Kisah Paku di Pagar

PAKU DI PAGAR. Dikisahkan ada seorang anak laki-laki yang memiliki sifat mudah marah. Sedikit saja masalah, ia cepat tersinggung, ia langsung membentak, berkata kasar, yang akhirnya menyakiti perasaan banyak orang lain.  

 

-----

PEDOMAN KARYA

Senin, 09 Maret 2026

 

Kultum Ramadhan:

 

Kisah Paku di Pagar

 

Oleh: Furqan Mawardi

(Muballigh Akar Rumput)

 

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah Subhānahu wa Ta‘aalaa yang telah memberi kita nikmat iman dan kesempatan untuk terus memperbaiki diri. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan terbaik yang mengajarkan kepada kita bagaimana menjaga lisan, menjaga hati, dan menjaga hubungan dengan sesama manusia.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak masalah besar sebenarnya berawal dari sesuatu yang kecil. Salah satunya biasanya dari kata-kata yang keluar dari lisan kita sendiri. Kadang kita menganggapnya hanya sepele, hanya sekadar emosi sesaat. Namun ternyata dampaknya bisa sangat panjang dan menyakitkan bagi orang lain.

Ada sebuah kisah perumpamaan yang sangat terkenal tentang seorang anak dan paku di pagar.

Dikisahkan ada seorang anak laki-laki yang memiliki sifat mudah marah. Sedikit saja masalah, ia cepat tersinggung, ia langsung membentak, berkata kasar, yang akhirnya menyakiti perasaan banyak orang lain.

Ayahnya yang melihat sifat itu khawatir jika dibiarkan akan merusak masa depan anaknya. Suatu hari sang ayah memberikan sekantong paku dan sebuah palu, lalu berkata kepada anaknya:

“Wahai anakku. Setiap kali kamu marah dan melukai orang dengan kata-katamu, pergilah ke pagar belakang rumah dan tancapkan satu paku. Anaknya bertanya, untuk apa ini ayah? Nantilah kau akan tahu sendiri, jawab ayahnya.”

Pada pekan-pekan awal anak itu masih sering emosi dan marah apabila bersinggungan dengan orang lain. Sesuai pesan ayahnya, setiap dia marah, maka ia memaku pagar di belakang rumah yang sudah disiapkan. Awalnya ia sampai memaku puluhan paku di pagar.

Hari demi hari berlalu. Anak itu mulai menyadari bahwa memaku paku itu tidak mudah. Butuh tenaga dan waktu, yang akhirnya ia mulai menahan diri untuk tidak mudah marah.

Jumlah paku yang ditancapkan tentunya mulai berkurang dibanding hari-hari sebelumnya, beberapa pekan selanjutnya makin sedikit jumlah paku yang ia tancapkan, karena setiap ia ingin marah ia selalu menahan diri. Hingga suatu hari ia berhasil melewati satu hari penuh tanpa marah dan tanpa memaku di pagar.

Ia pun datang kepada ayahnya dengan gembira. Ayahnya berkata: “Sekarang setiap kali kamu berhasil menahan amarahmu, cabutlah satu paku dari pagar itu.”

Hari demi hari anak itu mencabut paku-paku tersebut sampai tidak ada satu pun paku yang tersisa di pagar. Dengan bangga ia menunjukkan pagar itu kepada ayahnya.

Namun ayahnya berkata dengan lembut “Wahai anakku, sadarilah bahwa kamu memang telah mencabut semua paku itu. Tetapi lihatlah pagar itu. Lubang-lubang bekas paku masih ada. Pagar itu tidak akan pernah kembali seperti semula.”

Ayahnya kemudian berkata lagi: “Begitulah kata-kata yang menyakitkan. Ketika kamu melukai seseorang dengan ucapanmu, walaupun kamu sudah meminta maaf, bekas luka itu sering tetap ada di hatinya.”

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Sering kali kita mengira bahwa kata-kata itu ringan, tetapi dalam pandangan Islam, lisan adalah sesuatu yang sangat berbahaya jika tidak dijaga.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sangat sederhana, tetapi sangat dalam maknanya. Jika tidak bisa berkata baik, maka diam adalah pilihan yang lebih selamat. Imam Al-Ghazali juga mengingatkan bahwa banyak manusia masuk ke dalam dosa bukan karena tangan atau kakinya, tetapi karena lisannya yang tidak dijaga.

Satu kalimat kasar bisa menghancurkan persahabatan, merusak keluarga, bahkan memutuskan hubungan saudara.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Mari kita belajar dari kisah paku di pagar. Jangan sampai kita mudah melukai hati orang lain dengan ucapan kita. Karena luka dari pedang mungkin bisa sembuh, tetapi luka dari kata-kata sering tersimpan lama di dalam hati. Maka jagalah lisan kita, perbanyak berkata baik, dan biasakan menahan amarah.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bijak dalam berbicara, lembut dalam ucapan, dan selamat dari dosa-dosa lisan.

اللَّهُمَّ طَهِّرْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَالْغِيبَةِ، وَزَيِّنْهَا بِالذِّكْرِ وَالْكَلَامِ الطَّيِّبِ، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

“Ya Allah, bersihkanlah lisan kami dari dusta dan ghibah, dan hiasilah ia dengan zikir serta perkataan yang baik, wahai Tuhan seluruh alam.”

Aamin yaa rabbal alamiin

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama