-------
PEDOMAN KARYA
Rabu, 31 Desember 2025
Catatan HUT Ke-3 IPMI dan Diskusi Buku
Kumpulan Cerpen “Ibu” (5):
“Bunuhlah”
Kebencian dalam Rumah Tangga dengan Cinta dan Kesabaran
Oleh: Asnawin Aminuddin
Diskusi buku sering kali berhenti pada
penilaian estetik dan teknis karya. Namun, dalam Diskusi Buku “Kumpulan Cerita
Pendek, IBU” yang dirangkaikan dengan Peringatan HUT Ke-3 Ikatan Penulis Muslim
Indonesia (IPMI), pembacaan terhadap cerpen justru melampaui wilayah sastra.
Ia menjelma menjadi ruang perenungan
tentang rumah tangga, relasi manusia, dan cara paling manusiawi menghadapi luka
batin. Salah satu pesan moral yang paling mengendap datang dari cerpen “Mau
Kuracuni Suamiku”. Kebencian tidak dilawan dengan kemarahan, tetapi “dibunuh”
perlahan melalui cinta, kesabaran, dan perbaikan diri.
Asia Ramli Prapanca menilai cerpen ini
memiliki pesan moral dan makna psikologis yang sangat mendalam, meskipun
dimulai dengan premis yang ekstrem.
“Ibunya Yanti sangat cerdas. Alih-alih
memarahi atau menceramahi Yanti, ia memberikan ‘strategi’ yang sebenarnya
adalah cara untuk memperbaiki kualitas diri dan hubungan. Pesan utamanya adalah
cara terbaik untuk melunakkan hati seseorang (dan hati kita sendiri) bukanlah
dengan kekerasan, melainkan dengan kasih sayang dan pelayanan yang tulus,” tutur
Ram Prapanca.
Yanti awalnya merasa tidak tahan karena
mungkin ia hanya fokus pada kekurangan suaminya atau konflik yang ada. Namun,
ketika Yanti mengubah sikapnya menjadi istri yang lebih baik (rajin, perhatian,
dan religius), respons suaminya pun ikut berubah.
Ini mengajarkan bahwa seringkali dunia di
sekitar kita berubah mengikuti perubahan yang kita lakukan pada diri sendiri,”
papar Ram yang tampil sebagai pembicara bersama Anil Hukma (penyair, akademisi), dan
Irwan AT (seniman, wartawan), yang dipandu oleh Damar I Manakku (penulis).
Sang Ibu tidak langsung menghakimi niat
buruk anaknya. Sang ibu menggunakan pendekatan psikologis untuk mengulur waktu
(satu bulan) agar emosi Yanti mereda. Pesan bagi para orang tua atau penasihat
adalah hadapi kemarahan dengan ketenangan dan berikan solusi yang mengarahkan
pada kebaikan tanpa terlihat menggurui.
Dalam cerita, disebutkan Yanti menjadi
rajin shalat, mengaji, dan puasa. Hal ini menunjukkan bahwa mendekatkan diri
kepada Tuhan dapat memberikan kejernihan berpikir dan ketenangan hati, sehingga
niat buruk atau amarah yang meledak-ledak bisa hilang dengan sendirinya.
Kehadiran calon bayi (kehamilan Yanti)
menjadi titik balik yang menyempurnakan kebahagiaannya. Ini mengingatkan bahwa
di balik setiap kesulitan rumah tangga, seringkali ada rencana indah yang sudah
disiapkan Tuhan jika kita mau bersabar dan berusaha memperbaiki keadaan.
“Pesan utama cerpen ini adalah ‘bunuhlah’ kebencian
dalam rumah tangga dengan cinta, kesabaran, dan perbaikan diri, bukan dengan
memutus hubungan atau melakukan kekerasan,” kata Ram Prapanca.
Ibu yang Unik
Nur Alim Djalil juga mengomentari cerpen “Mau
Kuracuni Suamiku” dalam epilognya di buku “Kumpulan Cerita Pendek, IBU”. Wartawan
dan budayawan ini menyebut tokoh ibu dalam cerpen ini sebagai karakter ibu yang
unik.
“Ibu yang ketika anaknya datang mengadu lantaran tidak kuat menjalani kehidupan rumah tangga, berniat untuk meracuni suaminya. Sang ibu yang mendengar dan menyimak keluhan anaknya itu, dengan sabar malah mempersilakan anaknya untuk mewujudkan rencananya, namun dengan syarat yang justru akan membuat sang anak rukun bersama suaminya. Belakangan, hamil pula,” kata Alim. (bersambung)
.....
Tulisan Bagian 4: Pesan-pesan Moral dalam Kumpulan Cerpen “IBU”
