![]() |
| Rasulullah ﷺ mengundang makan keluarga besar beliau. Mereka pun datang, “Muhammad beri aku arak!” seru seorang paman beliau yang bernama Zubair. Namun Rasulullah SAW hanya menyuguhkan susu. (int) |
-----
PEDOMAN KARYA
Sabtu, 24 Januari 2026
Kisah Nabi Muhammad SAW (29):
Rasulullah
Ajak Keluarganya Masuk Islam, Zubair Minta Disuguhi Arak
Mengetahui betapa kerasnya
kebencian orang-orang Quraisy, kaum Muslimin permulaan (Assaabiquunal Awaluun)
melaksanakan ibadah mereka secara sembunyi-sembunyi. Jika hendak shalat mereka
pergi ke celah-celah gunung di Mekah.
Keadaan ini berlangsung selama
tiga tahun berturut-turut. Sementara itu, sedikit demi sedikit Islam semakin
meluas. Firman Allah yang turun satu demi satu semakin memperkuat keyakinan
kaum Muslimin.
Ada satu hal yang membuat
dakwah Islam berkembang, yaitu keteladanan Rasulullah ﷺ, yang beliau contohkan
dengan sangat baik. Beliau adalah orang yang penuh bakti dan penuh kasih
sayang. Beliau juga sangat rendah hati sekaligus gagah berani. Tutur kata
beliau lembut dan selalu berlaku adil.
Hak setiap orang pasti
ditunaikan sebagaimana mestinya. Perlakuan Rasulullah ﷺ terhadap orang-orang
yang lemah, yatim piatu, orang sengsara, dan orang miskin adalah perlakuan yang
penuh kasih, lembut dan sayang.
Pada malam hari beliau tidak
cepat tidur, Beliau bertahajud dan membaca wahyu yang disampaikan Allah
padanya. Beliau selalu merenung tentang nasib umatnya. Beliau juga merenungkan
betapa luar biasanya penciptaan langit, bumi, dan segala isinya.
Seluruh permohonannya
dihadapkan kepada Allah. Hal-hal seperti itu membuat orang-orang yang sudah
beriman semakin bertambah cintanya kepada Islam dan semakin kukuh keimanannya.
Mereka sudah berketetapan hati meninggalkan sesembahan nenek moyang mereka dan
tidak takut siksaan orang-orang kafir yang membencinya.
Kalau orang lain telah
Rasulullah ﷺ dakwahi, bagaimana dengan keluarga beliau? Apakah beliau juga
berdakwah kepada paman-paman beliau yang sebagiannya merupakan para pembesar
Quraisy yang disegani?
Apa yang mereka lakukan ketika
mereka tahu bahwa Rasulullah ﷺ mengajak meninggalkan sesembahan berhala yang
telah begitu lama diwariskan oleh nenek moyang mereka?
Jamuan Makan untuk
Kerabat
Tidak ada yang lebih dicintai
Rasulullah ﷺ dari pada kaum kerabatnya sendiri. Setelah tiga tahun, turunlah
firman Allah yang memerintahkan agar beliau berdakwah kepada kerabatnya.
Dan berilah peringatan kepada
kerabat-kerabatmu yang terdekat, (Surah Asy-Syu'ara': 26:214)
dan rendahkanlah dirimu
terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. (Surah
Asy-Syu'ara': 26:215)
Jika mereka mendurhakaimu maka
katakanlah: Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu
kerjakan; (Surah Asy-Syu'ara': 26:216)
Dan bertawakkallah kepada
(Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, (Surah Asy-Syu'ara': 26:217)
Rasulullah ﷺ mengundang makan
keluarga besar beliau. Mereka pun datang, “Muhammad beri aku arak!” seru
seorang paman beliau yang bernama Zubair.
Namun Rasulullah SAW hanya
menyuguhkan susu. Setelah mereka makan, Rasulullah ﷺ berdiri dan berkata:
“Saya tidak melihat ada
seorang manusia di kalangan Arab yang dapat membawa sesuatu ke tengah-tengah
masyarakat lebih baik dari yang saya bawakan kepada kamu sekalian ini.
Kubawakan kepada kamu dunia dan akhirat yang terbaik. Allah telah menyuruhku
mengajak kamu sekalian. Siapa di antara kamu yang mau mendukungku?”
Setelah sesaat terpesona,
semua orang menggerutu dan bangkit hendak pulang. Namun mereka kembali
terperangah ketika Ali bin Abu Thalib yang masih remaja bangkit seraya berseru
lantang,
“Rasulullah, saya akan
membantumu! Saya adalah lawan siapa saja yang engkau tentang!”
Rasulullah ﷺ menepuk bahu Ali
sambil berkata kepada yang lain, “Inilah saudara saya, pembantu, dan pengganti
saya. Ikuti dan patuhilah dia!”
Mendadak tawa hadirin meledak.
Seseorang berkata kepada Abu Thalib, “Ia memerintahkan engkau supaya mendengar
dan mematuhi anakmu sendiri.”
Kemudian, semua orang bubar
begitu saja. Tidak seorang pun di antara para undangan yang tertawa
terbahak-bahak itu menyadari bahwa di antara mereka akan ditebas Ali memang
bersungguh-sungguh dengan kata-katanya itu.
Walid bin Mughirah
Pada awal kenabian, ada
seorang bernama Walid bin Mughirah. Ia mempunyai dua sahabat yang merupakan
penyair hebat. Dengan syair-syairnya, mereka berusaha menjelek-jelekkan
Rasulullah SAW. Dengan syair, Walid mempengaruhi orang banyak dengan dua
sahabat penyairnya.
Penduduk Mekah
Tidak Hirau
Meski ajaran Rasulullah ﷺ
meluas dengan cepat, penduduk Mekah masih berhati-hati dan tidak terlalu hirau.
Mereka menduga ajakan Rasulullah ﷺ akan hilang dengan sendirinya dan orang akan
kembali menyembah kepercayaan nenek moyang mereka.
Mereka berpikir, akhirnya yang
menang pasti Hubal, Latta, dan Uza. Mereka tidak sadar bahwa keimanan murni
yang diajarkan Rasulullah ﷺ tidak dapat dikalahkan. (bersambung)
......
Kisah Nabi Muhammad SAW (28):
Ali, Zaid, Abu Bakar, Utsman, Thalhah, Zubair, dan Sa’ad Masuk Islam
