![]() |
| Ahmadi Haruna (paling kiri) tampil membacakan puisi pada acara HUT Ke-3 IPMI dan Diskusi Buku Kumpulan Cerita Pendek, “IBU”, di Kafebaca, Jalan Adhyaksa, No 2, Makassar, Rabu, 24 Desember 2025. |
-----
PEDOMAN KARYA
Jumat, 02 Januari 2026
Catatan HUT Ke-3 IPMI dan Diskusi Buku
Kumpulan Cerpen “Ibu” (6):
Cerpen-cerpen
tentang Ibu yang Mengaduk Perasaan
Oleh: Asnawin Aminuddin
ADA banyak ungkapan spesial tentang ibu, entah
diungkapkan para pujangga maupun para bestari. Menyebut ibu sebagai sosok
istimewa, itu pasti. Kalau setiap orang ditanya tentang ibu, sepertinya akan
kekurangan frasa yang pas untuk mengungkapkannya. Itu karena kedalaman cinta
dan keluasan perhatian dan pengorbanan seorang ibu.
Berapa jumlah manusia yang bertebaran di
muka bumi? Sebanyak itu pula mereka yang berasal dari rahim seorang ibu dengan
berbagai kisah kelahiran dan kehidupan masing-masing.
“Sejak kelahiran kembar pertama dari Nabi
Adam alaihibissalam dan Siti Hawa, yakni Qabil dan lqļima, cerita tentang
sentuhan seorang ibu itu pun dimulai. Tentang bagaimana Qabil dan lqlima
dibesarkan dengan penuh kasih-sayang yang tidak pupus,” kata Nur Alim Djalil.
Itu ia tulis dalam epilog Buku “Kumpulan
Cerita Pendek, IBU” karya 23 Anggota Ikatan Penulis Muslim Indonesia (IPMI)
yang diluncurkan pada Peringatan HUT ke-3 IPMI, di Kafebaca, Jalan Adhyaksa, No
2, Makassar, Rabu, 24 Desember 2025.
Meskipun pada akhirnya Qabil membunuh
adiknya, Habil, itu bukan berarti Qabil tidak mendapatkan telaga kasih sayang
dan sentuhan dari ibunya, Siti Hawa. Qabil tumbuh dengan tipikal yang selalu
iri dan dengki kepada Habil, yang bentuk fisiknya lebih bagus dan lebih rupawan
dibandiing dirinya.
Bebagai riwayat, Qabil ngotot tidak ingin
menikah dengan Labuda, kembaran Habil yang dinilainya kurang elok. Dia
menentang perintah Sang Pencipta. Dia ngotot ingin menikah dengan kembarannya
sendiri karena parasnya lebih cantik.
“Qabil sangat menyayangi ibunya tapi
dibakar cemburu dan benci kepada adiknya. Benci yang membuatnya buta.
Kecantikan saudara kembarnya membuat sepasang penglihatannya gelap untuk
melakukan perbuatan yang sangat terkutuk: membunuh,” tutur Alim.
Qabil adalah ujian berat bagi Siti Hawa.
Dari kisah tragis tersebut, Siti Hawa mendapatkan pesan ketabahan dan kesabaran
sebagal seorang ibu yang kemudian dilanjutkan para keturunannya, para ibu,
dengan berbagai ujian masing-masing, hingga akhir masa.
Generasi baru terus lahir. Peradaban terus
berjalan. Para ibu mengambil peran itu. Mereka mengasuh generasi demi generasi
dengan penuh kasih-sayang. Tidak salah bila ada ungkapan bahwa ibu adalah
hadiah terindah untuk kelangsungan kehidupan di bumi.
“Seorang ibu adalah dunia bagi sebuah
keluarga. Dunia ini terasa sempit atau luas bagi penghuninya, tergantung
peranan ibu. Ungkapan ini menunjukkan betapa besarnya posisi seorang ibu dalam
membangun generasi dari awal hingga sekarang. Kalau bukan sentuhan seorang ibu,
tidak dapat dibayangkan betapa berantakannya kehidupan di dunia ini,” kata Alim.
Setelah memberi pembuka beberapa paragraf
di atas, Alim kemudian menganalisa dan mengomentari cerpen yang ada dalam buku
“Kumpulan Cerita Pendek, IBU” yang berisi 23 cerpen karya 23 Anggota IPMI.
Kedalaman Cinta Seorang Ibu
Ia mengatakan, ada banyak cerita dari
berbagai sisi, karakter, dan latar belakang mengenai seorang ibu. Dari kisah
ini saja menunjukkan bagaimana kedalaman cinta, peranan, dan posisi seorang ibu
- yang berasal dari berbagai pandangan dan pergulatan batin para penulis.
Kisah seorang ibu yang lembut, taat, tidak
pernah meninggikan suara kepada suaminya yang sabar, perhatian, dan penuh
cinta, ditemukan dalam cerpen “Perempuan Selembut Sutra”, karya Mira Pasolong.
Sang ibu lantas meninggal dunia. Operasi
tumor kandungan pernah dia jalani. Belakangan malah selalu didera sakit perut.
Perut yang kadang mengeras seperti batu. Dokter tidak dapat mendeteksi itu
penyakit apa.
“Tokoh aku atau anak dalam kisah tersebut,
yang merekam semua itu, ketika telah menjalani peran sebagai seorang istri,
jujur mengakui tidak bisa selembut ibunya. Tidak bisa meniru kedua orangtuanya,”
papar Alim.
Seorang ibu itu adalah mutiara. Mutiara
terindah yang tidak terukur nilainya. Siapakah yang dapat mengukur nilai
seorang ibu yang sepenuh jiwa berbakti kepada suami dan membesarkan
anak-anaknya?
Kepada sang suami dia begitu hormat, taat,
patuh, sabar, mendahulukan keperluan dan selera suami dibanding dirinya,
terkadang memandikan suami dengan tulus dan penuh kasih-sayang.
“Juga selalu menjadikan rumah harum
semerbak. Di manakah tempatnya mutiara seperti ini kelak? Tentu saja di tempat
yang terbaik dan terindah, yakni surga yang dijanjikan, dan berada di barisan
pertama memasukinya. Cerpen sarat pesan dan nilai tersebut adalah ‘Mutiara ltu
lbuku’ yang ditulis Syafruddin Muhtamar,” ujar Alim.
Ia juga mengomentari cerpen “Mau Kuracuni
Suamiku”. Wartawan dan budayawan ini menyebut tokoh ibu dalam cerpen ini
sebagai karakter ibu yang unik.
“Ibu yang ketika anaknya datang mengadu
lantaran tidak kuat menjalani kehidupan rumah tangga, berniat untuk meracuni
suaminya. Sang ibu yang mendengar dan menyimak keluhan anaknya itu, dengan
sabar malah mempersilakan anaknya untuk mewujudkan rencananya, namun dengan
syarat yang justru akan membuat sang anak rukun bersama suaminya. Belakangan,
hamil pula,” kata Alim.
Seorang ibu adalah pendidik yang terbaik.
Dalam cerpen “Perempuan Itu, Ibu!”, Idwar Anwar mengisahkan bagaimana seorang
ibu mendidik keempat anaknya di suatu desa terpencil agar tidak menyerah
meskipun dibelit kemiskinan.
Setting yang tergambar hidup dengan
karakter kuat sang ibu, menyodorkan pesan moral tentang usaha keras dan
kejujuran yang ditekankan kepada sang anak. Misalnya jujur, jangan mengambil
sesuatu yang bukan milik kita atau bukan hasil usaha kita.
“Kejujuran yang kemudian menjadi bekal
penting dalam perjalanan hidup sang anak,” kata Alim.
Seorang ibu adalah pembuat jejak kenangan
yang sempurna. Ujung-ujungnya akan membuat sepasang mata berair. Ke mana pun
mata memandang seakan hadir bayang-bayang ibu dengan senyumnya yang lembut: ke
langit biru, daun jambu, meja makan, ruang tamu, permadani Turki, ruang tengah,
perabotan, ubin, parfum, kue kukis, dan sebagainya.
“Nuansa kenangan seperti itu, dapat
dirasakan dalam cerpen ‘Bayang Kenangan di Langit Biru’ yang ditulis Yudhistira
Sukatanya,” sebut Alim.
Ada ungkapan bahwa seorang ibu mempunyai
waktu yang terbatas menggenggam tangan anak-anaknya namun dia menggenggam hati
anak-anak selamanya. Itu berarti kasih ibu sepanjang waktu, sementara kasih
anak hanya sepanjang galah.
Cerpen yang dikemas Muhammad Amir Jaya, “Tubuh
Ibu Bau Harum Kasturi”, mengisahkan seorang ibu, 70 tahun, hidup seorang diri
di kampung, anak-anaknya sudah sibuk dengan kehidupan rumah tangga
masing-masing.
Sang ibu selalu merindukan anak-anaknya.
Sejak suaminya meninggal, ibu itu didera perasaan sepi dan sendiri. Hari-hari
bergulir panjang dengan seorang diri. Hingga kemudian dia meninggal tanpa
siapa-siapa di dekatnya.
“Nuansa kegetiran sangat terasa dalam cerpen ini. Amir Jaya menceritakannya dengan pilihan plot yang ringan dan sederhana namun mengaduk perasaan,” kata Alim. (bersambung)
.....
Tulisan Bagian 5: “Bunuhlah” Kebencian dalam Rumah Tangga dengan Cinta dan Kesabaran
