Pesan-pesan Moral dalam Kumpulan Cerpen “IBU”

Asia Ramli Prapanca (kanan) tampil sebagai pembicara dalam Diskusi Buku Kumpulan Cerpen “Ibu”, karya Anggota IPMI, dan Buku Kumpulan Cerpen “Ibu, Gaib!” karya Muhammad Amir Jaya (kiri), yang dirangkaikan dengan Peringatan HUT Ke-3 Ikatan Penulis Muslim Indonesia (IPMI), di Kafebaca, Jalan Adhyaksa, No 2, Makassar, Rabu, 24 Desember 2025. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)     

 

-----

PEDOMAN KARYA

Senin, 29 Desember 2025

 

Catatan HUT Ke-3 IPMI dan Diskusi Buku Kumpulan Cerpen “Ibu” (4):

 

Pesan-pesan Moral dalam Kumpulan Cerpen “IBU”

 

Oleh: Asnawin Aminuddin

 

Asia Ramli Prapanca tampil dengan penuh semangat dan sangat total sebagai pembicara dalam Diskusi Buku Kumpulan Cerpen “Ibu”, karya Anggota IPMI, dan Buku Kumpulan Cerpen “Ibu, Gaib!” karya Muhammad Amir Jaya, yang dirangkaikan dengan Peringatan HUT Ke-3 Ikatan Penulis Muslim Indonesia (IPMI), di Kafebaca, Jalan Adhyaksa, No 2, Makassar, Rabu, 24 Desember 2025.

Seniman, budayawan dan akademisi itu tampil sebagai pembicara bersama Anil Hukma (penyair, akademisi), dan Irwan AT (seniman, wartawan), yang dipandu oleh Damar I Manakku (penulis).

Totalitas Ram Prapanca, sapaan akrab Dr. Asia Ramli Prapanca, terlihat dari banyaknya catatan yang ia buat, bahkan semua cerpen ia buat catatannya dengan judul: “Melacak Pesan Moral Kumpulan Cerpen Ibu.”

Sayangnya, tidak semua catatannya ia bacakan karena tidak semua penulis cerpen hadir dalam diskusi tersebut. Ram hanya membacakan catatannya terhadap cerpen yang penulisnya hadir dalam diskusi.

Salah satu cerpen yang ia komentari yaitu cerpen berjudul: “Ratmini”, karya Andi Wanua Tangke. Ram mengatakan, cerpen “Ratmini” mengangkat tema luka sejarah dan dampak kemanusiaan dari peristiwa politik masa lalu di Indonesia.

“Cerpen ini mengisahkan Ratmini yang ditangkap puluhan pemuda desa karena dituduh sebagai penjahat politik, sebagai anggota Gerwani. Sundari, anak Ratmini, ingin membawa anaknya, Endang (cucu Ratmini), pergi menziarahi kuburan neneknya, Ratmini. Tapi Sundari tidak tahu: di mana kuburan ibunya?” kata Ram.

Pesan yang paling menonjol adalah bagaimana peristiwa politik tidak hanya berdampak pada mereka yang mengalaminya secara langsung, tetapi juga “diwariskan” kepada anak cucu. Pencarian Sundari akan makam ibunya menunjukkan kerinduan akan identitas dan kebenaran yang terputus oleh stigma sejarah.

“Kisah Ratmini yang ditangkap oleh puluhan pemuda desa tanpa proses hukum yang jelas menggambarkan betapa mengerikannya efek stigma politik. Pesan ini mengingatkan pembaca tentang bahaya fanatisme dan bagaimana kemanusiaan sering kali hilang ketika seseorang sudah diberi label ‘musuh negara’ atau ‘penjahat politik’,” tutur Ram.

Ketidaktahuan Sundari tentang lokasi kuburan ibunya adalah simbol dari sejarah yang digelapkan. Penulis ingin menyampaikan bahwa tanpa kejelasan sejarah dan pengakuan atas apa yang terjadi di masa lalu, generasi berikutnya akan terus hidup dalam ketidakpastian dan beban emosional yang tak kunjung usai.

“Pesan utama dari cerpen ini adalah ajakan untuk berempati terhadap para korban sejarah yang sering kali terlupakan dan terpinggirkan. Cerpen ini menekankan bahwa setiap manusia berhak atas martabat, bahkan dalam kematiannya, dan bahwa luka masa lalu perlu disembuhkan melalui kebenaran, bukan penyangkalan,” tandas Ram.

 

Bayang Kenangan di Langit Biru

 

Ram juga mengomentari cerpen: “Bayang Kenangan di Langit Biru” karya Yudhistira Sukatanya. Cerpen ini dinilai memiliki pesan yang sangat mendalam tentang kasih sayang, nilai keluarga, dan cara menghadapi kehilangan.

“Pesan utama cerpen ini adalah bagaimana seorang ibu menjadi pusat kebahagiaan dan keteraturan dalam keluarga. Ibu digambarkan sebagai sosok yang penuh persiapan (sigap), perhatian terhadap detail (kebersihan rumah, makanan kesukaan anak), dan penjaga tradisi. Kepergian ibu meninggalkan lubang besar karena dialah yang biasanya menghidupkan suasana rumah,” papar Ram.

Melalui kutipan pappasang (pesan leluhur) Makassar: “Jaga bajiki andellekanna atinnu...”, penulis ingin menyampaikan bahwa segala tingkah laku manusia bermuara dari niat hati. Jika hati baik, maka hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia pun akan baik.

“Ini adalah warisan nilai moral yang lebih berharga daripada harta benda,” kata Ram.

Penulis menekankan bahwa kesabaran adalah sebuah keterampilan spiritual yang harus dilatih. Melalui nasihat ibu dari Qur’an Surah Al-Baqarah, ayat 153, pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa dalam menanti atau menghadapi ujian (termasuk kematian), sabar dan shalat adalah penolong yang utama.

Meskipun ibu telah tiada, kasih sayangnya tetap hidup dalam ingatan melalui simbol-simbol sederhana: Langit Biru: Sebagai simbol harapan dan kehadiran ibu. Aroma (Parfum Al Taj): Bagaimana kenangan bisa dipicu oleh indra penciuman. Batuk Kecil: Simbol teguran lembut yang penuh kasih, bukan kemarahan.

“Cerpen ini mengingatkan pembaca untuk menghargai setiap momen bersama orang tua selagi mereka masih ada. Tokoh utama merasakan ‘detak waktu yang merangkak’ dan kesedihan yang tajam saat menyadari bahwa kepulangan saudara-saudaranya kali ini bukan untuk disambut oleh ibu, melainkan untuk mendoakan kepergiannya,” urai Ram.

Pesan cerpen ini adalah ajakan untuk merawat kenangan baik, mempraktikkan kesabaran, dan menjaga kemurnian hati sebagaimana yang diajarkan oleh orang tua.

“Ia juga menjadi pengingat bahwa doa adalah satu-satunya ‘jembatan’ yang tersisa untuk menghubungkan kita dengan orang tua yang telah tiada,” kata Ram. (bersambung)


.....

Tulisan Bagian 3: Cerpen yang Tidak Lazim dan Nyentrik


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama