Kalam Agama juga Pelape

Kalam Agama yang berkaitan dengan diksi Pelape juga perintah untuk lebih mantap di dalam ber_"fantasyiru/ bertebaran' di bumi Allah sehingga tidak ber_fatamorgana doangan tanpa karuan.- Maman A. Majid Binfas -

 

------

PEDOMAN KARYA

Senin, 29 Desember 2025

 

Kalam Agama juga Pelape

 

Oleh: Maman A. Majid Binfas

(Sastrawan, Akademisi, Budayawan)

 

Sebelum memasuki akronim Pelape, goresan ini akan dimulakan dengan diksi Pela meminjam istilah bahasa Maluku dan Pepela istilah Makassar.

Istilah Pela bahasa Maluku, berdasarkan cerita teman sesama dosen di Jakarta (1997), adalah tradisi budaya sebagai ikatan persaudaraan, persahabatan, dan kekeluargaan di antara dua negeri atau lebih yang berbeda agama terutama Islam dan Kristen.

Hal itu bertujuan untuk menjadi satu keluarga besar guna saling membantu, menghormati satu sama lainnya. Namun, ada larangan keras untuk menikah antar-agama, ini melambangkan persatuan dan toleransi. Bahkan di dalam bergotong-royong untuk rumah ibadah, baik Masjid maupun Gereja. Namun, kandas dan terkoyak akibat konflik politik adu domba berwabah perang saudara tahun 1999.

Sedang istilah Pepela atau sering disebut "Pepe/api") dalam konteks budaya Makassar Sulawesi Selatan. Pepe sering dikaitkan dengan tarian tradisional "Tari Pepe-Pepeka Ri Makka/Api dari Mekkah".

Tarian di dalam memainkan api sebagai simbol keimanan dan kisah Nabi Ibrahim. Bahkan  ada juga "Pepe Pepe Baine/Api Perempuan, diidentikan dengan api sebagai atribut tarian wanita. 

Dari istilah tradisi di atas, namun berbeda dengan konteks akronim Pepela dalam topik goresan ini. Pelape diakronimkan dengan Petunjuk, Larangan, dan Perintah.

Kalam boleh beragam maknanya, tergantung konteksnya: secara harfiah berarti "ucapan" atau "perkataan" (termasuk firman Allah), bisa juga merujuk pada Ilmu Kalam, yaitu disiplin ilmu dalam Islam yang membahas tentang ketuhanan (teologi Islam) menggunakan pendekatan rasional dan argumentatif untuk membela akidah, sering disebut juga Ilmu Tauhid atau Ushuluddin, serta bisa berarti "pena" atau saduran dari bahasa Arab: qalam.

Namun, di dalam goresan ini akan berorientasi dengan diksi kalam mengarah kepada kitab suci Kalamullah.

Ensinsi Kalamullah yang paling utama dan menjadi Kitab Suci bagi umat Islam, memuat pedoman lengkap bagi kehidupan, sama seperti Taurat, Zabur, dan Injil bagi umat sebelumnya.

Jadi, kalamullah besubstansi kepada firman Allah di dalam kitab suci sebagai wujud terbukukan dari kalam dimaksudkan, baik berupa jejak sejarah sebagai petunjuk maupun perintah plus larangannya.

Perintah dan larangan menjadi batas asas sebagai petunjuk atau informasi akan arah untuk kiblatan bertakbiran, baik di dalam mengisi kehidupan maupun beribadah kepada Tuhan secara mendasar.

Esensi kata petunjuk merupakan informasi, tanda, arahan, atau bimbingan yang diberikan untuk menunjukkan cara melakukan sesuatu, mencapai suatu tujuan, atau memahami suatu hal, seperti pada resep, aturan permainan, atau panduan penggunaan alat; sering disebut juga sebagai instruksi, pedoman, atau teks prosedur yang disusun secara urut, jelas, dan mudah dipahami menjadi batas, boleh berupa perintah atau larangan.

Esensi diksi 'perintah' Perintah adalah perkataan atau kalimat yang bertujuan menyuruh, meminta, atau menginstruksikan seseorang untuk melakukan sesuatu yang kita kehendaki, sering disebut kalimat imperatif, bisa berupa suruhan keras, permohonan halus, atau ajakan, dan umumnya ditandai dengan intonasi tinggi serta tanda seru(!). Ini mencakup instruksi formal, larangan (dengan "jangan"), hingga ajakan (dengan "ayo", "mari"), dan bisa juga merujuk pada aturan atau ketetapan yang harus dipatuhi.  

Diksi "Larangan" Kata larangan adalah kata atau kalimat yang digunakan untuk memerintahkan seseorang agar tidak melakukan suatu tindakan atau perbuatan tertentu, biasanya ditandai dengan kata seperti "jangan," "dilarang," "hindari," atau "tidak boleh," dengan tujuan mencegah hal yang tidak diinginkan atau berbahaya. Contohnya termasuk "Dilarang membuang sampah sembarangan!" atau dilarang membuang hajat /ampas ceboan di sekitar selokan ini.

Esensi dari rentetan mukadimah di atas, merupakan akumulasi Perintah dan larangan sebagai pentunjuk di dalam bertindak, baik bersifat nyata maupun keghoiban untuk berkalam.

 

Esensi Kalam Tuhan

 

Kalam Tuhan bukan semata untuk dipubliskan demi menghalau karena galau akibat dari kekalutan berlebihan yang didagelani oleh diri dan gerombolan ampas ceboanya. Tetapi, esensi Kalam Tuhan sesungguhnya mesti diyakini dengan keimanan tulen tanpa sesatan masifan pula.

Dan QS Al-Bayyinah: 5 dengan nyata dititahkan_Nya yang berarti: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus."

Bila, sekedar untuk kamuflase demi bayang guna menggelabui public dari gerhana bergulitaan masif sungguh sangat memalukan. Itu sama mawon dengan harakiri gantung diri, bah cicak mati terjepit telah membekak biru dan baru dilihat ketika tercium bau busuknya. Bahkan, gerombolan semut dan lalat apapun juga tidak mau mendekat sama sekali!

Tentu, mungkin kali akan nyengatan aromanya melebihi bunga bangkai tak mungkin lagi dipadamkan dengan begitu saja. Apalagi, tanda pertanda juga telah tercium dan akan segera bertaburan sungguh menyengat kelam di mana mana!

Mungkin tanda yang tercium demikian, bah tapak jejak korban pembunuhan petunjuk, baik di dalam persugihan dukun maupun kenekatan bringas guna mengais TH/Tahta plus Harta yang bersifat instan kesetanan.

 

Berdukun Demi TH

 

Memang dahsyat dorongan nafsu birahi keiblisan di dalam godaan untuk ber_Tahta juga ber_Harta (TH) yang instan berkesetanan.

TH bagaikan "setali mata uang" di dalam menggoda dan menggerogoti kejiwaan manusia sehingga nekatan membabi buta.

Bahkan, biar anak kandung dari darah dagingnya sendiri dijadikan tumbalan persugihin kebejatan. Bah jejak kisah penyembah sungai Nil, saat kehampaan agama.

“Jika sudah malam ke 12 di bulan ini, kami akan melemparkan seorang gadis perawan dari orang tua yang ridha anaknya dijadikan tumbal, dan gadis itu kami pakaikan perhiasan dan baju yang bagus, lalu kami buang gadis itu ke sungai nil ini.”

Juga kisah dalam mitologi, Kronos mengebiri dan menggulingkan ayahnya, Uranus, untuk merebut tahta dewa. Putranya sendiri, Zeus, kemudian menggulingkan Kronos. Termasuk, ramainya kisah tentang anak kandung membunuh orang tuanya sendiri atau sebaliknya, padahal telah mereka katanya beragama. Di antaranya;

Pertama, Seorang anak tunggal di Jember, Jawa Timur, membunuh ayah kandungnya untuk menguasai sebidang tanah sawah. Kedua, Seorang wanita di Bandung tega membunuh ayah dan ibu tirinya demi harta warisan. Ketiga, Seorang pria di Kendal membunuh ibunya karena tersinggung saat ditanya uang hasil penjualan tanah warisan. 

Dan masih banyak lagi, baik di dalam maupun di luar negeri. Mungkin, di sekitar kita juga masing masing sedang melakoni gaya kesilumanan dengan berpura-pura beraksesoris agama doangan.

Memang sungguh bejat dan biadab kelakuan demikian, padahal para pelaku juga terkesan faham akan esensi dari larangan agamanya masing-masing!

Berdukun juga membunuh, demi Tahta dan Harta (TH), kini sungguh luar biasa akan durasi logika keampas ceboan di dalam kebejatan dan kebiadaban.

Dan buah perbuatan yang akan dituai, baik dunia maupun berhingga kiamatan tetap tanpa ampunan justru menjadi krak jahanam. Sekalipun, diketahuinya sebagai petunjuk yang memang berkesan perintah dan menjadi larangan. Namun, akibat rongrongan dari durasi logika ampasan bersifat materialisme semata, mereka tetap nekatan melakukan kebejatan guna melawan akan suara nurani briliannya.

 

Logika Ilmuwan Brilian

 

Dunia materialisme hanya berpandangan kesuksesan, dilihat dari polesan jamuran bintang berpundak, sekalipun isi batokan ampas ceboan diaromakan menyengat bukan kepalang lagi.

Bagi ilmuwan polesan dunia hanya fatamorgana, tetapi karya cinta buah dari tinta akan abadi untuk selalu mekar melintasi zaman. Dan itu adalah kiblatan bagi kelogisan sebagai wujud kesuksesan sejati

Hal itu, menjadikan para ilmuwan sejati berprinsip nurani, mengedepankan dampak nyata dari sebuah penemuan atau tulisan yang mencerahkan jiwa manusia.

Hal demikian, para ilmuwan sejati menganggap akan jauh lebih berharga daripada kekayaan atau kekuasaan politis yang bersifat sementara dan fatamorgana

Bagi ilmuwan sejati, dampak bukanlah tentang ketenaran atau sensasi media, melainkan tentang kontribusi yang langgeng, dapat diverifikasi, dan bermanfaat bagi sains serta masyarakat sepanjang zaman.

Sekalipun, minimalis atau ecekan , namun logis mencerahkan dunia nyata nan berisi otak brilian sungguh cemerlang ! Bukan brilian berisi ampas ceboan yang berdurasi darah mendidih karena kentalan kelebihan muntahan dilahapnya.

 

Darah Mendidih

 

Asal kata didih bila ditambah dengan awalan men sehingga menjadi "mendidih", maka akan bermakna.

Mendididih, adalah proses perubahan fase zat dari cair menjadi gas (uap) yang terjadi ketika cairan dipanaskan hingga mencapai titik didihnya,  modelnya, air dipanasin, maka muncul gelembung-gelembung gas yang naik ke permukaan karena pengaruh panas api.

tentu, berbeda dengan muncul panas pada suhu badan akibat terik, dikarenakan dehidrasi, stres, makanan pedas, perubahan hormon, atau aktivitas fisik, bahkan tanpa demam, yang seringkali bisa diatasi dengan istirahat, minum air, dan di tempat sejuk. 

Namun, ada juga selain itu, muncul gelembung panas di permukaan otak dan pusaran yang terasa pedih mendidih dan semakin membara, dikarenakan hentakan gas darah tanpa bisa terdeteksi.

Tetapi bara gas dehidrasi darah nadi demikian, bisa memuncak sehingga akan meledak dengan mautan tiba tiba tanpa diduga dan membusuk, InsyaAllah; Wallahualam berhingga Wassalam hanya sigap di dalam perayaan berakhir untuk bergantian tahun saja.

 

Sigap Akhiri Tahun

 

Seiring berjalan bergatian dari detakan waktu ke waktu jelang akan berkalang 2025 yang tersisa beberapa hari lagi. Maka, kesigapan mesti dikedepankan dari durasi jangka dua semakin angka hitungan mesti mundur berkurang satu

Bukan sebaliknya hitungan melaju satu sampai dengan tiga

Lagian mau, diapain juga memang demikian adanya. Pertanda akan tanda berangka karam, bukan jua bah sirene fire alarm. Namun, kadar durasi denyutan sengatan akan melepuh kuning kelam dan mekaran ledak bah dahak beraroma kurang sedap, bahkan lebih subur dari bunga bangkai benaran

Kalau, Aku tetap enjoy aje akan durasi benaran atau tidak pun tanpa beban. Dan akan tetap bertakbiran dengan aduhai juga, bahkan justru semakin mantap berkalam.

Jadi, Kalam Agama yang berkaitan dengan diksi Pelape juga perintah untuk lebih mantap di dalam ber_"fantasyiru/ bertebaran' di bumi Allah sehingga tidak ber_fatamorgana doangan tanpa karuan.

Fantasyiru sebagaimana QS Al-Jumu'ah:10 yang berarti: "maka bertebaranlah kalian"  di muka bumi untuk mencari rezeki atau karunia Allah setelah shalat selesai ditunaikan.

Tentu, esensi Fantasyiru atau bertebaran di jalan yang diperintahkan di dalam QS Al Fatihah: 6 yang berarti "Tunjukilah kami jalan yang lurus," merupakan permohonan kepada Allah Swt untuk dibimbing ke jalan kebenaran agar tidak menjadikan isi otak berampas ceboan dalam "walad dhollin /dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat". 

Termasuk, esensi baik dari Pela maupun Pepela, sekalipun tidak ada secara spesifikasinya di dalam Kalam agama apapun. Namun, dibolehkan, semasih ia tidak mengarah kepada tradisi kesesatan nyata yang berteselubungan kedunguan. Wallahualam

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama