-----
Jumat, 30 Januari 2026
Menjemput Cerita
di SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara Takalar
Laporan: Rusdin Tompo
(Penulis dan Koordinator SATUPENA
Sulawesi Selatan)
Buku dan aktivitas menulis mempertemukan saya dengan banyak orang di berbagai tempat. Saya akan selalu meringankan langkah bila ada orang yang mengajak ke tempatnya, bertemu, guna membicarakan rencana penulisan buku.
Itulah alasan mengapa saya bisa sampai di
SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara, Rabu, 28 Januari 2026. Sekolah yang berada
di Desa Kale Ko’mara, Kecamatan Polongbangkeng Timur, Kabupaten Takalar ini,
berjarak sekira 42 km dari Kota Makassar.
Cuaca yang tak menentu bukan kendala
ketika niat sudah dimantapkan. Saya tambah bersemangat, ketika Erma Mapparenta,
S.Pd, M.Pd, mengirimkan video pendek yang memperlihatkan lokasi sekolahnya.
“Sekolah kami di atas bukit, dengan latar
pemandangan Bendungan Pamukkulu di depannya,” kata Bu Erma, saat menjapri saya
via WhatsApp, beberapa hari sebelumnya.
Erma Mapparenta merupakan Kepala UPT SPF
SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara. SK-nya sebagai kepala sekolah tertanggal 8
Desember 2025.
Sebelumnya, perempuan berkacamata ini
mengajar di SMP Negeri 1 Mangarabombang. Di sekolah ini dia mengabdi sebagai
guru mulai 13 Maret 2020 sampai dengan 7 Desember 2025.
Jadi, boleh dikata, baru lebih sebulan dia
diamanahkan memimpin SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara. Sekolah ini terdengar
unik, meski namanya SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara, tetapi berada di
Polangbangkeng Timur.
“Begitu memang nama sekolah kami. Tidak
bisa diganti,” ujar Bu Erma, saat saya bersama Haeruddin Ahar Daeng Nassa, yang
dikenal sebagai Pasinrilik, sudah berada di sekolahnya pagi itu.
Saya dipertemukan dengan Bu Erma dalam
suatu kegiatan Perempuan PGRI Sulawesi Selatan, yang diketuai Dra Hj Hendriati
Sabir, M.Pd. Kegiatan ini hendak mendorong guru-guru yang tergabung dalam
organisasi itu untuk menulis buku.
Bu Erma termasuk yang proaktif
berkomunikasi. Dia mau menulis memoar sebagai seorang guru. Saya malah sudah
membuatkan daftar pertanyaan untuk dijawab. Ini salah satu metode yang biasa
saya gunakan. Dalam rangka menulis memoar itulah saya ke sekolahnya.
Saya membawa beberapa buku untuk
didonasikan. Ada pula buku karya murid-murid SD yang ditulis sebagai hasil
kegiatan menulis kreatif dan pengembangan minat bakat (ektrakurikuler).
Juga ada buku kumpulan publikasi sekolah
sebagai contoh konkret manfaat menulis dan pendokumentasian. Pengalaman
mengembangkan inovasi sebagai best practice (praktik baik) ini adalah strategi
pendekatan saya: tunjukkan dengan bukti!
Namun sebelum bertemu siswa di kelas, kami
ke balla rate (rumah atas) untuk ngopi dan mencicipi penganan yang disediakan.
Bangunan ini berada di areal sekolah, yang berfungsi pula sebagai kantin.
Dari rumah tradisional Makassar ini,
terhampar di depan kami pemandangan Bendungan Pamukkulu nan indah.
Tampak Gunung Baturape di sebelah barat
dan Gunung Cindako di sebelah utara. Sementara bebukitan di depannya membentuk
layer-layer yang bayangannya memantul di permukaan air. Kabut yang menyaput di
atas bebukitan kian memanjakan mata.
“View ini yang mahal,” kata saya sembari
menyeruput kopi susu hangat yang dihidangkan.
Di rumah atas itu, saya bertemu Sirajuddin
Daeng Pata’, kerabat Bu Erma yang juga seorang Pasinrik. Juga ada Andi Indra
Mapparenta, jurnalis, serta Pak Rahman dan Pak Irfayandi, keduanya guru SMP
Negeri 6 Polongbangkeng Utara.
Beruntung, saya juga bertemu dengan Pak
Parawansa, Kepala Desa Kale Ko'mara, yang langsung akrab. Saya bilang, sudah
menonton profil desa Kale Ko'mara dan pertunjukkan Tari Kolosal Dampang Ko'mara
lewat kanal YouTube.
“Wah luar biasa, kita sudah nonton. Itu
ide gila, bikin pertunjukan dengan melibatkan banyak orang,” kata kepala desa
yang dalam usia mudanya, sudah kaya pengalaman itu.
Pak Parawansa berkeinginan pengalaman
hidupnya dibukukan. Keinginan yang sama juga disampaikan oleh Pak Rahman, yang
membagikan kisahnya selama menjadi guru di Tanimbar, Maluku Tenggara.
Saya langsung mengajak keduanya bersalaman
sebagai tanda sepakat menjadi bagian dari penulisan buku mereka. Itu artinya,
saya akan sering ke sekolah dan desa ini hehehe.
Oh iya, ada bonus dari tuan rumah. Kami
disuguhkan santap siang. Bolu bakar, nila goreng, ayam, raca-raca taipa, sayur
daun pepaya, dan sop hangat, di tata membentuk formasi yang siap dicicipi.
“Rezeki makan itu kita tidak tahu, akan
datang dari mana, dan dari siapa,” kata Bu Erma sambil mempersilakan kami.
Setelah bersantai sejenak, kami lalu
diajak ke salah satu ruang kelas yang bersebelahan dengan ruang guru. Di sini
sudah menunggu 50an siswa, mulai kelas 7 hingga kelas 9.
Karena pertemuan hari itu bukan kegiatan
formal maka penyampaian yang saya berikan hanya berupa motivasi menulis. Bahwa
mereka pun bisa menulis, punya karya dalam bentuk buku.
Saya perlihatkan buku-buku karya
murid-murid SD yang saya bawa. Saya ajak mereka menulis apa saja, mulai dari
hobi, aktivitas di sekolah, kegiatan di rumah, suasana desa, dan semua yang
mereka mau ceritakan.
Saya optimis dan percaya pada potensi yang
dimiliki setiap anak. Itu tercermin pada cita-cita yang mereka sampaikan, saat
sesi perkenalan. Ada yang ingin jadi dokter, guru, polisi, anggota Kopassus,
juga TikToker.
“Banyak orang hebat, tokoh besar, yang
berasal dari desa, bahkan daerah terpencil. Kisah-kisah mereka menginspirasi,
salah satunya karena dibubukan. Kita pun bisa menulis kisah kita sendiri, dan
itu mesti dilakukan sejak sekarang,” imbuh saya di akhir pertemuan.
Menulis bagi saya bukan sekadar hobi dan
profesi, melainkan panggilan dan gerakan. Pelan-pelan saya menularkan spirit
itu pada sesiapa yang saya temui, sebagai cara membangun kesadaran kritis.***

