-----
PEDOMAN KARYA
Ahad, 18 Januari 2026
Masjid, Ibadah,
Pendidikan, dan Kebersamaan Umat
Masjid bukan sekadar bangunan tempat
menunaikan shalat. Ia adalah pusat kehidupan umat. Ruang bersama yang
menghidupkan nilai-nilai keagamaan, sosial, dan kemasyarakatan. Dari masjid,
denyut spiritual dan kebersamaan warga bertemu dan tumbuh.
Setiap hari, masjid menghidupkan shalat
berjamaah lima waktu, mempertemukan jamaah dalam ikatan iman dan ukhuwah.
Pada hari-hari tertentu, terutama di akhir
pekan, masjid menjadi tempat pengajian rutin, kajian keislaman, dan diskusi
keagamaan yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat. Di sana, jamaah tidak
hanya mendengar ceramah, tetapi juga diberi ruang untuk bertanya dan berdialog.
Masjid yang hidup juga memberi perhatian
pada pendidikan. Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) diaktifkan untuk membina
anak-anak sejak dini agar akrab dengan Al-Qur’an. Majelis taklim ibu-ibu dan
remaja putri menjadi ruang belajar, berbagi, dan memperkuat peran perempuan
dalam dakwah.
Remaja masjid dihimpun dalam organisasi
ikatan remaja masjid, dilibatkan dalam pengajian khusus pemuda, sekaligus
dilatih menjadi generasi penerus yang peduli dan bertanggung jawab.
Tidak hanya itu, masjid juga dapat menjadi
pusat pemberdayaan umat melalui pendirian koperasi masjid dan sekolah diniyah.
Langkah ini menjadikan masjid hadir menjawab kebutuhan ekonomi dan pendidikan
masyarakat, bukan hanya urusan ibadah semata.
Suasana masjid semakin hangat saat
pengajian usai. Jamaah dan warga berkumpul, ngopi bersama, ngobrol santai,
saling menyapa tanpa sekat. Dari obrolan ringan itulah keakraban terbangun,
persaudaraan diperkuat, dan masjid benar-benar hadir sebagai rumah bersama
umat.
Masjid yang hidup adalah masjid yang
diramaikan, dimakmurkan, dan memberi manfaat nyata bagi lingkungannya. Dari
masjid, lahir iman yang kokoh, ilmu yang berkah, dan masyarakat yang rukun. (asnawin
aminuddin)
