-----
PEDOMAN KARYA
Sabtu, 28 Februari 2026
Kultum Ramadhan:
Ramadhan di Tengah Bisingnya Dunia Digital
Oleh: Furqan Mawardi
(Muballigh Akar Rumput)
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji
bagi Allah yang masih memberi kita kesempatan menikmati Ramadhan bulan yang menenangkan, bulan yang
menyembuhkan, bulan yang mengembalikan arah hidup kita. Shalawat dan salam
semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ï·º, yang hidup sederhana di tengah dunia
yang juga penuh hiruk-pikuk pada zamannya.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Kita hidup di zaman yang tidak pernah
benar-benar sunyi. Bangun tidur, yang pertama kita lihat bukan wajah keluarga,
tetapi layar. Sebelum tidur, yang terakhir kita sentuh bukan mushaf, tetapi
ponsel.
Notifikasi berbunyi. Pesan masuk tanpa henti. Berita datang silih berganti. Dunia digital tidak pernah tidur. Dan sering kali, hati kita ikut kehilangan waktu untuk hening.
Puasa Mengajarkan
Keheningan
Ramadhan sesungguhnya adalah madrasah
keheningan. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan
diri dari kebisingan yang menguras jiwa.
Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang
beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah:
183)
Taqwa lahir dari kesadaran. Dan kesadaran
tidak tumbuh di tengah kebisingan yang tak terkendali. Bagaimana hati bisa
khusyuk jika pikiran terus sibuk membandingkan? Bagaimana jiwa bisa tenang jika
mata terus terpaku pada layar?
Ramadhan mengajak kita untuk sejenak
“mematikan notifikasi dunia”, agar kita bisa mendengar panggilan langit.
Jamaah sekalian,
Tidak semua kebisingan terdengar. Ada
bising yang hanya terasa di dada, gelisah tanpa sebab, lelah tanpa kerja berat,
cemas tanpa ancaman nyata. Itulah efek ketika hati terlalu sering dijejali
informasi, tetapi jarang diisi dengan dzikir.
Allah mengingatkan: “Ingatlah, hanya
dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Bukan dengan scrolling tanpa akhir. Bukan
dengan membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Tetapi dengan kembali
mengingat Allah.
Ramadhan adalah kesempatan untuk
mengembalikan ketenangan itu. Digital Boleh, tapi jangan kehilangan kendali. Islam tidak melarang teknologi. Yang dilarang adalah ketika teknologi menguasai
kita.
Gunakan dunia digital untuk dakwah, untuk
belajar, untuk silaturahim. Tetapi jangan sampai ia mencuri waktu tilawah kita.
Jangan sampai ia mengurangi kekhusyukan shalat kita. Jangan sampai ia membuat
kita lebih sibuk dengan manusia daripada dengan Allah.
Rasulullah ï·º bersabda: “Di antara kebaikan
Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR.
Tirmidzi)
Ramadhan adalah momentum untuk bertanya
Apa yang benar-benar bermanfaat bagi jiwa kita?
Jamaah yang dirahmati Allah,
Jika dunia digital membuat kita terus
terhubung dengan manusia, maka Ramadhan mengajarkan kita untuk kembali
terhubung dengan Allah.
Mari jadikan bulan ini sebagai waktu untuk
mengurangi kebisingan, memperbanyak keheningan, dan memperdalam kedekatan. Matikan
sejenak layar, hidupkan kembali hati. Kurangi scrolling, perbanyak sujud.
Kurangi komentar, perbanyak dzikir.
Semoga Ramadhan ini tidak hanya berlalu di
timeline kita, tetapi benar-benar hidup di dalam jiwa kita.
Ya Allah, tenangkan hati kami di tengah
bisingnya dunia. Jangan Engkau biarkan kami sibuk dengan yang fana dan lalai
dari yang kekal. Jadikan Ramadhan ini cahaya yang menuntun langkah kami. Aamiin
ya Rabbal ‘alamin.
