Dendam dan Korban

Tahun-tahun berlalu. Fahmi tumbuh bersama panggung. Ia memerankan Amir dalam “Mereka Mulai Menyerang”. Drama perjuangan yang menggema di masa gelisah negeri ini. Pujian datang dari para sutradara.(ist) 

 

-----

PEDOMAN KARYA

Ahad, 18 Januari 2026

 

CERPEN

 

Dendam dan Korban

 

Karya: Asnawin Aminuddin

 

Sore itu, cahaya matahari jatuh miring di lorong kelas SMA Negeri 1 Bulukumba. Di ambang pintu, seorang siswa kelas dua berdiri tanpa suara. Seragamnya rapi, tubuhnya kurus, matanya tajam mengamati panggung kecil di dalam kelas.

Di sanalah latihan drama berlangsung. Drama perpisahan kakak kelas yang setiap sore menyedot riuh tawa, teriakan, dan ambisi.

Namanya Fahmi.

Setiap sore ia datang. Setiap sore pula ia pulang dengan dada penuh harap yang tak pernah dipanggil. Andis, guru seni sekaligus sutradara pementasan itu, tak sekalipun menoleh. Fahmi hanya penonton sunyi. Bayangan di ambang pintu. Saksi dari dunia yang ingin dimasukinya.

Ia berharap suatu hari namanya disebut.

Tak pernah.

Latihan terakhir berlalu. Pementasan digelar. Tepuk tangan membuncah. Fahmi tetap di luar panggung.

Di sanalah dendam itu lahir.

Bukan dendam yang ingin melukai, melainkan dendam yang ingin membuktikan. Dendam yang diam-diam tumbuh menjadi tekad.

“Baiklah,” bisik Fahmi pada dirinya sendiri.

Dengan mengepalkan tangan, ia berkata, “Kalau saya tidak dipanggil, saya akan memanggil diriku sendiri ke panggung.”

Malam-malamnya berubah. Kertas dan pena menjadi panggung rahasia. Ia menulis sebuah naskah: “Dendam dan Korban”. Kisah cinta segitiga yang berujung darah. Badik terhunus. Emosi membara. Naskah itu ditulis oleh seorang anak yang pernah diabaikan.

Ia berlatih bersama teman-temannya. Mereka bernasib sama. Tidak diajak bermain drama perpisahan sekolah. Tidak dilirik. Tidak dihitung. Ia juga mengajak sepupu dan adik kelasnya, Mahrus.

“Mahrus. Ikutko latihan drama. Kita jadi pemain drama. Kita jadi pemain teater,” ajak Fahmi.

“Siapa yang mau latihki’. Tidak ada pelatih ta’. Tidak ada juga pengalaman ta’. Dimanaki’ ambil naskah drama?” kata Mahrus ragu.

“Tenangmako’. Saya sudah bikin naskah drama. Saya juga sudah mengajak beberapa teman sekolah ta’. Ternyata banyak yang mau. Mereka juga sama dengan saya. Sama-sama berharap dipanggil main drama perpisahan sekolah oleh Pak Andis, tapi Pak Andis tidak melirik kita,” kata Fahmi.

“Oh, begitu. Jadi kapan kita mulai berlatih? Dimana?” tanya Mahrus.

“Kita mulai besok sore, setelah pulang dari sekolah,” kata Fahmi.

Sore-sore yang dulu dihabiskan di ambang pintu, kini berpindah-pindah tempat. Halaman rumah, kolong bangunan, ruang kosong yang seadanya. Sebulan lebih mereka menghafal dialog, menata gerak, dan menyusun keberanian dari sisa-sisa percaya diri.

Setelah mereka merasa cukup, Fahmi dan teman-temannya menemui Pak Andis.

“Tabe’ Pak. Saya dan teman-teman sudah berlatih main drama. Satu bulan kami berlatih. Saya minta Bapak melihat hasil latihan kami,” kata Fahmi dengan penuh percaya diri.

Pak Andis sangat gembira melihat antusiasme Fahmi. Ia pun menyediakan satu ruangan untuk melihat aksi pertunjukan drama Fahmi dan teman-temannya. Pak Andis puas melihat aksi pertunjukan mereka.

Pertunjukan kecil itu berlangsung tanpa panggung megah, tanpa lampu sorot. Hanya napas yang tertahan dan jantung yang berdebar. Usai pertunjukan, Pak Andis tersenyum lama. Senyum yang tak pernah Fahmi lihat sebelumnya.

Pak Andis kemudian melaporkan kepada kepala sekolah dan disepakati akan dicarikan momentum bagi Fahmi cs untuk tampil dalam pementasan drama. Dan momentum itu tiba pada sebuah acara tingkat kabupaten di Gedung Wanita.

Fahmi bukan pemeran utama. Pemeran utama diberikan kepada Mahrus, sepupunya. Fahmi tak keberatan. Prinsipnya sederhana. Biarkan penonton yang menilai. Ia tak tahu, kelak ia akan menyadari bahwa naskahnya dipengaruhi drama Ayahku Pulang karya Usmar Ismail, sebuah jejak awal bahwa teater memang telah bersemayam jauh di bawah alam sadarnya.

Dari situlah semuanya bermula.

Tahun-tahun berjalan seperti adegan yang berganti. Fahmi tumbuh bersama panggung. Ia bermain dalam berbagai lakon: tentang perjuangan, tentang kekuasaan, tentang manusia dan sejarahnya. Ia berlatih lama, menunggu giliran, jatuh, bangkit, lalu berdiri lagi. Kadang dipuji, kadang dilupakan. Tetapi ia terus berjalan.

Dalam pertunjukan drama “Mereka Mulai Menyerang”, Fahmi memerankan Amir. Drama perjuangan yang menggema di masa gelisah negeri ini. Pujian datang dari para sutradara.

“Kau punya bakat,” kata mereka.

Kata-kata yang dulu tak pernah ia dengar, kini mengetuk dadanya dengan hangat.

Ia masuk Fakultas Sastra Unhas. Berteater bersama mereka yang kelak menjadi legenda. Enam bulan latihan untuk satu pementasan. Honor delapan ribu rupiah langsung menjelma menjadi celana ketat merah tua. Kenangan yang selalu ia ceritakan sambil tertawa.

Panggung-panggung lain datang. Kota-kota lain memanggil. Rambutnya pernah gondrong, celananya pernah merah menyala. Honor kecil tak jarang lebih berharga dari tepuk tangan. Teater perlahan menjelma rumah—tempat ia pulang, meski sering juga tempat ia gelisah.

Ia membentuk kelompok demi kelompok. Sebagian bertahan, sebagian hilang ditelan waktu. Namun keyakinannya tak berubah: teater bukan sekadar pertunjukan, melainkan cara memahami hidup.

Penghargaan datang silih berganti. Pemain terbaik. Kritik sinetron terbaik. Anugerah seni. Tapi semua itu tak pernah membuatnya berhenti gelisah.

Suatu hari, Fahmi menyadari sesuatu yang membuat dadanya hangat. Mahrus, sepupu yang dulu ia ajak berlatih tanpa pelatih, tumbuh menjadi penulis, budayawan, dan kritikus sastra.

“Kau malah melebihi saya Mahrus. Kau malah jadi kritikus sastra. Tidak banyak orang yang bisa dan diakui sebagai kritikus sastra,” kata Fahmi.

Kini, di usia senja, Fahmi masih berbicara tentang teater dengan tangan yang bergerak dan mata yang menyala. Ia resah. Kekurangan penulis. Kekurangan sutradara. Kekurangan aktor. Kekurangan ruang. Namun ia percaya, masalah teater bukan pada gedung, melainkan kemauan.

Fahmi sering duduk sendiri di sebuah gedung pertunjukan yang kosong. Kursi-kursi berdebu menghadap panggung gelap. Ia duduk di barisan tengah, tempat penonton biasa memberi tepuk tangan.

Tak ada suara. Tak ada lampu. Hanya kenangan.

Di panggung itu, ia seolah melihat dirinya yang dulu. Anak kurus di ambang pintu kelas, menggenggam dendam yang kelak berubah menjadi jalan panjang.

“Siapa yang mau belajar?” katanya lirih, seolah bertanya pada generasi yang tak lagi ia kenali.

Ia menghela napas.

“Masalah teater bukan gedung. Masalahnya adalah kemauan,” gumamnya.

Ia bangkit perlahan. Melangkah ke atas panggung. Berdiri di tengah ruang kosong. Untuk sesaat, ia menutup mata. Di kepalanya, dialog kembali hidup. Lampu menyala. Tepuk tangan bergema.

Bagi Fahmi, teater tak pernah benar-benar selesai. Bukan hanya di panggung. Bahkan dalam tidurnya, ia masih mendengar dialog, lampu panggung, dan tepuk tangan. Bagi Fahmi, teater bukan hanya di panggung. Dalam mimpi pun, ia tetap berteater.***


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama