Ibu dan Pengorbanan yang Tak Pernah Bertepi

Peserta dan pembicara foto bersama seusai Diskusi Buku “Kumpulan Cerita Pendek, IBU” karya 23 Anggota IPMI yang diluncurkan pada Peringatan HUT ke-3 IPMI, di Kafebaca, Jalan Adhyaksa, No 2, Makassar, Rabu, 24 Desember 2025.  

 

-----

PEDOMAN KARYA 

Sabtu, 03 Januari 2026

 

Catatan HUT Ke-3 IPMI dan Diskusi Buku Kumpulan Cerpen “Ibu” (7):

 

Ibu dan Pengorbanan yang Tak Pernah Bertepi

 

Oleh: Asnawin Aminuddin

 

Teramat berat beban seorang ibu. Memikul penderitaan menjalaninya dengan tabah, kemudian menyimpan rapi dalam brankas kesabaran. Ibu pernah tumbang di perjalanan ketika membawa pulang jualan yang tersisa.

Ibu berjalan berkilo-kilo dari kampung ke kampung, naik turun bukit membawa jualan. Ibu tidak pernah menceritakan itu. lbu adalah pilihan berkorban yang tidak bertepi. Hingga kemudian sang ibu sakit, kanker usus. Sang anak melanjutkan perjuangan hidupnya bekerja keras, selain untuk sehari-hari juga berupaya untuk kesembuhan ibunya.

“Apakah sang ibu mewariskan penderitaan kepada anaknya? Bukan. Sang ibu mewariskan semangat perjuangan dan bentuk pengabdian yang nilainya jauh lebih besar. Pesan cerita ini diuraikan dalam cerpen ‘Mencium Kaki Ibu’ yang ditulis oleh Suradi Yasil,” tutur Alim.

Itu ia tulis dalam epilog Buku “Kumpulan Cerita Pendek, IBU” karya 23 Anggota Ikatan Penulis Muslim Indonesia (IPMI) yang diluncurkan pada Peringatan HUT ke-3 IPMI, di Kafebaca, Jalan Adhyaksa, No 2, Makassar, Rabu, 24 Desember 2025.

Diskusi buku menghadirkan tiga pembicara, yakni Dr Asia Ramli Prapanca (seniman, akademisi), Anil Hukma (penyair, akademisi), dan Irwan AT (seniman, jurnalis), serta dipandu oleh Damar I Manakku (penulis).

HUT dan diskusi buku dihadiri sejumlah sastrawan, akademisi dan juga wartawan, antara lain Prof Kembong Daeng, Dr Dahlan Abubakar, Yudhistira Sukatanya, Andi Wanua Tangke, Dr. Syariar Tato, Ahmadi Haruna, Syahril Rani Patakaki, Anwar Nasyaruddin, Andi Ruhban, Syarifuddin Liwang.

Juga hadir Dr Fadli Andi Natsif, Rusdy Embas, Andi Rosnawatih, Tofan Arief Wibowo, Rahman Rumaday, Andi Rosnawatih, Syarifuddin Liwang, Rahman Rumaday, Kasmawati Yakub, dan Asnawin Aminudin.

Dalam buku tersebut, Muliaty Mastura menulis cerpen berjudul: “Nasihat Ibu Sepanjang Waktu”. Tentang seorang ibu yang begitu sabar mengawasi, membimbing, dan menasihati anak-anaknya setiap hari. Seorang ibu yang ikhlas meninggalkan kariernya demi mengurus keluarga.

“Cerita ini memberi pesan betapa sabar, tekun, tidak mengenal lelah, dan penuh pengorbanannya seorang ibu mengasuh, membesarkan, dan mendidik anak-anaknva setiap hari. Wajar bila ada ungkapan bahwa Hari Ibu itu setiap hari. Bukan setiap tahun,” kata Alim.

Wartawan dan budayawan itu juga mengomentari cerpen “Ratmini” yang ditulis Andi Wanua Tangke. Berkisah tentang Sundari yang menyimpan pengalaman kelam: dini hari, dia melihat ibunya, Ratmini, ditangkap, diseret para pemuda yang beringas - sejak itu tidak terdengar lagi kabar beritanya.

Tidak ada lagi pertemuan dengan ibunya yang dituduh sebagai anggota organisasi terlarang. Tidak ada jejak lagi. Termasuk jejak untuk ditunjukkan kepada suami dan anaknya. Jejak yang bisa ditunjukkan berupa kesan bahwa ibunya adalah perempuan yang baik-baik dan penyayang.

“Cerita ini teramat getir dan mengaduk perasaan. Pesan yang ditangkap bahwa seorang ibu adalah penjaga dan pelindung yang paling kuat di bumi,” kata Alim.

Cerita mengenai seorang ibu yang menginginkan makan gado-gado, ditulis Nawir Sulthan. Judulnya: “Gado-Gado Buat lbu”. Seorang ibu yang kondisi kesehatannya mulai lemah, sakit-sakitan dan komplikasi beberapa penyakit sehingga jenis makanannya terbatas. Namun karena keinginan ibu, sang anak kemudian membeli gado-gado meskipun was-was asam urat sang ibu kambuh.

“Tentang ibu yang didera penyakit di usia senjanya, Nawir menuliskannya menyayat, aku melihat dirinya sebagat pelari marathon yang sendirian, dengan napas yang memburu. Dia terus berlari dan berlari dengan kaki-kaki luka menuju garis finish,” tulis Alim.

Alim mengatakan, kumpulan cerita pendek yang berkisah tentang ibu dalam buku ini seakan harus menghela napas panjang seusai membaca setiap cerita. Banyak kisah seorang ibu dari berbagai sisi dan latar belakang. Betapa agung dan mulia kedudukan seorang ibu.

Frasa ini pun masih sangat sederhana untuk mengungkap kedudukan seorang ibu. Seorang ibu yang tidak akan pernah menyamai pengorbanan ibunya. Seorang ibu, pada akhirnya, adalah penjaga dan pelindung paling setia, bahkan ketika dunia tak lagi ramah.

“Pantas bila tentang ibu, Rasulullah Shallallabu alaihi wasallam kemudian bersabda, ‘Berbaktilah kepada ibumu karena sungguh ada surga di bawah kedua kakinya’,” kata Alim.

Sebuah pengingat bahwa pengorbanan ibu bukan hanya tak bertepi, tetapi juga menjadi jalan menuju kemuliaan tertinggi. (bersambung)


.....

Tulisan Bagian ke-6: Cerpen-cerpen tentang Ibu yang Mengaduk Perasaan


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama