, dalam bentuk teater, menjadi alegori perjalanan bangsa yang terjebak dalam sirkulasi janji, korupsi, dan kemunafikan sosial. Namun di balik itu, masih ada harapan—disimbolkan lewat nyanyian rakyat dan tabuhan Rudat yang tak pernah padam.

Pementasan 2025 ini bukan sekadar peristiwa artistik, tetapi juga pernyataan politik kultural: bahwa seni tradisi mampu berbicara dengan bahasa zaman, menelanjangi struktur kekuasaan, dan meneguhkan kembali harga diri rakyat.

Dalam konteks sosial Indonesia yang kian kompleks, karya seperti Hikayat Gajah Duduk menegaskan pentingnya teater sebagai ruang publik untuk mengolah luka sosial menjadi kesadaran bersama.

Sebagaimana kata Teriak Mardika dalam adegan penutupnya:

“Kami tak butuh raja baru, tapi matahari yang tak kelabu.”

Kalimat itu adalah doa, sekaligus tuntutan: agar kekuasaan tak lagi menjadi kursi mewah yang membusuk, melainkan cahaya yang menumbuhkan kehidupan. Hikayat Gajah Duduk mengingatkan bahwa di balik tawa, satire, dan absurditas, teater masih memiliki tugas paling mulia: membangunkan nurani bangsa.

Hikayat Gajah Duduk bukan hanya lakon, melainkan pernyataan budaya. Ia menghadirkan satir politik dengan pendekatan teater rakyat yang berakar pada tradisi lokal.

Melalui penggabungan antara Rudat dan teater modern, pementasan ini menunjukkan bahwa seni pertunjukan masih memiliki daya hidup yang luar biasa sebagai ruang kritik sosial.

Dalam dunia yang makin bising oleh propaganda dan pencitraan, karya semacam ini mengingatkan bahwa kebenaran sejati justru sering lahir dari panggung—bukan podium.

 

Daftar Tokoh dan Pengarah Produksi:

 

Pimpinan Produksi: Naniek I. Taufan; Penasehat Produksi: Saefullah Sapturi; Sutradara & Adaptasi: Syahirul Alim; Penata Artistik: Akmal; Penata Lampu: Bagus Livianto; Penata Kostum & Make Up: Elly; Make Up: Rinda & Team.

Pemain: Syahirul Alim, Murachiem, Kelly Jasmine Suntawe, Sumarta, Vinoe Sentanu, Zakiyudin, Nash Jauna.

Pendukung: Maestro Rudat Zakaria & Rudat Setia Budi, Mahasiswa Bastrindo FKIP Unram. Media & Disain Grafis: Tihang Aras. Karya Asli: Imtihan Taufan

 

#Akuair-Ampenan, 19-10-2025



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama