![]() |
| Muhammad tidak mencari kebenaran dalam kisah-kisah lama atau tulisan para pendeta. Ia mencari kebenaran lewat alam. Ia mengasingkan dirinya dari keramaian dan pergi ke Gua Hira. (int) |
------
PEDOMAN KARYA
Sabtu, 27 Desember 2025
Kisah Nabi Muhammad SAW (25):
Muhammad Mencari
Kebenaran Lewat Alam dan Pergi ke Gua Hira
Penulis: Abu Hasan Ali An-Nadwi
Muhammad selalu membuat suasana rumahnya
menjadi hidup dengan canda dan keramahan. Beliau suka berkelakar kepada siapa
pun. Bukan hanya kepada istri dan putri-putrinya, beliau juga amat ramah kepada
pembantunya.
Sejak muda, Rasulullah amat gemar memakai
parfum. Bau wewangian itu akan membuat orang-orang di sekitar beliau merasa
senang. Rasulullah tidak menyukai baju berwarna merah. Beliau lebih suka baju
berwarna lurik atau putih. Rasulullah juga gemar memakai surban dengan salah
satu ujungnya menggelantung antara pundak.
Beliau tidak pernah menggunakan baju yang
seluruhnya terbuat dari sutera. Kemudian datanglah satu orang yang amat
Rasulullah sayangi. Begitu sayangnya sampai beliau mengangkatnya sebagai anak.
Zaid bin Haritsah
Suatu hari, keponakan Khadijah yang
bernama Hakim bin Hizam membawa seorang budak laki-laki bernama Zaid bin
Haritsah. Zaid dibawa ke rumah Khadijah dalam keadaan mengenaskan. Lehernya
dibelenggu sehingga ia terpaksa merangkak seperti seekor kuda. Bunda Khadijah
membeli Zaid dan memperlakukannya dengan baik.
Muhammad amat menyukai Zaid. Apalagi
ketika Zaid bercerita bahwa ia dijadikan budak dengan cara diculik.
Lima belas tahun yang lalu, Zaid kecil
sedang berjalan pulang bersama ibunya ketika datang para perampok gurun. Zaid
disergap dan dibawa lari. Sejak itulah ia hidup sebagai seorang budak yang
diperjualbelikan ke sana kemari. Nasiblah yang membawanya bertemu dengan
Rasulullah, orang yang amat Zaid cintai.
Melihat Muhammad amat menyayangi Zaid,
Khadijah memberikan Zaid kepada suaminya itu. Khadijah yang bijaksana mengerti
bahwa suaminya menganggap Zaid seolah sebagai pengganti Qasim dan Abdullah (dua
anak laki-laki Rasulullah) yang telah tiada. Muhammad segera memerdekakan Zaid.
Namun, secara tidak terduga, datanglah Haritsah, ayah Zaid.
Haritsah telah bertahun-tahun mencari Zaid
sejak anaknya itu menghilang. Haritsah amat menyayangi dan merindukan Zaid
sehingga ia membuat puisi kesedihan tentang anaknya itu. Zaid pun amat
menyayangi ayahnya.
“Silakan membawa Zaid pulang,” kata
Muhammad kepada Haritsah. “Tetapi, seandainya Zaid memilih tetap bersama saya,
saya tidak akan menolaknya.”
Ternyata, Zaid lebih memilih tinggal
bersama Muhammad. Muhammad amat bahagia sehingga mengangkat Zaid sebagai putra
beliau. Sejak saat itu, Zaid sering dipanggil Zaid bin Muhammad.
Di kemudian hari, Allah melarang anak
angkat mewarisi harta ayah angkatnya yang telah wafat. Harta seorang ayah
tetaplah menjadi hak anak kandung, bukan anak angkat. Maha adil Allah Yang
Agung.
Gua Hira
“Berhala-berhala yang bernama Hubal, Lata,
dan Uzza itu tidak pernah menciptakan seekor lalat sekali pun, bagaimana
mungkin mereka akan mendatangkan kebaikan bagi manusia?” demikian pikir
Muhammad.
Muhammad terus berpikir, “Siapakah yang
berada di balik semua ini? Siapa yang berada di balik luasnya langit dan
tebaran bintang? Siapa yang berada di balik padang pasir yang panas terbakar
kilauan matahari? Siapa pencipta langit yang jernih dan indah, langit yang
bermandi cahaya bulan dan bintang yang begitu lembut, begitu sejuk? Siapa
pembuat ombak yang berdebur dan penggali laut yang begitu dalam? Siapa yang
berada di balik semua keindahan ini?”
Demikianlah Muhammad tidak mencari
kebenaran dalam kisah-kisah lama atau tulisan para pendeta. Ia mencari
kebenaran lewat alam. Ia mengasingkan dirinya dari keramaian dan pergi ke Gua
Hira.
“Betapa sia-sianya hidup manusia. Waktu
terus berlalu, sementara jiwa-jiwa rusak karena dikuasai khayal tentang
berhala-berhala yang mampu melakukan ini dan itu. Betapa sia-sianya hidup
manusia karena tertipu dengan segala macam kemewahan yang tiada berguna,” pikir
Muhammad.
Beliau mengasingkan diri seperti itu beberapa hari setiap bulan dan sepanjang bulan Ramadhan. Semakin lama, jiwanya semakin matang dan semakin terisi penuh. Sampai suatu ketika, saat usia Muhammad menginjak 40 tahun, datanglah seseorang yang bukan dari dunia ini menemui beliau di Gua Hira. Muhammad yang pemberani dan tenang itu amat terkejut melihatnya. (bersambung)
.....
Kisah Nabi Muhammad SAW (24):
