“Bunuhlah” Kebencian dalam Rumah Tangga dengan Cinta dan Kesabaran

Andi Rosnawatih tampil membacakan puisi dalam diskusi dua buku kumpulan cerpen “IBU” pada peringatan HUT ke-3 Ikatan Penulis Muslim Indonesia (IPMI), di Kafebaca, Jalan Adhyaksa, No 2, Makassar, Rabu, 24 Desember 2025. (ist)  

 

-------

PEDOMAN KARYA

Rabu, 31 Desember 2025

 

Catatan HUT Ke-3 IPMI dan Diskusi Buku Kumpulan Cerpen “Ibu” (5):

 

“Bunuhlah” Kebencian dalam Rumah Tangga dengan Cinta dan Kesabaran

 

Oleh: Asnawin Aminuddin

 

Diskusi buku sering kali berhenti pada penilaian estetik dan teknis karya. Namun, dalam Diskusi Buku “Kumpulan Cerita Pendek, IBU” yang dirangkaikan dengan Peringatan HUT Ke-3 Ikatan Penulis Muslim Indonesia (IPMI), pembacaan terhadap cerpen justru melampaui wilayah sastra.

Ia menjelma menjadi ruang perenungan tentang rumah tangga, relasi manusia, dan cara paling manusiawi menghadapi luka batin. Salah satu pesan moral yang paling mengendap datang dari cerpen “Mau Kuracuni Suamiku”. Kebencian tidak dilawan dengan kemarahan, tetapi “dibunuh” perlahan melalui cinta, kesabaran, dan perbaikan diri.

Asia Ramli Prapanca menilai cerpen ini memiliki pesan moral dan makna psikologis yang sangat mendalam, meskipun dimulai dengan premis yang ekstrem.

“Ibunya Yanti sangat cerdas. Alih-alih memarahi atau menceramahi Yanti, ia memberikan ‘strategi’ yang sebenarnya adalah cara untuk memperbaiki kualitas diri dan hubungan. Pesan utamanya adalah cara terbaik untuk melunakkan hati seseorang (dan hati kita sendiri) bukanlah dengan kekerasan, melainkan dengan kasih sayang dan pelayanan yang tulus,” tutur Ram Prapanca.

Yanti awalnya merasa tidak tahan karena mungkin ia hanya fokus pada kekurangan suaminya atau konflik yang ada. Namun, ketika Yanti mengubah sikapnya menjadi istri yang lebih baik (rajin, perhatian, dan religius), respons suaminya pun ikut berubah.

Ini mengajarkan bahwa seringkali dunia di sekitar kita berubah mengikuti perubahan yang kita lakukan pada diri sendiri,” papar Ram yang tampil sebagai pembicara bersama Anil Hukma (penyair, akademisi), dan Irwan AT (seniman, wartawan), yang dipandu oleh Damar I Manakku (penulis).

Sang Ibu tidak langsung menghakimi niat buruk anaknya. Sang ibu menggunakan pendekatan psikologis untuk mengulur waktu (satu bulan) agar emosi Yanti mereda. Pesan bagi para orang tua atau penasihat adalah hadapi kemarahan dengan ketenangan dan berikan solusi yang mengarahkan pada kebaikan tanpa terlihat menggurui.

Dalam cerita, disebutkan Yanti menjadi rajin shalat, mengaji, dan puasa. Hal ini menunjukkan bahwa mendekatkan diri kepada Tuhan dapat memberikan kejernihan berpikir dan ketenangan hati, sehingga niat buruk atau amarah yang meledak-ledak bisa hilang dengan sendirinya.

Kehadiran calon bayi (kehamilan Yanti) menjadi titik balik yang menyempurnakan kebahagiaannya. Ini mengingatkan bahwa di balik setiap kesulitan rumah tangga, seringkali ada rencana indah yang sudah disiapkan Tuhan jika kita mau bersabar dan berusaha memperbaiki keadaan.

“Pesan utama cerpen ini adalah ‘bunuhlah’ kebencian dalam rumah tangga dengan cinta, kesabaran, dan perbaikan diri, bukan dengan memutus hubungan atau melakukan kekerasan,” kata Ram Prapanca.

 

Ibu yang Unik

 

Nur Alim Djalil juga mengomentari cerpen “Mau Kuracuni Suamiku” dalam epilognya di buku “Kumpulan Cerita Pendek, IBU”. Wartawan dan budayawan ini menyebut tokoh ibu dalam cerpen ini sebagai karakter ibu yang unik.

“Ibu yang ketika anaknya datang mengadu lantaran tidak kuat menjalani kehidupan rumah tangga, berniat untuk meracuni suaminya. Sang ibu yang mendengar dan menyimak keluhan anaknya itu, dengan sabar malah mempersilakan anaknya untuk mewujudkan rencananya, namun dengan syarat yang justru akan membuat sang anak rukun bersama suaminya. Belakangan, hamil pula,” kata Alim. (bersambung)


.....

Tulisan Bagian 4: Pesan-pesan Moral dalam Kumpulan Cerpen “IBU”


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama