-----
PEDOMAN KARYA
Catatan HUT Ke-3 IPMI dan Diskusi Buku
Kumpulan Cerpen “Ibu” (7):
Ibu dan
Pengorbanan yang Tak Pernah Bertepi
Oleh: Asnawin Aminuddin
Teramat berat beban seorang ibu. Memikul
penderitaan menjalaninya dengan tabah, kemudian menyimpan rapi dalam brankas
kesabaran. Ibu pernah tumbang di perjalanan ketika membawa pulang jualan yang
tersisa.
Ibu berjalan berkilo-kilo dari kampung ke
kampung, naik turun bukit membawa jualan. Ibu tidak pernah menceritakan itu.
lbu adalah pilihan berkorban yang tidak bertepi. Hingga kemudian sang ibu
sakit, kanker usus. Sang anak melanjutkan perjuangan hidupnya bekerja keras,
selain untuk sehari-hari juga berupaya untuk kesembuhan ibunya.
“Apakah sang ibu mewariskan penderitaan
kepada anaknya? Bukan. Sang ibu mewariskan semangat perjuangan dan bentuk
pengabdian yang nilainya jauh lebih besar. Pesan cerita ini diuraikan dalam cerpen
‘Mencium Kaki Ibu’ yang ditulis oleh Suradi Yasil,” tutur Alim.
Itu ia tulis dalam epilog Buku “Kumpulan
Cerita Pendek, IBU” karya 23 Anggota Ikatan Penulis Muslim Indonesia (IPMI)
yang diluncurkan pada Peringatan HUT ke-3 IPMI, di Kafebaca, Jalan Adhyaksa, No
2, Makassar, Rabu, 24 Desember 2025.
Diskusi buku menghadirkan tiga pembicara,
yakni Dr Asia Ramli Prapanca (seniman, akademisi), Anil Hukma (penyair,
akademisi), dan Irwan AT (seniman, jurnalis), serta dipandu oleh Damar I
Manakku (penulis).
HUT dan diskusi buku dihadiri sejumlah
sastrawan, akademisi dan juga wartawan, antara lain Prof Kembong Daeng, Dr
Dahlan Abubakar, Yudhistira Sukatanya, Andi Wanua Tangke, Dr. Syariar Tato,
Ahmadi Haruna, Syahril Rani Patakaki, Anwar Nasyaruddin, Andi Ruhban,
Syarifuddin Liwang.
Juga hadir Dr Fadli Andi Natsif, Rusdy
Embas, Andi Rosnawatih, Tofan Arief Wibowo, Rahman Rumaday, Andi Rosnawatih,
Syarifuddin Liwang, Rahman Rumaday, Kasmawati Yakub, dan Asnawin Aminudin.
Dalam buku tersebut, Muliaty Mastura
menulis cerpen berjudul: “Nasihat Ibu Sepanjang Waktu”. Tentang seorang ibu
yang begitu sabar mengawasi, membimbing, dan menasihati anak-anaknya setiap
hari. Seorang ibu yang ikhlas meninggalkan kariernya demi mengurus keluarga.
“Cerita ini memberi pesan betapa sabar,
tekun, tidak mengenal lelah, dan penuh pengorbanannya seorang ibu mengasuh,
membesarkan, dan mendidik anak-anaknva setiap hari. Wajar bila ada ungkapan
bahwa Hari Ibu itu setiap hari. Bukan setiap tahun,” kata Alim.
Wartawan dan budayawan itu juga
mengomentari cerpen “Ratmini” yang ditulis Andi Wanua Tangke. Berkisah tentang
Sundari yang menyimpan pengalaman kelam: dini hari, dia melihat ibunya,
Ratmini, ditangkap, diseret para pemuda yang beringas - sejak itu tidak
terdengar lagi kabar beritanya.
Tidak ada lagi pertemuan dengan ibunya
yang dituduh sebagai anggota organisasi terlarang. Tidak ada jejak lagi.
Termasuk jejak untuk ditunjukkan kepada suami dan anaknya. Jejak yang bisa
ditunjukkan berupa kesan bahwa ibunya adalah perempuan yang baik-baik dan
penyayang.
“Cerita ini teramat getir dan mengaduk
perasaan. Pesan yang ditangkap bahwa seorang ibu adalah penjaga dan pelindung yang
paling kuat di bumi,” kata Alim.
Cerita mengenai seorang ibu yang
menginginkan makan gado-gado, ditulis Nawir Sulthan. Judulnya: “Gado-Gado Buat
lbu”. Seorang ibu yang kondisi kesehatannya mulai lemah, sakit-sakitan dan
komplikasi beberapa penyakit sehingga jenis makanannya terbatas. Namun karena
keinginan ibu, sang anak kemudian membeli gado-gado meskipun was-was asam urat
sang ibu kambuh.
“Tentang ibu yang didera penyakit di usia senjanya,
Nawir menuliskannya menyayat, aku melihat dirinya sebagat pelari marathon yang
sendirian, dengan napas yang memburu. Dia terus berlari dan berlari dengan
kaki-kaki luka menuju garis finish,” tulis Alim.
Alim mengatakan, kumpulan cerita pendek
yang berkisah tentang ibu dalam buku ini seakan harus menghela napas panjang
seusai membaca setiap cerita. Banyak kisah seorang ibu dari berbagai sisi dan
latar belakang. Betapa agung dan mulia kedudukan seorang ibu.
Frasa ini pun masih sangat sederhana untuk
mengungkap kedudukan seorang ibu. Seorang ibu yang tidak akan pernah menyamai
pengorbanan ibunya. Seorang ibu, pada akhirnya, adalah penjaga dan pelindung
paling setia, bahkan ketika dunia tak lagi ramah.
“Pantas bila tentang ibu, Rasulullah
Shallallabu alaihi wasallam kemudian bersabda, ‘Berbaktilah kepada ibumu karena
sungguh ada surga di bawah kedua kakinya’,” kata Alim.
Sebuah pengingat bahwa pengorbanan ibu bukan hanya tak bertepi, tetapi juga menjadi jalan menuju kemuliaan tertinggi. (bersambung)
.....
Tulisan Bagian ke-6: Cerpen-cerpen tentang Ibu yang Mengaduk Perasaan
