![]() |
| M. Basir dan istri Hj. St. Syam. (Dokumentasi Pribadi) |
------
PEDOMAN KARYA
Sabtu, 14 Februari 2026
Rindu yang Tak Pernah Usai di Bulan
Ramadhan
Oleh: Ardhy M. Basir
Ada sesuatu yang selalu terasa hilang
setiap memasuki Bulan Suci Ramadhan. Bukan sekadar suasana rumah yang berbeda,
bukan pula hanya sunyinya meja makan saat sahur. Yang paling terasa adalah
ketiadaan Ayah dan Ibu. Setiap Ramadhan datang, kenangan itu seperti diputar
kembali dengan begitu jelas.
Terutama sosok Ibu. Beliau punya cara unik
membangunkan saya untuk sahur. Tak cukup hanya memanggil nama atau menggoyang
pundak. Jika saya tak juga bangun, wajah saya akan dibasuh dengan air. Dan
benar saja, bantal pun sering kali basah karenanya. Cara sederhana, tapi penuh
cinta. Cara yang hari ini justru paling saya rindukan.
Dulu saya sering menggerutu, setengah
sadar, setengah kesal. Kini, justru saya berharap ada yang kembali membasuh
wajah ini dengan air sahur yang dingin itu. Sebab di balik percikan air itu,
ada kasih yang tak pernah terucap panjang, tapi nyata dalam tindakan.
Ayah saya, M. Basir, lebih dulu menghadap
Sang Pencipta pada 14 Oktober 1985, dan Ibu St. Syam wafat ketika akan balik ke
Tanah Air usai melaksanakan haji.
Saat itu, saya sudah memiliki seorang
putra dan seorang putri. Nama yang diberikan Ayah untuk cucunya terasa begitu
istimewa: Waldhy, gabungan dari nama saya, Ardhy, dan istri saya, Walasari.
Tak lama kemudian, lahirlah adiknya,
Anastasia, yang kehadirannya melengkapi kebahagiaan kecil kami sebagai
keluarga. Orang tua zaman dulu memang luar biasa dalam merangkai makna, bahkan
lewat sebuah nama. Di balik nama itu ada doa, ada harapan, ada jejak cinta yang
ingin terus hidup lintas generasi.
Namun bukan itu yang paling mengusik hati
saya setiap Ramadhan tiba. Yang sering mengendap dalam dada adalah satu rasa:
saya belum sempat membahagiakan mereka sepenuhnya. Belum mampu memberi
kesenangan yang layak untuk Ayah dan Ibu. Perasaan itu datang diam-diam,
terutama ketika sujud terasa lebih lama dari biasanya. Dalam hening, ada
penyesalan yang menyelinap.
Mengapa dulu tak lebih sering memeluk
mereka? Mengapa tak lebih banyak meluangkan waktu? Mengapa baru terasa
kehilangan setelah benar-benar ditinggalkan?
Dalam setiap doa, saya hanya mampu
memohon, “Ya Allah, sayangi mereka, jaga mereka, lindungi mereka sebagaimana
mereka menyayangiku, menjagaku dan melindungiku semasa hidupnya. Maafkan segala
dosa-dosanya, terima seluruh amal ibadahnya, dan bebaskan mereka dari siksa apa
pun di alam sana.”
Jumat, 13 Februari 2026, di Masjid Wal
Ashri, doa itu kembali terucap dengan lirih. Entah mengapa, air mata tak mampu
lagi dibendung. Di antara lantunan dzikir dan sunyi yang khusyuk, nama Ayah dan
Ibu terus saya sebut. Ada rindu yang tak pernah selesai, ada cinta yang tak
pernah putus meski maut telah memisahkan.
Ramadhan memang bulan penuh berkah. Bulan
ampunan. Bulan di mana pintu-pintu langit terbuka lebar. Namun bagi saya,
Ramadhan juga adalah bulan kenangan,tentang suara Ibu di waktu sahur, tentang
nasihat Ayah yang tegas tapi penuh kasih, tentang doa-doa yang dulu mereka
panjatkan untuk saya.
Kini, doa-doa itu saya teruskan untuk
anak-anak saya, Waldhy dan Anastasia. Saya ingin mereka tumbuh dengan cinta
yang sama. Cinta yang membangunkan di waktu sahur, cinta yang mungkin
sederhana, tapi penuh makna.
Saya ingin mereka kelak tidak hanya
mengenal kakek dan neneknya lewat cerita, tetapi juga lewat nilai-nilai yang
hidup dalam diri ayahnya. Kini, giliran saya yang mendoakan mereka.
Dan untuk Anda yang masih memiliki Ayah
dan Ibu… jangan pernah sia-siakan keberadaan mereka. Jangan tunggu kehilangan
untuk menyadari betapa berharganya mereka. Selagi tangan itu masih bisa Anda
genggam, genggamlah. Selagi suara itu masih bisa Anda dengar, dengarkanlah.
Selagi pintu rumah mereka masih terbuka, pulanglah. Karena sesungguhnya, kunci
dan pintu surga itu ada pada keduanya.
Jangan sampai suatu hari nanti, di antara
takbir dan doa Ramadhan, yang tersisa hanya penyesalan dan air mata. Jangan
sampai Anda berdiri di sajadah, memohon waktu diputar kembali, sementara yang
bisa dilakukan hanya mengirim doa.
Peluk mereka hari ini. Minta maaf hari
ini. Bahagiakan mereka hari ini. Karena ketika mereka telah tiada, bakti
seorang anak tak lagi berupa senyum yang mereka lihat, melainkan doa-doa yang
kita kirimkan. Ia menjelma menjadi sedekah atas nama mereka, menjadi amal yang
diniatkan untuk menghadiahkan cahaya di alam kubur.
Dan kepada Waldhy dan Anastasia, ketahuilah: cinta orang tua adalah anugerah
yang tak tergantikan. Jangan pernah menunda untuk berbakti. Jangan pernah
merasa waktu masih panjang. Karena suatu hari nanti, yang tersisa hanyalah doa
dan kenangan.
Ramadhan mengajarkan saya satu hal: rindu
boleh basah oleh air mata, tetapi ia harus selalu dikuatkan oleh doa.
Semoga Ayah dan Ibu berbahagia di
sisi-Nya. Semoga Allah melapangkan kuburnya, menerangi alam barzakh mereka, dan
mengumpulkan kami kembali dalam surga-Nya kelak.
Dan semoga kita yang masih diberi
kesempatan, tidak termasuk anak-anak yang menyesal ketika semuanya sudah
terlambat. Aamiin ya Rabbal ‘aalamin.***
