Pertanda Kematian Juga Berdiksi

Penyair Chairil Anwar mengetahui tanda-tanda kematiannya. Hal ini tergambar dalam buah karyanya, terutama di diksi puisinya. Di saat, ia menjelang akhir hayat, yang menunjukkan kesadaran akan kefanaan dan penerimaan terhadap takdir Tuhan. - Maman A. Majid Binfas -

 

-----

PEDOMAN KARYA

Selasa, 28 April 2026

 

Pertanda Kematian Juga Berdiksi

 

Oleh: Maman A. Majid Binfas

(Sastrawan, Akademisi, Budayawan)

 

Secara umum diksi dapat dimaknai dengan pemilihan atau penggunaan kata yang serasi untuk menyampaikan gagasan sehingga mendapatkan efek atau tanda tertentu sesuai keinginan penulis atau pembicaraan dimaksudkan. Termasuk, kata atau kalimat yang bersifat denotasi-konotasi, sinonim, kata konkret-abstrak/ghaib, dan eufimisme atau penghalusan kata berkesan atau isyarat secara santun. 

Esensi isyarat atau pertanda yang merupakan sistem komunikasi terstruktur yang menggunakan gerakan tangan spesifik untuk mewakili kata atau konsep, seringkali memiliki tata bahasa sendiri.

Isyarat terkadang bisa dibaca oleh orang lain dengan tanda yang tersirat, baik di dalam berkomunikasi maupun gerakan tubuh menjadi auranya. Sebagaimana, Rasullullah SAW pun, selalu memberi isyarat yang tersirat nyata, termasuk menjelang wafatnya.

 

Isyarat Rasulullah Sebelum Wafatnya

Dalam ragam kesempatan, Rasulullah memberikan isyarat bahwa masa tugas beliau telah selesai, salah satunya melalui perintah memperbanyak mengingat "pemutus kelezatan" (kematian). Sebagaimana QS Surat An-Nasr yang berisi tiga ayat yang berarti:

“1) Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, 2) dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, 3) bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.”

Di dalam Tahrir wat Tanwir; Tunisia; Darut Tunisia Lin Nasyri, 1984 M, Jilid XXX : 587.  Imam Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa Surat An-Nasr dinamakan demikian karena terdapat frasa "nashrullah". Selain itu, surat ini juga dikenal sebagai Surat At-Taudi’ karena mengisyaratkan perpisahan Nabi Muhammad, yang berarti beliau akan segera berpisah dan kembali ke sisi Allah.

Tentu, Rasullah bukan hasil dari ramalan, tetapi memang Allah yang memberitahukan kepada-nya mengenai waktu wafatnya. Beliau memberitahu kepada putrinya, Fatimah, bahwa beliau akan wafat, yang menyebabkan Fatimah. Kemudian, membisikkan lagi bahwa ia akan menjadi orang pertama dari keluarganya yang menyusul, membuatnya tersenyum. menangis.

Ini menunjukkan bahwa meskipun kematian adalah hal gaib, Allah memuliakan Nabi-Nya dengan memberi pengetahuan tentang saat-saat terakhir hidupnya, sehingga beliau dapat memberikan wasiat terbaik bagi umatnya. 

Bahkan para umatnya, terkhusus yang dianugerahi sebagai waliyullah akan mengetahui tanda kematiannya, melalui firasat khusus (Nur Ilahi) atau tanda-tanda fisik yang diyakini muncul secara bertahap.

Seringkali dikutip dari pandangan Imam Al-Ghazali. Tanda ini dianggap sebagai karamah atau kasih sayang Allah agar mereka bersiap. Tanda-tandanya, meliputi getaran tubuh (100 hari), denyut pusar (40 hari), selera makan meningkat (7 hari), serta perubahan wajah dan fisik (3 hari hingga 1 hari) sebelum ajalnya. 

Tidak mengherankan, manakala sebagian orang juga bisa merasakan atau membaca akan tanda_tanda tersebut, baik oleh dirinya maupun oleh orang lain

Bahkan penyair Chairil Anwar mengetahui tanda-tanda kematiannya. Hal ini tergambar dalam buah karyanya, terutama di diksi puisinya. Di saat, ia menjelang akhir hayat, yang menunjukkan kesadaran akan kefanaan dan penerimaan terhadap takdir Tuhan. 

Di antara puisinya, yakni tentang perenungan akan kematiannya adalah "Kepada Kawan"(1946/47).

"Sebelum ajal mendekat dan mengkhianat, mencengkam dari belakang 'tika kita tidak melihat

Kawan, mari kita putuskan kini di sini: Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!"

...

Derai-Derai Cemara

 

Cemara menderai sampai jauh

terasa hari akan jadi malam

ada beberapa dahan di tingkap merapuh

dipukul angin yang terpendam 

 

Aku sekarang orangnya bisa tahan

sudah berapa waktu bukan kanak lagi

tapi dulu ada suatu bahan

yang bukan dasar perhitungan kini

 

hidup hanya menunda kekalahan

tambah terasing dari cinta sekolah rendah

dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan

sebelum pada akhirnya kita menyerah

 

tertegun di sini, merenung diam

kehilangan cinta dan tidak mengucap suatu percakapan yang tidak sia-sia_ (Chairil Anwar, 1949)

...

Mungkin sama halnya dengan makna diksi yang tidak akan sia-sia bila digoreskan menjadi jejak, dan tentu saling bertautan, bah Aku berdiksi berikut ini.

....

Aku Berdiksi

 

Diksiku

mata pedang Semesta

bukan basa basi

 

Diksiku

nurani berjiwa

bukan kosa kata kosong

 

Diksiku

kalam lima taqūlūna mā lā taf'alūn

bukan hanya melolong

 

Diksiku

cerminan

bukan sekedar kiasan

 

Diksiku

dari ilham Ilahiyah

mengalir lillah

 

Diksiku

hanya kepada Ihdinas siratal mustaqim

mesti berkalam

 

Diksiku

hanya kepada Sang Keabadian

jadi tumpuan mengabdi

 

Diksiku

Ber_alif Lam Mim

berhingga Aku berdiksi tak akan hampa_( Mabinfas, Ahad 23:08, 26 April 2026)

.....

 

Diam Bukan Hampa

 

Diam

bukan berarti hampa terbaca di dalam berkalam

 

namun

diam tetap bersalam sekalipun recehan

 

semoga bisa menjadi sebercak titik harapan tak terbayangkan dari rangkaian jejak goresan bertautan selama ini

 

bukan hanya rakitan goresan berindeks jurnalan. Termasuk, jiwa rangkaian diksi yang lain pun sangat berkaitan

 

Sekalipun, berdiksi tentang maut kematian yang tidak mesti ditakuti_(Mabinfas, Rabu 14;08, 8 April 2026.

...

 

Kematian Bukan Ditakuti

 

Aura

kematian

tidak mesti ditakuti

 

justru

berterimakasih akan kehadiran tanda nan telah bereinkarnasi

tanpa bisa dipungkiri nan dihindari

 

jadi

cerminan yang akan ditempuh

dan ditempatkan juga segera menanti

 

gambaran

akan kesejukan alam surga

atau jua berkobar bara membaranya neraka

 

Justru

kematian mesti dihadapi

bukan untuk ditakuti_(Mabinfas, Rabu 14;08, 8 April 2026).

...

Jadi, tanda atau pertanda maut kematian akan berdiksi benderang sebagaimana dinyatakan oleh Imam Al-Ghazali, meliputi tanda getaran tubuh dan denyut pusar, serta perubahan wajah dan fisik menjadi isyaratnya. Bahkan, tanda-tandanya, bisa diketahui oleh siapa pun, baik melalui ucapan maupun gerak isyarat menjadi karyanya sebagaimana Chairil Anwar berdiksi dan berkalam. Wallahualam

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama