![]() |
| AKLAMASI. Suwardi Thahir terpilih secara aklamasi sebagai Ketua PWI Sulsel Periode 2026-2031 pada Konferensi Provinsi PWI Sulsel, di Graha Pena Makassar, Selasa, 02 Juni 2026. (ist) |
-----
PEDOMAN KARYA
Rabu, 03 Juni 2026
Antiklimaks & Elegan di Konferprov PWI
Sulsel 2026
Catatan M. Dahlan Abubakar
Ketika Suwardi Thahir diumumkan sebagai
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulsel Periode 2026-2031, rekan FAS
Rahmat Kammi memeluk saya sembari terisak sesunggukan.
Rasanya dia bagaikan sudah berhasil keluar
dari lubang jarum. Batin saya refleks merespons. Mata saya berkaca-kaca. Ikut
merasakan betapa penuh lika-likunya untuk menjadi seorang kandidat Ketua Dewan
Kehormatan PWI Sulsel kali ini.
“Mungkin ini ada hikmahnya,” itulah
kalimat pengobat dan penyabar hati yang sering saya ungkapkan kepada Suwardi Thahir
dan Mappiar saat satu dua syarat terbentur pada legalitas. Perasaan ini mengisi
hari-hari panjang Suwardi dan saya menjelang Konferensi Provinsi (Konferprov) PWI Sulsel
2026 dengan berbagai diskusi-diskusi yang tiada henti.
Saya harus menyampaikan terima kasih
kepada teman-teman anggota PWI Kabupaten / Kota yang tanpa mereka, ST dan saya mustahil bisa merebut kesempatan
memimpin organisasi wartawan tertua ini lima tahun ke depan. Kami berdua merasa
mendapat amunisi raksasa dari teman-teman daerah. Dan, kami menyampaikan terima
kasih atas aspirasi mereka.
Begitu pun bantuan dan dukungan yang tulus dan ikhlas dari
sahabat-sahabat di TVRI Sulawesi Selatan dan RRI Makassar ikut mengokohkan
semangat duet ST dan MDA meniti
perjuangan demi perubahan ini. Para wartawan senior pun ikut bersusah-susah mendukung
duet kami.
Bahkan, jauh beberapa tahun silam, melalui
teman Rahmat, saya secara emosional dan psikologis merasa larut dan menjadi
bagian dari mereka. Merasakan bagaimana kalau saya berada pada posisi mereka
dengan kondisi seperti itu. Kadang saya bertanya, mengapa selalu daerah itu
yang menjadi dan dibuatkan masalah, padahal tidak ada masalah.
Oleh sebab itulah, duet ST-MDA mengusung
tagline ‘perubahan’. Kita harus berubah dalam segala hal, terutama yang paling
penting adalah dalam bidang keorganisasian. Tanpa bermaksud mengulik masa lalu,
ke depan agaknya begitu banyak lubang-lubang yang membuat organisasi ini sering
terperosok, harus kita tutupi. Keledai
tidak boleh terantuk dua kali pada batu yang sama.
Peserta Di-’prank’
Saya merasakan, inilah perhelatan yang
penuh dengan lika-liku perjuangan. Untuk menjadi calon saja harus memenuhi
empat belas syarat sesuai peraturan organisasi. Syarat yang rada tidak mudah
diurus sendiri oleh para calon kalau tidak ada tenaga khusus sekretariat yang
bisa mengorganisasikannya.
Duet Suwardi Thahir dan M. Dahlan Abubakar
sangat beruntung dan merasa berutang budi kepada teman Andi Asmadi bersama Nur
Ainun Afiah (Ayi), dan Andrian yang menjadi motor penggerak kelengkapan
administrasi duet Suwardi - Dahlan.
Saya sangat yakin, tanpa trio ini, plus
di-”backing” Ibu Ida, “mantan pacar” Suwardi Thahir, urusan administrasi kami
bisa tuntas sekilas. Saya sendiri kesulitan menemukan kata dan kalimat apa yang
pantas untuk mengucapkan terima kasih kepada ‘kuartet” ini.
Kemampuan Asmadi memenej tetek bengek
administrasi yang “seabrek” itu membuktikan bahwa dia tidak hanya piawai
memenej sebuah penerbitan media. Wartawan memang selalu berpikir logis dan
fragmatis. Wartawan adalah seorang generalis dan juga bisa spesialis.
Tentu saja yang tidak dapat kami lupakan
adalah peran Sukriansyah S. Latief yang meskipun sekali dua terlibat dalam
diskusi-diskusi kecil memecahkan langkah-langkah potensial menuju 2 Juni 2026,
namun memberi warna yang signifikan dalam perjuangan ini.
Kehadiran Uki -- panggilan Doktor Ilmu
Hukum lepasan Unhas ini -- seolah langsung mendongkrak stamina dan amunisi tim kecil kami yang kadang siap-siap menipis.
Tulisan saya ini mungkin perlu sebagai
koreksi terhadap kerja panitia. Tanggal 01 Juni 2026 malam, merupakan saat yang
sangat kritis dan krusial.
Pertama, tim sekretariat disibukkan oleh
aturan panitia, bahwa tim kandidat harus menyerahkan seluruh surat mandat untuk
diverifikasi oleh panitia dengan ‘deadline’ pukul 22.00 Wita.
Surat mandat ini harus legal.
Ditandatangani oleh pemberi mandat di atas kertas bermaterai. Fisik kartu tanda
anggota (KTA)-B pemberi mandat pun harus dilampirkan.
Repotnya, ternyata hitungan puluhan menit
menjelang batas waktu, banyak pemegang KTA-B menyatakan berhalangan hadir di Konferprov.
Akibatnya, Asmadi harus bekerja ekstra keras menyiapkan mandat yang akan
diverifikasi. Total hingga registrasi tercatat 41 pemilik KTA-B harus memberi
mandat.
Kekalangkabutan yang kedua, panitia
ternyata telah mem-”prank” peserta. Seluruh peserta harus melakukan registrasi
dengan batas waktu pukul 08.00 Wita tanggal 02 Juni 2026.
“Ini gila. Orang harus mulai melakukan
registrasi pukul berapa?” saya membatin.
Membaca pengumuman panitia yang sangat
tidak logis ini, saya pun mengontak Wakil Ketua Bidang Daerah Sarjono yang
mendampingi Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat Joko Tetuko A. Latief
menghadiri Konfercab PWI Sulsel 2026.
Saya mengatakan, kalau batas waktu
registrasi pukul 08.00 Wita, peserta mulai berdatangan melakukan registrasi
pukul berapa. Sangat tidak bernalar jika sekitar 300 orang melakukan registrasi
dengan batas waktu itu (pukul 08.00).
Jika setiap orang memerlukan waktu satu
menit untuk melakukan registrasi, termasuk verifikasi ulang surat mandat dan
KTA-B-nya, berarti 300 menit atau 5 jam habis untuk kegiatan registrasi.
Padahal, pembukaan pukul 10.00 Wita.
Pada galibnya, registrasi peserta dapat
dilakukan hingga sebelum acara pembukaan dimulai. Bahkan peserta yang baru
datang dapat melakukan registrasi kemudian masuk mengikuti acara pembukaan.
Maksudnya mungkin agar banyak peserta yang hadir pada acara pembukaan. Mungkin
ini alasan panitia. Tetapi dengan batas waktu yang seperti itu, termasuk yang
tidak bisa diterima nalar waras.
Membaca pengumuman yang beredar dari
panitia, tim Suwardi - Dahlan
mengumumkan kepada seluruh peserta agar pukul 07.00 Wita sudah tiba di
lokasi Konferprov. Ada teman yang tiba di lokasi menjelang pukul 07.00. Saya
orang ketiga tiba pukul 07.00, setelah meninggalkan rumah pukul 06.30 guna
menghindari lalu lintas macet pada poros Antang.
Apa yang terjadi? Saat peserta tiba pukul
07.00, seorang pun anggota panitia tidak tampak batang hidungnya. Di depan
ruang tempat Konferprov masih kosong.
“Kita sudah di-prank panitia,” kata saya
menghibur teman-teman yang memanfaatkan masa menunggu dengan mengepul-ngepulkan
asap rokoknya di luar gedung.
Kehadiran peserta tim Suwardi – Dahlan yang
lebih awal ini dihitung saja sebagai bentuk disiplin waktu.
Di tengah masa menunggu kedatangan
panitia, sebuah bus Brimob mengerem tidak jauh dari pintu masuk Graha Pena.
Tidak berapa lama, beberapa personel petugas berseragam hitam itu menyisir
sejumlah sudut ruangan di dekat lokasi Konferprov di lantai dua.
“Begitu menegangkan panitia menyikapi
keamanan Konferprov ini,” saya berbisik kepada salah seorang teman.
“Itu sudah prosedur standar,” seorang
teman menjawab.
Jika membaca situasi ini dari sisi catatan
kritis, Konferprov ini dipandang sebagai kegiatan yang berpotensi menimbulkan
gejolak. Tanda-tanda ini sebenarnya dapat dibaca pada gestur oknum panitia
sendiri saat menerima verifikasi mandat di Sekretariat PWI Sulsel Maccini Sawah
pada 01 Juni malam.
Kegiatan Konferprov ini bagaikan sebuah
‘perang’. Oknum panitia senyum dan sapa pun tidak. Kaku banget. Padahal, kita
ingin situasi itu harus cair dan apa adanya.
Tim Suwardi – Dahlan beserta pendukungnya
hanya berpikir mengikuti Konferprov dengan cara yang elegan dan wajar. Soal
menang dan kalah, sudah menjadi aksioma kompetisi.
Ternyata, panitia semalaman begadang.
Mereka baru pulang pukul 02.00 Selasa dinihari dari lokasi Konferprov
mempersiapkan perlengkapan macam-macam untuk perhelatan demokrasi PWI Sulsel
ini. Ini namanya ‘bumerang’. Registrasi baru dimulai hampir pukul 08.30.
Anti Klimaks
Pembukaan akhirnya dimulai pukul 10.30
Wita. Tidak terlalu molor memang. Laporan Faisal Palapa selaku Ketua Panitia
mengawali acara pembukaan, diikuti sambutan Plt Ketua PWI Sulsel Zulkifli Gani
Ottoh, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, Ketua PWI Pusat diwakili Wakil
Ketua Bidang Organisasi Joko Tetuko A. Latief, dan Gubernur Sulsel diwakil
Asisten Administrasi Umum Dr Muhammaf Arfah, sekaligus membuka Konferprov.
Pleno I, II, dan III berlangsung mulus.
Laporan Pertanggung Jawab (LPJ) Pengurus PWI Sulsel periode 2021-2026 diterima
setelah diselingi beberapa interupsi dan komentar. Tiba pada pleno IV, Arman
yang memimpin sidang menawarkan kepada dua calon untuk bermusyawarah dan mufakat.
Tujuh menit waktu yang diberikan untuk agenda penting ini.
“Suwardi saja yang wakili,” bisik saya
sebelum calon Ketua PWI Sulsel periode 2026-2031 ini bangun dari kursi di
sebelah kanan saya.
Mungkin tidak cukup tujuh menit, Suwardi muncul
diiringi ada suara yang meneriakkan “aklamasi”. Tiba-tiba FAS Rahmat Kammi
merangkul saya disertai isak sesunggukan membuat saya ikut larut.
Tak berapa lama, Amrullah Basri dan Suwardi
Thahir pun diundang ke podium untuk menyampaikan catatan atas
musyawarah-mufakat yang ditempuhnya. Saya selaku Ketua Dewan Kehormatan Provinsi
terpilih ikut tampil sekadar menimpali visi-misi dan program kerja yang
disampaikan Suwardi Thahir.
Skenario aklamasi ini memang kita sudah
bahas di sekretariat dua malam sebelumnya. Hal ini ditempuh mengingat dukungan
teman-teman yang terus mengalir dan kemungkinan jika ada tawaran
musyawarah-mufakat di forum Konferprov.
Juga mengantisipasi kemungkinan merapatnya
sebagian besar teman ‘sebelah’ setelah melihat kekuatan dukungan terhadap Suwardi
Thahir dari daerah, TVRI, dan RRI yang bagaikan ‘air bah’.
Di ruang Konferprov, saya yang duduk di
kursi kedua dari depan, kerap menoleh, melepaskan pandangan ke belakang.
Melihat peta kekuatan pendukung Suwardi – Dahlan. Tampaknya teman-teman kompak. Bahkan dari
agenda ke agenda acara Konferprov, yang melakukan interupsi hanya dari kubu Suwardi
– Dahlan. Luar biasa teman-teman ini mengejawantahkan kesepakatan tidak
tertulis malam pertama mereka tiba di Sekretariat Makassar.
Jalan musyawarah-mufakat penentuan Ketua
PWI Sulsel 2026-2031 ini termasuk pilihan yang paling tepat. Yang tidak
terpilih tak merasa ‘tercederai’. Yang terpilih pun tidak merasa “mencederai”
yang lain. Sangat elegan dan bisa dijadikan format untuk menghadirkan
organisasi PWI Sulsel yang juga beraktivitas elegan di masa depan.
Saya teringat sebelum memutuskan
mendampingi Suwardi Thahir. Saat berjalan menuju tangga turun di Sekretariat
Tim, rekan Anwar Sanusi, membisikkan kepada saya agar mendampingi Suwardi Thahir
sebagai calon Ketua PWI Sulsel.
“Carilah dulu sosok lain yang tepat
sebagai pendamping Suwardi Thahir. Kalau tidak ada, baru saya maju,” saya
menjawab enteng.
Mungkin sulit menemukan calon Ketua DKP
yang pas dengan rekam jejak jurnalistik yang mumpuni, Anwar Sanusi kemudian menetapkan
saya sebagai pendamping. Saya juga berharap, teman-teman di daerah masih
mengenal nama saya. Ternyata sahabat FAS Rahmat Kammi merespons positif dan
ikut “menjual” nama saya ke teman-teman.
Padahal sebelumnya, saya ingin
berkonsentrasi di kampus dan mengasuh dua media cetak dan beberapa media daring
yang diasuh.
Belakangan, istri memberi tahu, putri saya
juga protes kecil. Mengapa saya mengambil kesibukan lagi di PWI, sementara di
kampus, menulis buku, dan mengelola medianya, tidak memberinya waktu luang.
Tetapi istri memberi pengertian, kehadiran saya untuk membantu mengembalikan muruah (kehormatan) PWI Sulsel.
Terus terang, pemilihan Ketua PWI Sulsel
dan Ketua DKP Sulsel kali ini sarat makna religius. Senin malam, saya menelepon
seorang teman yang dikenal sebagai penasihat spiritual mantan 02 Indonesia.
Saya minta agar dimudahkan dan dijauhkan dari kendala dan halangan dalam
menghadapi suksesi PWI Sulsel ini. Dia pun meminta nama Suwardi Thahir dan
saya.
Selasa (2/6/2026) pagi, saya meninggalkan
rumah, setelah membangunkan ayah (98 tahun) yang sedang tidur di kamar cucu
pertama saya. Ayah datang berobat mata di Makassar. Beliau bangun waktu itu,
saat saya berjalan meninggalkan kamar cucu yang jadi ruang tidurnya sejak 18
Mei 2026.
Dari pintu yang tersingkap sedikit, saya
memberi tahu akan pergi mengikuti Konferensi pemilihan Ketua PWI Sulsel. Saya
pun berjalan menuju pintu.
“Pak, Abu (sapaan ayah yang sudah berhaji
di Bima) bangun,” seru istri menghentikan langkah saya yang hampir mencapai
pintu depan rumah.
Saya menoleh, tampak Ayah mengenakan
sarung, masih sempat mengenakan baju batik dan topi hajinya, dengan tangan
kanan memegang tongkat berkaki empat hendak ‘mengejar’ saya yang sudah di
pintu. Saya kembali berjalan menuju ke arah Ayah. Saya menjabat tangannya
sembari sedikit menunduk.
“Baca…. dan ayat ini di pintu baru
melangkah,” pesannya saat saya mengangkat muka untuk berbalik ke arah pintu dan
akan meninggalkan rumah.
Tradisi Ayah ini mengikuti Kakek ketika
melepas saya ke Makassar tahun 1971. Kakek yang lama tinggal di Tanah Suci Mekah
menjadi guru spiritual bagi para tetua di kampung saya. Kakek mengajarkan
bacaan tertentu untuk tujuan khusus.
Di pintu rumah, saya menunaikan harapan
Ayah. Membuka pintu, menghidupkan mesin mobil. Menyusuri Jl. Komunikasi yang di
sisi kiri kanannya diparkiri kendaraan. Keluar dari kompleks perumahan, lalu
membaurkan mobil di antara kendaraan yang mengisi jalan yang belum terlalu
sesak pukul 06.30 tanggal 2 Juni 2026.
Dua jam terakhir di Graha Pena, gawai saya
kehabisan stamina. Saya khawatir, pasti istri bertanya-tanya.
“Mengapa tidak pernah menelepon sepanjang
hari?” pikir saya.
Usai salat magrib di masjid kecil di dekat
Graha Pena, saya meluncur pulang. “Menyibak” kendaraan Jl. Urip Sumoharjo malam
hari yang sulit dicari celahnya.
Saat tiba di rumah, Ayah sedang salat
Isya. Saya naik ke kamar, istri pun sedang menunaikan salat isya. Saya
meletakkan ransel di ujung tempat tidur yang sudah sangat padat dengan beragam
benda di dekatnya lalu keluar kamar sambil menunggu istri usai salat.
Beberapa saat kemudian saya kembali ke
kamar. Istri sudah selesai shalat dan berdoa.
“Bagaimana Pak?” katanya pendek.
“Alhamdulillah, Mi,” jawab saya pendek
dengan suara yang terasa berat.
“Saya terus berdoa agar diangkat
kehormatan ta’ dalam pemilihan,” katanya.
“Terima kasih, Mi,” saya memeluknya sambil
terisak.
Inilah kali kedua saya terisak, 02 Juni
2026 itu, setelah dirangkul sahabat FAS Rahmat Kammi di arena Konferprov PWI Sulsel yang
antiklimaks itu.***
