-----
Jumat, 20 Februari
2026
Prof Aminuddin Salle, Balla Barakkaka ri
Galesong, dan Kepemimpinan Appaka Sulapak
Oleh: Rusdin Tompo
(Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)
Prof Aminuddin Salle punya satu penanda
kultural yang bukan sekadar simbolik, tetapi filosofis. Penanda itu bisa kita
lihat berupa sulaman emas berbentuk lasugi dengan aksara Mangkasarak pada topi
fedora warna hitam yang biasa dikenakannya.
Itulah penanda pria kelahiran Galesong, 02
Juli 1948, yang punya nama lengkap Prof. Dr. H. Aminuddin Salle, SH, MH,
Karaeng Patoto.
Dengan model topi yang sudah ada sejak
1882, yang dibubuhi identitas lokalnya, Ketua Dewan Kebudayaan Kota Makassar
itu seolah hendak mengatakan bahwa kita bisa tetap gaya dengan budaya kita.,
Aminuddin Salle merupakan Guru Besar Hukum
Adat Fakultas Hukum Unhas. Suami dari Hj Suryana Hamid, SH, MH Daeng Memang
ini, kini lebih dikenal sebagai penggerak pemajuan kebudayaan, khususnya budaya
Makassar.
Prof Aminuddin Salle adalah dosen saya.
Ketika saya masih mahasiswa, beliau merupakan Pembantu Dekan II Fakultas Hukum
Unhas (1989-1992).
Saya ingat, dalam suatu kesempatan
berkegiatan di Ruang H33 (sekarang Aula Prof Mattulada), beliau berujar, “Rusdin
Tompo ini kalau nanti tamat, SH-nya bukan Sarjana Hukum, tetapi seniman hukum.”
Mendengar kalimat tersebut, saya hanya
tersenyum, sambil tetap melanjutkan pekerjaan saya menata spanduk. Kala itu,
ruangan berbentuk teater tersebut, tengah dipersiapkan untuk studium generale.
Saya tak lagi menjejakkan kaki di kampus
merah Tamalanrea setelah diwisuda tahun 1992. Siapa nyana, sekira tiga dekade
kemudian, kami dipertemukan dalam aktivitas yang sarat dengan literasi seni
budaya.
Prof Aminuddin Salle, merupakan Dewan
Penasihat Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA Provinsi Sulawesi Selatan
bersama Prof Kembong Daeng, Prof Itji Diana Daud, Prof Ahmad M Sewang, dan Prof
Sukardi Weda, di mana saya selaku koordinatornya.
Balla Barakkaka ri Galesong
Sejak 2016, Ketua Kopertis Wilayah IX
(2004-2006 dan 2006-2008) ini mulai mengembangkan kampung adat dan budaya, yang
juga sebagai laboratorium aksara lontarak Mangkasarak.
Di atas lahan yang semula merupakan tanah
kebun milik keluarganya itu, berdiri Balla Barakkaka ri Galesong (BBrG), yang
diresmikan pada 19 Maret 2018.
BBrG didedikasikan sebagai tempat
pembinaan, edukasi, pelestarian adat dan budaya, serta nilai-nilai dan kearifan
lokal Makassar.
BBrG diharapkan menjadi sarana turunnya
berkah dari Allah SWT kepada mereka yang berpartisipasi dalam pendirian dan
pengembanggannya, juga berkah bagi masyarakat setempat dan pengunjung yang
datang ke sana.
BBrG pernah dinobatkan sebagai salah satu
dari 75 Desa Wisata dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023 oleh
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Berbagai seni budaya Makassar,
seperti tarian, sastra lisan, dan kuliner tradisional kerap disajikan di sana.
Salah satu agenda rutin yang dihelat
adalah Gaukang Karaeng Galesong yang dilaksanakan oleh masyarakat dan pemangku
adat Karaeng Galesong.
Yang istimewa, tamu yang datang akan
dijamu dengan umba-umba. Sungguh suatu kehormatan, ketika Prof Aminuddin Salle
Karaeng Patoto sendiri menyuapkan umba-umba ke mulut saya, saat saya berada di
BBrG menyaksikan prosesi tappu kana salah seorang kerabatnya.
Tappu kana merupakan tahapan dalam
perkawinan adat Makassar, yang berarti musyawarah untuk mengambil keputusan.
Dalam tahap ini dibicarakan segala sesuatu
terkait mas kawin, uang belanja, waktu dan tempat acara pernikahan, serta
lainnya. Mereka yang datang hari itu mengenakan baju tradisional, diiringi
gandrang (gendang) dan pui-pui (sejenis suling).
Di BBrG, kita bisa menjumpai
bangunan-bangunan dengan arsitektur Makassar, yang tertata apik. Ada Balla
Barakka sebagai rumah utama, dan Baruga Appaka Sulapak sebagai tempat
musyawarah keluarga dan warga masyarakat.
Terdapat pula Barung-Barung sebagai tempat
penyimpanan hasil pertanian yang dahulu biasa digunakan juga untuk tempat
tinggal para penggarap tanah, kebun, atau sawah. Selain itu, ada Balla-Balla
Saukang, sebagai replika tempat istirahat para raja atau bangsawan Makassar.
Jika ke BBrG, dari kota Makassar jaraknya
sekira 25 Km, sedangkan dari ibu kota Takalar hanya berjarak 10 Km.
Terdapat pintu gerbang sebagai petunjuk ke
arah BBrG yang merupakan desa Pancasila dan Konstitusi itu. Prof Aminuddin
Salle bersama Mahkamah Konstitusi (MK) RI, termasuk perintis pembentukan Desa
Pancasila dan Konstitusi se-Indonesia.
Prof Mahfud MD (Ketua MK, periode
2008-2013), pernah berkunjung ke BBrG, dan diberi gelar Karaeng Tojeng, artinya
benar, dapat dipercaya.
Kepemimpinan Appaka Sulapa
Saya menangkap kesan bahwa kehadiran Balla
Barakkaka ri Galesong merupakan cara Prof Aminuddin Salle menjawab
kegelisahaannya terhadap kampung halamannya, Galesong.
Dalam buku Permata-Permata dari Timur
(2011), beliau mengatakan bahwa Galesong di masa lalu punya sejarah yang besar,
tetapi sayang agak terabaikan.
Ini pula yang dikemukakan oleh peneliti
sejarah Indonesia Timur, Amrullah Amir, Ph.D, dalam Seminar Tradisi dan
Kebudayaan Menyusuri Jejak Sejarah Galesong, di BBrG, Sabtu, 7 Fabruari 2026.
Dosen FIB Unhas itu menandaskan bahwa di
masanya, Galesong menjadi simpul penting jalur maritim Nusantara, sama dengan
Tallo. Daerah ini bahkan punya figur ikonik ternama, yakni Karaeng Galesong.
Menurut Aminuddin Salle, Karaeng Galesong
memiliki kepemimpinan Appaka Sulapak.
Simbol Appaka Sulapak, menurut beliau,
diambil dari hasil anyaman bambu yang membentuk huruf SA (ᨔ),
segi empat belah ketupat. Anyaman bambu berbentuk segi empat belah ketupat itu
dalam aktivitas budaya disebut Lasugi (Makassar) atau Walasuji (Bugis).
Manusia, dalam bahasa Makassar disebut
Tau. Dijelaskan bahwa perpaduan aksara Ta ᨈ
dan Ma ᨆ, bila digabungkan
maka akan membentuk huruf Sa. Huruf ini berarti sirik, yang merupakan harkat
dan martabat manusia.
Supaya manusia punya harkat dan martabat,
kata Aminuddin Salle, setidaknya memiliki 4 sifat utama, yakni carakdek/panrita
(cerdas), lambusuk (jujur), barani (berani), dan kalumannyang (berwawasan
luas).
“Ini merupakan sifat utama. Orang yang
punya sifat-sifat itu disebut sebagai manusia seutuhnya atau insan kamil,”
imbuh Ketua Dewan Adat Karaeng Galesong dan Ketua Dewan Pakar DPP Majelis
Pemangku Adat Nusantara itu.
Karaeng Galesong dan Diaspora Patriotik
Prof Aminuddin Salle terinspirasi dari
sosok I Maninrori I Kare Tojeng Karaeng Galesong, Laksamana Angkatan Laut
Kerajaan Gowa yang dengan kepemimpinan Appaka Sulapak menjadi salah satu tokoh
yang disegani.
Putra Sultan Hasanuddin, yang lahir di
Bontolebang, 29 Maret 1655 itu tegas menolak Perjanjian Bongaya antara Kerajaan
Gowa dengan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) Belanda beserta sekutunya,
pada tahun 1669.
Karaeng Galesong meneruskan perjuangannya
hingga ke tanah Jawa. Ini terdokumentasi dalam Babad Tanah Jawi. Persebaran
pasukannya meliputi area Tuban, Surabaya, Gresik, Pasuruan, Pajarakan, Gombong,
hingga Kediri.
Di wilayah ini, Karaeng Galesong bersama
Trunojoyo dan Untung Suropati gigih berperang melawan Raja Amangkurat dari
Kerajaan Mataram yang berkomplot dengan kompeni VOC.
“Makam Karaeng Galesong ada di Kecamatan
Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Beliau wafat tahun 1679. Orang di sana
memanggilnya mbah Rojo, sebagai bentuk rasa hormat mereka,” jelas Prof
Aminuddin Salle.
Amrullah Amir menyebut semangat yang
diusung Karaeng Galesong dan orang-orang Makassar, seperti Daeng Mangalle di
Ayutthaya, Siam, sebagai diaspora patriotik.
Dalam seminar yang diadakan oleh
Pelakita.ID dengan motornya Kamaruddin Azis, kita disodorkan pada kisah-kisah
historis masa kejayaan Galesong lengkap dengan jiwa heroismenya.
Jurnalis yang juga aktivis itu merupakan
penyusun buku Semesta Galesong, Senarai Catatan Warga (Pannyingkul, 2009).
Kisah-kisah itu diperkaya oleh bahasan
dari Prof Mardi Adi Armin, penerjemah buku Sejarah Kerajaan Makassar,
Description Historique du Royaume de Macacar karya Nicolas Gervaise, dan
Mustamin Raga, Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gowa, yang
rutin membagi pemikiran-pemikirannya dalam bentuk esai dan puisi.
Pemegang Hak Cipta
Konsepsi filosofis Appaka Sulapak sudah
dituangkan dalam buku Aminuddin Salle, Sang Pelestari Aksara (2023) yang
ditulis oleh Abdul Jalil Mattewakkang, S.Pd, MH, MM dkk.
Prof Aminuddin Salle mengabadikan konsep
Appaka Sulapak melalui tradisi dan literasi digital, dengan namanya sebagai
pemegang hak cipta, yang tercatat di Kementerian Hukum dan HAM.
Dengan begitu, petuah-petuah leluhur ini
bisa tetap dipelajari dan diakses, supaya jadi pedoman bagi generasi kita di
masa-masa mendatang.
Saya menyempatkan diri berfoto di samping
ukiran mirip podium yang menggambarkan Appaka Sulapak di BBrG. Saya merasakan
visi seorang maha guru yang rendah hati.
Walau jejaring dan lingkungan pergaulannya
meluas di kalangan intelektual, cendekiawan, pemangku adat, dan keraton-keraton
Nusantara, beliau tetap egaliter. Beliau meletakkan adat dan adab dalam praktik
kesehariannya.
“Bangsawan itu orang yang memikirkan dan
mengabdikan dirinya bagi bangsanya. Jadi siapa pun yang memikirkan nasib
bangsanya, adalah juga seorang bangsawan,” tegas Prof Aminuddin Salle Karaeng
Patoto. (*)
