![]() |
| Penulis Usman Lonta (baju hijau, kedua dari kanan) bersama beberapa kolega saat menjabat Anggota DPRD Sulsel. |
-----
PEDOMAN KARYA
Kamis, 02 April 2026
Partai Politik, Antara
Pedagang Isu dan Arsitek Peradaban
Oleh: Usman Lonta
Tema ini merupakan tantangan sekaligus
bahan renungan bagi elit partai politik hari ini. Betapa tidak, partai politik
hari ini sangat reaktif dan bahkan sensitif terhadap berbagai macam isu, dan cenderung
melupakan visi yang menjadi arah perjuangan partai politik itu sendiri.
Sebagai ilustrasi, suatu hari, seorang
lelaki datang ke pasar dan melihat banyak pedagang berteriak menawarkan barang
dagangan. Ada yang menjual rasa takut, ada yang menjual harapan, ada pula yang
menjual kemarahan. Semua tampak laris. Sementara di sudut pasar, seorang tua
hanya duduk diam. Di depannya bukan barang, melainkan sebuah peta besar.
“Kenapa tidak berteriak seperti yang
lain?” tanya seseorang kepada lelaki tua tersebut.
Orang tua itu menjawab, “Saya tidak
menjual barang. Saya menawarkan arah”. Sayangnya, tak banyak yang mampir.
Begitulah kira-kira wajah partai politik kita
hari ini. Partai politik lebih mirip pedagang di pasar isu. Mereka lihai
membaca suasana, cepat menangkap momentum, dan cekatan mengemas emosi publik
menjadi komoditas elektoral. Mereka menjual kemarahan, menjual simpati, dan
menjual harapan, yang penting laris manis.
Dalam dunia politik, isu adalah barang
dagangan paling cepat habis. Isu tidak
perlu kualitas tinggi, cukup dikemas menarik. Dalam era media sosial, isu
bahkan tidak harus benar sepenuhnya, yang penting viral menggugah sehingga partai politik yang sukses
adalah partai yang paling cepat bereaksi, paling keras bersuara, dan paling
piawai memainkan emosi.
Namun perlu dicatat bahwa semua barang “di
pasar isu” sifat dasarnya adalah cepat basi. Ketika satu isu padam, partai
segera mencari isu lain. Begitu seterusnya. Politik pun berubah menjadi siklus
tanpa henti dari kegaduhan yang dangkal.
Berbeda dengan visi partai politik. Visi
merupakan peta jalan yang menjadi kompas perjalanan sebuah peradaban bangsa.
Sayangnya visi partai politik acapkali tenggelam oleh luapan isu sesaat.
Kembali ke cerita ilustrasi di atas, bahwa
di tengah riuhnya pasar isu, visi besar justru menjadi barang langka, sepi
peminat, padahal visi adalah satu-satunya hal yang dapat membedakan antara
pemimpin dengan oportunis, antara negarawan dengan politisi musiman, dan antara
arsitek peradaban dengan pedagang momentum.
Visi bukan sekadar janji. Visi adalah
komitmen jangka panjang tentang ke mana arah bangsa ini berlabuh, nilai apa
yang diperjuangkan, dan peradaban seperti apa yang ingin dibangun. Visi
menuntut kesabaran. Visi tidak bisa dijual dalam satu musim Pemilu. Dibutuhkan
kesabaran dan konsistensi.
Sebab jika tidak, demokrasi akan tersesat
dalam pasar momentum. Artinya, ketika partai-partai meninggalkan visi,
demokrasi akan kehilangan kompas. Mungkin demokrasi tetap berjalan, bahkan tampak ramai, tetapi
sesungguhnya tersesat. Rakyat disuguhi pilihan, tetapi pilihan itu tidak menawarkan
arah yang berbeda, hanya kemasan isu yang berbeda.
Satu partai berbicara tentang kemiskinan
saat kamera menyala, lalu diam saat kekuasaan di tangan. Partai lain berteriak
soal keadilan, tetapi berkompromi saat berhadapan dengan distribusi kekuasaan.
Semua partai politik tampak bergerak, tetapi sebenarnya berputar di tempat.
Dulu, partai lahir dari gagasan besar. Ada
yang berbicara tentang keadilan sosial, ada yang memperjuangkan kedaulatan
rakyat, dan ada yang membangun visi kesejahteraan.
Hari ini, banyak partai lebih sibuk dengan
survei elektabilitas, peta koalisi, dan distribusi kursi.
Ideologi digantikan oleh kalkulasi,
sementara visi dikalahkan oleh negosiasi. Partai tidak lagi bertanya, “apa yang
benar?”, tetapi, “apa yang menguntungkan?”
Mungkin kita perlu bertanya dengan jujur:
Apakah kita masih punya partai yang benar-benar menawarkan peta? Ataukah kita
semua, partai dan para pemilihnya, sudah terlalu nyaman menjadi bagian dari
pasar?
Karena sejatinya, pasar isu tidak hanya
diciptakan oleh partai, tetapi juga dipelihara oleh publik yang lebih suka
sensasi daripada substansi. Kita marah hari ini, tapi lupa besok menjelang Pemilu.
Kita berharap hari ini, namun keesokan
harinya setelah mereka dilantik, kita dirundung nestapa karena aspirasi kita
sering terabaikan. Dan dalam siklus itulah, visi partai politik tidak pernah
punya ruang untuk tumbuh.
Sudah saatnya partai politik dan
konstituennya memilih bertransformasi menjadi arsitek peradaban. Sembari
mengucapkan selamat tinggal terhadap pasar isu.
Menjadi arsitek memang tidak mudah. Partai
politik dan konstituennya yang ingin bertransformasi menjadi arsitek peradaban
membutuhkan keberanian melawan arus, konsisten menjaga nilai, dan kesediaan
untuk tidak selalu populer. Tetapi hanya dengan jalan itu, politik bisa kembali
bermakna. Karena pada akhirnya, bangsa ini tidak kekurangan isu, kita hanya
kekurangan arah.
Dan mungkin, di tengah riuhnya pasar itu,
kita perlu kembali mencari orang tua yang duduk diam dengan peta di tangannya.
Sebab masa depan tidak dibangun oleh mereka yang paling keras teriakannya,
melainkan oleh mereka yang paling jelas arah jalannya. Wallahu a’lam bishshawab.
Sungguminasa, 01 April 2026
