FOMO vs Taqwa

FOMO membuat kita gelisah. Orang lain sudah punya ini, kita ingin juga. Orang lain sudah mencapai itu, kita merasa tertinggal. Akhirnya hidup dipenuhi perbandingan, bukan ketenangan.

 

-----

PEDOMAN KARYA

Rabu, 25 Februari 2026

 

Kultum Ramadhan:

 

FOMO vs Taqwa

 

- Takut Kehilangan Dunia atau Takut Kehilangan Akhirat

 

Oleh: Furqan Mawardi

(Muballigh Akar Rumput)

 

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah yang masih memberi kita kesempatan menikmati Ramadhan, bulan yang menghidupkan hati dan meluruskan kembali arah kehidupan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ï·º, yang mengajarkan kepada kita bagaimana menata dunia tanpa kehilangan akhirat.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Hari ini kita hidup di zaman yang serba cepat. Setiap saat kita melihat orang lain berhasil, bepergian, membeli sesuatu, mencapai sesuatu. Tanpa sadar, muncul perasaan yang sering disebut dengan istilah modern: FOMO — Fear of Missing Out. Takut ketinggalan. Takut tidak ikut tren. Takut tidak seperti yang lain.

Pertanyaannya, di bulan Ramadhan ini: Apakah kita lebih takut ketinggalan dunia… atau takut kehilangan akhirat?

Jamaah sekalian,

FOMO membuat kita gelisah. Orang lain sudah punya ini, kita ingin juga. Orang lain sudah mencapai itu, kita merasa tertinggal. Akhirnya hidup dipenuhi perbandingan, bukan ketenangan.

Padahal Allah telah mengingatkan: “Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia.” (QS. Thaha: 131)

Dunia ini hanya tampilan luar. Ia indah, tetapi sementara. Yang berbahaya adalah ketika kita sibuk mengejar apa yang dimiliki orang lain, tetapi lupa mengejar apa yang Allah siapkan untuk kita di akhirat.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ramadhan hadir untuk mengubah orientasi hidup kita. Jika di luar Ramadhan kita takut ketinggalan dunia, maka di bulan ini seharusnya kita memiliki rasa takut yang baru: takut kehilangan pahala.

Takut jika malam berlalu tanpa tarawih. Takut jika hari berlalu tanpa membaca Al-Qur’an. Takut jika Ramadhan lewat tanpa ampunan.

Inilah yang disebut dengan taqwa — kesadaran untuk tidak kehilangan kedekatan dengan Allah.

Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Artinya, Ramadhan mendidik kita untuk memiliki prioritas baru: bukan sekadar sukses di dunia, tetapi selamat di akhirat.

Jamaah sekalian,

Coba kita renungkan. Kita takut ketinggalan promo. Takut ketinggalan berita. Takut ketinggalan tren. Tetapi, apakah kita takut ketinggalan Lailatul Qadar? Apakah kita takut Ramadhan berakhir sementara dosa kita belum diampuni?

Rasulullah ï·º bersabda: “Sungguh merugi seseorang yang mendapati Ramadhan, lalu Ramadhan berlalu sebelum ia mendapatkan ampunan.” (HR. Tirmidzi)

Inilah kerugian yang sesungguhnya. Bukan tertinggal dalam urusan dunia, tetapi tertinggal dalam rahmat dan ampunan Allah.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Mari kita ubah rasa takut kita. Jika selama ini kita takut tertinggal dunia, maka di bulan Ramadhan ini mari kita takut kehilangan akhirat. Bukan lagi FOMO terhadap dunia, tetapi FOMO terhadap pahala.

Takut jika hari berlalu tanpa amal. Takut jika malam berlalu tanpa doa. Takut jika Ramadhan pergi tanpa perubahan.

Semoga Ramadhan ini menata kembali hati kita, menenangkan jiwa kita, dan mengarahkan hidup kita pada tujuan yang sebenarnya: ridha Allah dan keselamatan di akhirat.

Mari kita berdoa:

Ya Allah, jangan Engkau jadikan hati kami terlalu mencintai dunia. Bangkitkan dalam diri kami rasa takut kehilangan rahmat-Mu. Dan jadikan Ramadhan ini sebagai jalan untuk meraih ampunan dan ridha-Mu. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

 

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama