-----
PEDOMAN KARYA
Rabu, 14 Januari 2026
Bara Rindu Teosofis Bung
Oleh: Maman A. Majid Binfas
(Sastrawan, Akademisi, Budayawan)
Manakala, menukil tapak jejak cara susur galur leluhur kita, tentang cara mereka berkomunikasi dengan suku lain yang berjarak masa lalu, mereka menggunakan asap api.
Di antara, suku yang beragam, seperti Indian di Amerika, tentara Cina kuno, dan para leluhur di Nusantara pun menggunakan pola asap yang berbeda durasi juga bentuk untuk menyampaikan pesan, baik bersifat ghoib maupun transparan berkode sebagai metodenya masing-masing.
Metode ini menunjukkan kecerdikan manusia purba dalam memanfaatkan unsur alam untuk komunikasi sebelum telegraf, telepon, atau internet ada, seperti kemasan paketan saat ini, sekalipun berbeda modifikasi yang diselaraskan dengan teosofis asap dari asupan di dalam perkembangan logika zaman dinamakannya.
Teosofis merupakan akar diksi dari penganut ajaran teosofi, yakni gerakan filsafat dan spiritual modern yang berasal dari abad ke-19. Ia, berersensi di dalam mencari kebijaksanaan Ilahi (theos-sophia) melalui studi agama, filsafat, dan sains untuk memahami kebenaran universal. Termasuk, bertujuan untuk gerakan persatuan seluruh umat manusia, namun sering kali mengintegrasikan unsur Hinduisme bersifat reinkarnasi/karma dan Buddhisme.
Gerakan teosofi ini berusaha menghubungkan pengalaman batiniah, mistik, dan pengetahuan kuno, dengan keyakinan akan adanya realitas spiritual tak kasat mata dan "Mahatma" atau guru spiritualitas. Termasuk, konon di antaranya, ada yang menggunakan media komunikasi, baik dengan api unggun, obor atau dikelingingi nyalain lilin sebagai pelita paketan ritualnya.
Paketan Asap Apian
Bila leluhur dulu, berkomunikasi antar lembah belantara dengan warga lain nan jauhan, yakni melalui asap apian dan arah anginan. Bahkan untuk antar pulau guna mengirim sinyal dengan melalui asap api sebagai mediasi ala tradisionalismenya.
Tentu, berbeda dengan masa kini yang telah dimodifikasi dengan signal angin dan panas api yang telah di cas dengan polesan alat elekronikanisme modern. Dikemasin atau dimodifikasi dengan baterei bertabung melalui anoda dan katoda plus elektrolit ma_katada_na.
Tidak lain, guna mereinkarnasi kembali di dalam memadukan mediasi antara gaya leluhur dengan masa kini bermagnitan sebagai tabung panas ber_api_an.
Mungkin, bukan jua ikutan berghoiban berilusian bah bergaya para ampas ceboan dunguan kekinian.
Maka, tidak terlalu keliru manakala, Aku kirim kembali paketan melalui mediasi tungku berasap api nan membara juga berkesan dipolesanisme ala masa kini dengan modelan leluhur yang telah berlalu.
Namun, lebih ampuhan nan kilatan nyata serta yus cekatan sangat tepat sasaran dengan otomatis dahsyatan, _sungguh luar
biasa berhingga binasa_an.
Tentu, tanpa diksi berbasa basi, dan jua tak bisa diingkari lagi energi kembalikan kepada tuannya.
Balikin Energi
Bakar energi api, kembali ke unsur api
Bakar energi besi, kembali ke unsur besi
Bakar energi angin, kembali ke unsur angin
Bakar energi air, kembali ke unsur air
Bakar energi tanah, kembali ke unsur tanah
"Innalillahi wa innailaihi raajiuun: Sesungguhnya segalanya, adalah milik Allah dan kepada-Nya akan kembali"
Tentu, tanpa terbantahkan oleh apapun di dalam membakarin guna mengembalikan segala bentuk ragam energi gulitaan, asap asupan dari bokongan ampas ceboan.
Bokongan Terasapin
Bokong lubang ular juga lipan, akhirnya tembus tertombak juga terasapin hingga berlipatan.
Pemantik arang berasap berbalik habis terbuang di tong sampah ampasan. Sekalipun, gerak bolak balik berkerumun bah lebah diasapin juga tersapu bersih tanpa sisa hingga berhamburan.
Memang, apapun terasapin akan terasa pedis mata juga perih dan pedih sungguh aduhai. Apalagi ditombak dengan bara membara lagi, memang luar biasa dahsyatnya hingga arang berabuan kuburan berkalang gemilang dengan girang.
Girang Gemilang
Aku, semakin diserang
sungguh aduhai bergirangan tanpa menghalau, dikarenakan sasar pun semakin garang, dan justru semakin kinclong bergemilang.
Tentu, aduhai sungguh busuran telah jadi bagian dari arang berkalang.
Entah rentetan sebelum
atau nan baru bergabung
juga disapurata untuk karam
Kalau, kalian serang akan semakin berkalang jadi arang berpulang kembali jua kepada kalian pula.
Aku, semakin luar biasa girang untuk balikin dengan senyum gemilang_tanpa beban jadi penghalang guna menyapuratain berhingga gosong
Gosong Disapurata
Satu kabel poros pusaran generator yang konsletan juga terbakar _
Maka dengan otomatis disapurata akan arus kepadamannya tanpa terkecuali- kepada para pelaku bergulitaan, dan memang pantas digosongi semuanya. Bah detik detik berdetaknya akan jelang hari angka 00 meledakin petasan yang masa bodoh dengan suara bening mata batinnya.
Suara Batinmu
Jangan pula, terlalu lebay berlebihan dan mesti ingat gejolak kepedihan sedang dirasakan lagi berhadapan. Akan durasi resiko akan jangka waktu yang telah dirasa begitu padatan.
Tentu, angka detak berdekatan dan semuanya, tak bisa dimungkiri dengan apapun jua. Biar alat super kecanggihan untuk mendeteksi, namun tetap error atau juga hampa.
Terkecuali, suara bening batinmu bercermin dengan penuh kepastian mesti diterima tentang segala durasi kenyataan dengan apa adanya.
Bukan jua bah beningya batin dipanggil nama lain dari Bung Besar atau kecil di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, memang patut dikenang jejak ketulusannya di dalam berjuang demi bangsanya.
Bung Besar dan Bung Kecil
Akar diksi dari Bung Besar, yakni simbol diidentikkan dengan julukan Bung Karno atau Ir. Soekarno, sebagai Bapak Bangsa merupakan Presiden Indonesia yang pertama. Seringkali disebut bersama Sutan Sjahrir yang dijukuki "Bung Kecil".
Julukan Bung Kecil kepada Sutan Sjahrir, Beliau merupakan Perdana Menteri pertama Indonesia, karena postur fisiknya yang kecil, namun memiliki pemikiran besar dan peran vital dalam diplomasi kemerdekaan Indonesia. Beliau merupakan tokoh intelektual, idealis, dan arsitektur perjuangan melalui jalur politik serta pendidikan, bukan hanya senjata.
Dan memang Bung Kecil yang beridentik pula dengan pembuat diksi berikut ini_ yang sengaja saya samarkan nama aslinya dari japrinya:
"Entah hanya lelah keliling atau mulai diintip kejenuhan pada urusan yg cukup lama ini tapi belum menampakkan hasil. Begitu sampai Balikpapan, sy lihat ponakan mengerjakan tugas sekolah membuat lagu. Akhirnya saya ingat syair “theosofis” yg menghujam hakekat kefitrahan sekaligus konsekuensi amal ini.
Kekuatan luar biasanya ada di syair, aransemen hanya mengikut. Awalnya sy ingin mencoba menyisipkan suku kata utk membuat sambungan dan atau penyesuaikan irama.
Dicoba atmosfir lagunya mjd tembang renungan (sufistik).
Dan ... disajikan dalam berbagai atmosfir; ada sunda parahyangan, sunda cirebonan, melayu, irama nasyid dan mandarin. Sama dengan adzan, meskipun iramanya beragam namun satu makna panggilan.
Demikian dengan syair ini juga, disajikan dalam berbagai langgam namun tunggal dalam penghayatan."
Adapun, langgam dijadikan intro solo atau karya tunggal, tentang goresan "Setara di Mata Semesta" (Rabu 13:17, 12 November 2025). Kemudian, di japri oleh Beliau pukul 23: 45, Senin 12 Januari 2026.
Saya tak menduga dibuatkan demikian, sungguh luar biasa intronya dijadikan syair lagu. Bahkan tercenung bercampur sedih dan merinding tanpa komunikasi atau dipesan sebelumnya, tentang goresan ecekan saya tentang "Setara..." yang apa adanya.
Setara di Mata Semesta
Di mata Sang Semesta, itu memang kita setara
Ketika benih itu bersaksi, tanpa ternoda dengan kesesatan nyata
Terbukti, nyata bersaksi QS. Al-A'raf ayat 172 yang berarti:
"Alastu birobbikum qolu bala syahidna/ Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi."
Di mata Sang Semesta, itu memang kita setara, tetapi bila dinodai tentu berbeda jua berhingga
ada surga juga neraka
Surga pun tidak serupa, juga bertingkat tingkat pula
Dan neraka pun demikian, tak ada yang sama rata
Di mata Sang Semesta, itu memang kita setara
Tergantung, radius logika ketakwaan secara tulen hanya kepada Tuhan
Hampa diingkari tanpa dipungkiri, berbuhulan atau was wisuan terselubungan
Di mata Sang Semesta, itu memang kita setara
Tak bisa dipungkiri, terkecuali dihianati mesti setara disapurata tanpa sisa (Mabinfas, 2025).
Dan Intro lagunya, boleh di klik dalam (https://suno.com/s/qqQ1kZ2NVF8JFpNy).
Dan Saya membalas japri Beliau, setelah memutar semua ragam intronya musiknya, yakni dengan kalimat;
"Subhanallah, luar biasa Bung Kecil, saya tak menduga bisa diintro sedemikian rupa dengan syair nyanyian begini.
Jujur, saya merinding juga beriring sedih tanpa bisa berdiksi apapun lagi tentang hasil karya Bung Kecil ini._Syukron katsiran 🤝."
Jadi, tidak terlalu keliru manakala, kita balikin paketan melalui mediasi komunikasi bara berasap api yang dipolesanisme ala masa kini dengan memadukan modelan leluhur yang telah berlalu. Namun, tetap dengan kebeningan batin yang ber_"Alastu birobbikum qolu bala syahidna." Berhingga bertautan
di mata Sang Semesta, itu memang kita setara tanpa dinodai, bah bening bara rindu teosofis Bung Kecil yang berkalam karya saling mencerahkan dan bersalam lillahi ta'ala ._Wallahu"alam.
