![]() |
| Jika lelah, tidurlah. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA) |
PEDOMAN KARYA
Rabu, 29 April 2026
Jika Lelah, Tidurlah
Tidur adalah bahasa tubuh yang paling
jujur. Ia datang tanpa basa-basi. Mengetuk pelan lewat rasa lelah di pundak.
Lewat kelopak mata yang berat tak lagi mampu diajak berkompromi.
Jika lelah, tidurlah. Jika ngantuk,
tidurlah. Sebab tubuh bukan mesin yang bisa dipaksa terus bekerja tanpa jeda.
Ada saatnya ia meminta haknya.
Beristirahat, memulihkan tenaga, menata kembali ritme kehidupan yang sempat
berantakan oleh kesibukan.
Tidur itu hak asasi, kebutuhan dasar yang
tak boleh diabaikan. Jangan menyiksa diri dengan menunda-nunda istirahat demi
hal yang sebenarnya bisa menunggu.
Dalam tidur, tubuh memperbaiki dirinya,
pikiran menenangkan diri, dan jiwa menemukan jeda untuk kembali kuat. Maka
hormatilah rasa lelah itu, sambutlah kantuk dengan bijak. Dari tidur yang
cukup, lahir tenaga baru, semangat baru, dan kehidupan yang lebih seimbang.
Seringkali kita merasa “kuat” menunda
tidur, scrolling tanpa henti, menonton tanpa sadar waktu, atau memaksakan diri
menyelesaikan hal-hal yang sebenarnya bisa ditunda esok hari.
Kita lupa bahwa malam bukan hanya tentang
menyelesaikan pekerjaan, tapi juga tentang merawat diri. Ada kebijaksanaan
sederhana dalam mematikan lampu lebih awal, merebahkan tubuh, dan membiarkan
dunia berjalan tanpa kita sejenak. Esok hari tak hanya butuh kita yang hadir,
tapi juga kita yang segar.
Dan lucunya, kadang solusi dari banyak
masalah bukanlah berpikir lebih keras, tapi tidur lebih cepat.
Pekerjaan yang terasa rumit bisa jadi
lebih sederhana setelah bangun. Suasana hati yang kusut bisa kembali rapi
setelah mimpi-mimpi singkat.
Jadi, jika malam hari mata sudah berat,
jangan dilawan. Tarik selimut, pejamkan mata, dan biarkan tidur bekerja
diam-diam untuk kita.
Siapa tahu, besok pagi kita bangun bukan hanya dengan tenaga baru, tapi juga dengan senyum kecil yang berkata, “ternyata tidur itu nikmat sekali.” (asnawin)
