Pencuri Ramadhan

Pencuri Ramadhan bukanlah orang yang mengambil harta kita. Pencuri Ramadhan adalah segala hal yang mencuri waktu, pahala, dan kekhusyukan kita di bulan yang mulia ini. Dan yang lebih nahasnya lagi, pencuri itu sering hadir dalam bentuk yang kita anggap biasa. (Foto: Andi Baso Gazali)

-----

PEDOMAN KARYA 

Sabtu, 21 Februari 2026


Kultum Ramadhan:


Pencuri Ramadhan


Oleh: Furqan Mawardi

(Muballigh Akar Rumput)


Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah yang masih memberikan kita kesempatan merasakan nikmat iman dan kembali bertemu dengan bulan Ramadhan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ï·º, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ramadhan adalah tamu agung. Ia datang membawa rahmat, ampunan, dan peluang perubahan. Tetapi sayangnya, tidak semua orang merasakan keberkahannya. Ada yang puasanya berjalan, tarawihnya rutin, tetapi ketika Ramadhan berlalu, ia tidak mengalami perubahan dalam hidupnya.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Karena tanpa kita sadari, ada yang diam-diam mencuri Ramadhan kita.

Apa yang dimaksud pencuri Ramadhan? Pencuri Ramadhan bukanlah orang yang mengambil harta kita. Pencuri Ramadhan adalah segala hal yang mencuri waktu, pahala, dan kekhusyukan kita di bulan yang mulia ini. Dan yang lebih nahasnya lagi, pencuri itu sering hadir dalam bentuk yang kita anggap biasa.

Pencuri pertama adalah waktu yang terbuang sia-sia. Berapa banyak waktu Ramadhan habis untuk hal yang tidak bermanfaat? Berjam-jam di depan layar handphone, tenggelam dalam media sosial tanpa mengenal waktu, menonton tanpa arah, atau sekadar berbincang ngobrol tanpa makna.

Padahal Rasulullah ï·º telah mengingatkan: “Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)

Saudaraku semua, Ramadhan hanya sekitar 30 hari. Tetapi jika waktu kita dicuri oleh hal yang sia-sia, maka keberkahannya akan terasa seperti hanya beberapa hari saja.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Pencuri kedua adalah lisan yang tidak terjaga. Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus saja, tetapi juga menahan kata-kata yang menyakiti. Namun terkadang, di bulan Ramadhan justru ghibah, keluhan, dan perdebatan masih menghiasi hari-hari kita.

Padahal Rasulullah ï·º telah berpesan kepada kita semua bahwa: “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Betapa ruginya jika kita menahan lapar seharian, tetapi pahala puasa hilang karena lisan yang tidak dijaga.

Jamaah sekalian yang berbahagia,

Pencuri ketiga adalah kesibukan dunia yang berlebihan. Sebagian orang begitu sibuk memikirkan menu berbuka, belanja kebutuhan, atau urusan dunia lainnya, sampai lupa bahwa Ramadhan adalah bulan ibadah. Malam-malam yang seharusnya diisi dengan doa dan istighfar justru habis untuk hal yang tidak mendekatkan kita kepada Allah.

Padahal Allah mengingatkan: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9)

Pencuri keempat adalah pencuri yang paling halus, yaitu ibadah tanpa hati. Banyak di antara kita ibadah tarawih hanya sekedar gerakan. Tilawah hanya suara. Doa hanya ucapan. Tidak ada penghayatan, jauh dari pemahaman, tidak ada rasa butuh, tidak ada rasa kedekatan dengan Allah. 

Artinya, jika hati tidak hadir dalam beribadah, maka Ramadhan hanya menjadi rutinitas yang hampa, maka ia akan sulit untuk menjadi momentum perubahan.

Penutup

Jamaah yang dimuliakan Allah, Mari kita bertanya kepada diri kita. Sudah berapa hari Ramadhan berlalu? Dan apa yang sudah berubah dalam diri kita? Jangan sampai kita termasuk orang yang disebut Rasulullah ï·º:

“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan haus.” (HR. Ahmad)

Na’udzubillah.

Jangan biarkan Ramadhan kita dicuri oleh kelalaian. Jangan biarkan hari-harinya habis tanpa tilawah, tanpa doa, tanpa air mata taubat.

Karena Ramadhan yang pergi tidak akan pernah kembali. Dan kita tidak pernah tahu, apakah kita masih akan bertemu dengannya tahun depan.

Mari kita berdoa bersama: 

Ya Allah, lindungi Ramadhan kami dari kelalaian. Jangan biarkan waktu kami terbuang sia-sia. Hidupkan hati kami dengan iman, sibukkan kami dengan ketaatan, dan jadikan Ramadhan ini sebagai bulan yang mengubah hidup kami menjadi lebih taat dan lebih dekat kepada-Mu. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama