-----
PEDOMAN KARYA
Sabtu, 28 Maret 2026
CERPEN
Ponsel Rusak
Oleh: Asnawin
Aminuddin
“Mau kemana?” tanya ibu kepada
Taufan.
“Mau ke toko ponsel. Mau temani
kakek memperbaiki ponselnya yang rusak,” jawab Taufan.
“Naik mobil saja. Jangan naik
motor, nanti kakekmu kedinginan kena angin,” kata ibu.
Kakek Udin pun bersiap-siap keluar
rumah, tapi ibu segera menahannya.
“Ada apa Wulan?” tanya Kakek Udin.
“Ayah ganti pakaian dulu. Pakai
celana dong! Masak pakai sarung ke toko,” kata Wulan sambil tersenyum.
Kakek Udin dan Taufan pun ikut
tersenyum. Kakek Udin kemudian masuk ke dalam kamar dan ganti pakaian. Beberapa
menit kemudian, ia keluar dari kamar dan sudah memakai celana panjang dan baju
gamis.
“Kok pakai baju gamis lagi.
Sekali-sekali ayah pakai celana jeans dan baju kaos, biar kelihatan gaul,” kata
Wulan sambil tersenyum.
Kakek Udin dan Taufan lagi-lagi ikut
tersenyum, dan Kakek Udin kembali masuk kamar ganti pakaian. Beberapa menit kemudian,
ia keluar dari kamar dan sudah memakai celana jeans biru dan baju kaos putih.
“Nah gitu dong,” kata Wulan sambil
tersenyum dan mengacungkan jempol.
Kakek Udin dan Taufan pun pamit
tapi Wulan lagi-lagi menahannya.
“Ada apa lagi Wulan?” tanya Kakek
Udin.
“Ayah kok pakai sandal jepit. Pakai
sandal kulit dong! Kalau perlu pakai sepatu kets. Biar sempurna penampilan ayah
seperti anak muda,” kata Wulan sambil tersenyum.
“Ah, masak pakai sepatu kets.
Bisa-bisa Taufan dan Habib merasa tersaingi,” ujar Kakek Udin.
“Menantu ayah tentu lebih gagah
dong,” ujar Wulan sambil tersenyum memuji suaminya.
Kakek Udin dan Taufan pun berangkat
ke toko ponsel. Di toko ponsel, Kakek Udin mengatakan ponselnya rusak dan perlu
diservis. Pemilik toko kemudian mengambil dan memeriksa ponsel Kakek Udin.
Kakek Udin dan Taufan diminta
menunggu dan dipersilakan duduk di kursi yang memang disediakan untuk pengunjung
toko.
Tak lama kemudian pemilik toko
muncul dan memanggil Kakek Udin.
“Ponsel bapak sebenarnya tidak
rusak,” kata pemilik toko.
“Tapi ponsel saya selalu mati,”
kata Kakek Udin.
“Memang selalu mati karena
baterainya sudah kalah,” kata pemilik toko.
“Jadi hanya baterainya yang perlu
diganti?” tanya Kakek Udin.
“Betul bapak. Baterainya saja yang
perlu diganti,” jawab pemilik toko.
“Pantas selalu cepat mati. Biasanya malam sebelum tidur, saya charge ponsel dan nanti bangun subuh baru saya
cabut. Dua tiga jam kemudian ponsel saya sudah lowbat lagi,” ungkap Kakek Udin.
“Betul bapak. Itu berarti
baterainya yang kalah, bukan ponselnya yang rusak,” kata pemilik toko sambil
tersenyum.
Pemilik toko pun mengganti baterai
ponsel Kakek Udin dan setelah selesai ia serahkan kembali ponsel tersebut
kepada Kakek Udin. Namun ketika mengembalikan ponsel tersebut, ia kaget. Ia
kaget karena mendapati Kakek Udin menangis berlinang air mata. Taufan juga keget.
“Ada apa kakek? Kenapa kakek
menangis?” tanya Taufan.
Kakek Udin tidak menjawab dan terus
menerus menangis tanpa bersuara. Air matanya terus mengalir. Taufan segera
membayar ongkos kerja kepada pemilik toko dan pamit pulang. Pemilik toko
menerima bayaran dari Taufan dengan lirikan mata kepada Taufan yang maksudnya
bertanya ada apa dengan kakeknya.
Sepanjang perjalanan pulang, Kakek Udin
tidak pernah berbicara sepatah kata pun. Ia terus menerus menangis. Tiba di rumah
ia tetap menangis. Wulan dan Habib pun langsung bertanya. Kakek Udin hanya
menjawabnya dengan linangan air mata.
Seisi rumah pun
heran dan khawatir. Ada apa dengan Kakek Udin. Mengapa ia menangis dan tak mau
bicara. Apakah ia sakit atau ada sesuatu yang membuatnya menangis dan tak mau
bicara.
Wulan kemudian
mengambil gelas dan menuangkan air mineral botolan. Kakek Udin segera
meminumnya. Usai minum ia tetap diam dan tetap berlinang air mata.
“Ada apa ayah?
Kenapa ayah menangis?” tanya Wulan.
Setelah menenangkan
diri, Kakek Udin kemudian bicara.
“Ponsel... rusak....
baterai.... lowbat....,” kata Kakek Udin terbata-bata.
“Ada apa dengan
ponsel ayah?” tanya Wulan.
“Ponsel kakek
sudah diperbaiki. Tidak rusak. Hanya baterainya yang kalah dan sudah diganti.
Sekarang ponsel kakek sudah bagus lagi,” kata Taufan.
“Jadi apa lagi
masalahnya? Kenapa kakekmu menangis?” tanya Wulan.
“Saya juga tidak
tahu Bu,” jawab Taufan.
“Sudah! Sudah!”
Kakek Udin
tiba-tiba bicara.
“Saya sedih dan
menangis karena memikirkan diri saya. Memikirkan kalian.”
Kakek Udin berhenti
sejenak.
“Kita ini seperti
ponsel yang baterainya lowbat.”
Kakek udin kembali
berhenti sejenak.
“Pada bulan Ramadhan
kemarin, kita semua begitu rajin beribadah. Kita rajin ke masjid shalat
berjamaah, shalat tarwih, mendengarkan kultum subuh. Kita mengkhatamkan bacaan
Qur’an. Kita selalu membawa uang kecil ke masjid untuk dimasukkan ke dalam
celengan. Kita hampir setiap hari membawa kue ke masjid untuk sajian buka
puasa.”
Kakek Udin menghela
nafas.
“Selesai Ramadhan
semua kebiasaan itu kita tinggalkan. Seperti ponsel saya. Semangat beribadah
kita langsung lowbat. Kita tidak lagi ke masjid. Kita tidak lagi membaca Al-Qur’an.
Kita tidak lagi shalat malam.”
Kakek Udin kembali berlinang air mata. Taufan, Wulan, dan Habib pun ikut menangis.***

Tertarik membaca sampai Selesai krn Nama2 yg di gunakan Sangat Familiar ;-)
BalasHapusNama-namanya ada kemiripan dengan warga Kompleks Pallangga Mas 1, he..he..he...
Hapus