------
PEDOMAN KARYA
Kamis, 16 Oktober 2025
Mindu: Eksperimen
Budaya Lombok Ethno Fusion
Catatan Agus K
Saputra
Pada tanggal 1
Oktober 2025, dunia musik Nusantara kembali menerima warna baru dari Pulau
Lombok. Sebuah grup musik yang menamakan diri mereka Lombok Ethno Fusion (LEF)
resmi merilis singel terbarunya berjudul “Mindu.”
Lagu ini bukan
sekadar komposisi musik, tetapi merupakan pernyataan artistik tentang cara baru
menghidupkan budaya lokal dalam bahasa universal: musik. Melalui karya ini, LEF
berupaya menghadirkan perpaduan antara instrumen modern Barat dan instrumen tradisional
Lombok, menjadikannya ruang pertemuan antara tradisi dan modernitas, antara
bunyi masa lalu dan irama masa kini.
Di balik lagu
Mindu, tersimpan semangat untuk menunjukkan bahwa budaya lokal bukan hanya
warisan yang dijaga, tetapi juga sumber inspirasi yang terus bisa diperbarui.
Dengan kata lain, LEF mencoba menunjukkan bahwa identitas lokal Lombok memiliki
daya hidup yang dinamis dan relevan dalam konteks global.
Menurut penuturan
Chandra Irawan, salah satu motor penggerak grup ini, Lombok Ethno Fusion (LEF)
adalah kelompok musik yang berupaya menggabungkan instrumen Barat dengan
instrumen tradisional Lombok. Gagasan ini lahir dari kesadaran bahwa musik
tradisi tidak harus dipertentangkan dengan musik modern, tetapi justru bisa
berdialog satu sama lain.
Instrumen seperti
gendang beleq, suling bambu, saron, dan rencek diolah bersama gitar elektrik,
drum, keyboard, dan bass untuk menciptakan nuansa yang segar dan eksperimental.
Perpaduan ini bukan sekadar eksperimen bunyi, melainkan bentuk strategi kebudayaan:
bagaimana musik lokal bisa menembus telinga lintas generasi dan lintas
geografis.
Chandra menyebut
bahwa aliran yang mereka pilih adalah fusion, sebuah genre yang pada dasarnya
bersifat terbuka. Dalam fusion, tak ada batas ketat antara pop, rock, jazz,
atau etnik—semuanya bisa melebur. Itulah sebabnya LEF memilih jalur ini, karena
fusion memberikan ruang kebebasan untuk berkreasi tanpa kehilangan akar. Bagi
LEF, fusion adalah metafora dari identitas: lentur, terbuka, dan siap
berdialog.
Salah satu
kekuatan utama Lombok Ethno Fusion terletak pada keragaman latar dan karakter
musikal setiap personelnya. Mereka datang dari latar belakang musik yang
berbeda, tetapi bersatu dalam satu semangat: memperkenalkan budaya Lombok
melalui musik modern.
Personel yang
membentuk LEF:
🎸 Chandra Irawan – Gitar
Motor penggerak
LEF dan pengarah konsep fusion. Ia menjadi jembatan antara dunia rock dan
tradisi lokal, menciptakan tekstur harmoni yang menyatukan dua dunia bunyi.
🎶 Syahrul Barak – Suling
Bambu (Bamboo Flute)
Sumber nafas etnik
LEF. Melalui suling bambu, Syahrul menghadirkan aroma pegunungan, kesunyian
desa, dan kesejukan alam Lombok. Ia juga dikenal sebagai interpretator liris
dalam lagu Mindu.
🥁 Mariadi “Adi” Basri –
Saron & Gendang
Penjaga ritme
tradisi. Adi Basri menghadirkan dinamika khas gamelan Lombok dan denyut gendang
beleq yang menggema, menjadi fondasi etnik dalam setiap lagu.
🪘 Agustian
Putra – Drum
Penata ritme
modern yang berpadu dengan instrumen tradisional. Ia mengolah pola-pola rock
dan jazz untuk menyatu dengan gendang dan saron.
🎹 Tanya “Anya” Efritzka –
Keyboard
Warna lembut dan
atmosferik dalam musik LEF lahir dari sentuhan jari Anya. Ia menjadi penjaga
harmoni dan nuansa kontemporer dalam setiap aransemen.
🎸 Lalu Sukmayadi – Bass
Memberi kedalaman
pada struktur bunyi LEF. Gaya permainannya yang halus dan stabil membuat
perpaduan tradisi-modern terasa kokoh dan terarah.
🥁 “Ayong” Ferdianto –
Saron & Rencek
Penggerak detail
ritme dan warna tradisi. Ia memastikan suara Lombok tetap hidup di tengah arus
bunyi modern.
Kehadiran ketujuh
personel ini membuat LEF tidak hanya menjadi grup musik, tetapi kolektif
kebudayaan. Mereka bekerja dalam kesetaraan, di mana setiap bunyi adalah bagian
dari narasi besar tentang rumah, identitas, dan akar.
Fusion bukan hanya
konsep musikal; ia juga gagasan kultural. Ketika Chandra mengatakan bahwa
fusion bisa “gabung ke semua jenis musik”, sebenarnya ia sedang menyinggung
gagasan keterbukaan budaya. Dunia hari ini tidak lagi mengenal batas kaku
antara “tradisional” dan “modern”. Musik menjadi arena di mana budaya saling
meminjam, saling memperkaya.
Dalam konteks
Lombok, fusion adalah strategi untuk memperkenalkan budaya lokal dalam bahasa
yang global. Melalui pendekatan ini, gamelan dan gendang beleq tidak lagi
terdengar asing bagi telinga urban; sebaliknya, instrumen itu justru menjadi
pusat perhatian baru karena diolah dalam pola ritme modern.
Konsep ini juga
menjawab tantangan besar seni tradisi di era digital: bagaimana tetap relevan
tanpa kehilangan jati diri. LEF menjawabnya dengan elegan—tidak menolak
modernitas, tapi juga tidak menanggalkan tradisi. Musik mereka berdiri di
tengah, menjadi jembatan antara dua dunia.
“Mindu”: Lagu dari
Api, Puisi, dan Jiwa
Sementara itu,
Syahrul Barak menjelaskan bahwa lagu “Mindu” memiliki makna yang sangat dalam.
Dalam bahasa Sasak, mindû berarti menghangatkan diri di depan api. Kata ini
menggambarkan momen keintiman dan kehangatan, baik secara fisik maupun
emosional.
Namun Mindu bukan
sekadar tentang api secara literal. Lagu ini, kata Syahrul, diadaptasi dari
sebuah puisi karya penyair Lombok Tengah bernama Lamuh Syamsuar. Fakta ini
membuat Mindu menjadi karya istimewa dalam perjalanan LEF—karena inilah
satu-satunya lagu mereka yang bersumber langsung dari karya sastra.
Puisi Lamuh
Syamsuar memberi nyawa pada lagu ini. Kata-kata puitisnya menjadi bara yang
menyulut nada dan harmoni. Dengan mengadaptasi puisi ke dalam musik, LEF
memperluas makna “fusion” itu sendiri: tidak hanya penggabungan alat musik,
tetapi juga pertemuan antara sastra dan bunyi, antara bahasa dan melodi.
Mindu mengajarkan
bahwa menghangatkan diri tidak selalu berarti mendekat pada api, tetapi juga
mendekat pada akar budaya sendiri, mencari kehangatan di tengah dinginnya
globalisasi.
Chandra Irawan
berharap agar LEF bisa lebih solid dan mampu menjangkau dunia yang lebih luas,
baik secara nasional maupun internasional. Harapan ini bukan sekadar ambisi
personal, tetapi juga misi budaya. Jika LEF mampu menembus panggung nasional,
bahkan internasional, itu berarti budaya Lombok berhasil menembus batas
geografis dan bahasa.
Namun untuk
mencapai hal itu, dibutuhkan konsistensi dan keberanian. LEF harus terus
menjaga keseimbangan antara eksplorasi dan esensi. Di satu sisi, mereka harus
berani bereksperimen dengan bentuk baru; di sisi lain, mereka tak boleh
kehilangan “jiwa” yang membuat musik mereka berbeda.
Kekuatan LEF
justru terletak pada identitasnya: keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri
dalam lanskap musik yang serba cepat berubah. Bila hal ini terus dijaga, bukan
tidak mungkin LEF akan menjadi wajah baru musik etnik Indonesia—modern, tapi
membumi; eksperimental, tapi sarat makna.
Api yang Tak
Pernah Padam
Mindu bukan
sekadar lagu; ia adalah metafora tentang kehangatan budaya yang tak boleh
padam. Seperti api unggun yang menjadi pusat pertemuan, lagu ini mengundang
siapa saja untuk duduk, mendengar, dan merasakan. Di dalam harmoni instrumen
modern dan tradisional itu, kita mendengar denyut nadi Lombok—daerah yang kaya
akan cerita, ritme, dan rasa.
Lombok Ethno
Fusion telah membuka jalan baru dalam perjalanan musik daerah. Mereka tidak
sekadar tampil sebagai grup musik, melainkan sebagai penyambung napas budaya.
Dengan Mindu, LEF menegaskan bahwa api kreativitas akan terus menyala, selama
masih ada keberanian untuk menjaga dan memperbaruinya.
Dalam dunia yang
serba cepat dan instan, karya seperti Mindu adalah pengingat: bahwa kadang kita
perlu berhenti sejenak, mendekat ke api, dan menghangatkan diri dalam identitas
kita sendiri.
#Akuair-Ampenan, 16-10-2025
