----
PEDOMAN KARYA
Senin, 01 Juni 2026
Catatan Ringan Sambut Konferprov PWI
Sulsel:
‘Fajar’ Kembali Bertarung
Oleh: Andi Pasamangi Wawo
(Ketua Dewan Penasehat PWI Sulsel)
Konferensi Provinsi (Konferprov) Persatuan
Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan, digelar Selasa, 02 Juni 2026, di
Gedung Graha Pena Makassar, milik Fajar Grup dimana harian terkemuka di belahan
timur Indonesia yang memiliki 'puluhan' media lokal dan mitra media 'raksasa'
ini, berkantor.
Kali ini, kembali dua kandidat asal Harian
Fajar bertarung. Mereka adalah Pemimpin Redaksi Harian Fajar, Amrullah Basri,
dan mantan Pimpinan Fajar TV H. Suwardi Thahir.
Periode lalu, Pimpinan Fajar Pendidikan
Nurhayana Kamar mendaftar sebagai kandidat versus 'Petinggi'nya Harian Fajar
Grup. Namun saat Pemilihan akan berlangsung, dinyatakan telah mengundurkan diri
hingga terjadi aklamasi dengan memilih kembali H. Agus Salim Alwi Hamu sebagai ketua
untuk periode kedua kalinya.
Riaknya cukup panjang karena ada kubu yang
menyeret sampai ke "Meja hijau', karena dianggap tidak sah sekalipun sudah
dilantik, namun 'kandas'. Dan, kembali normal, setelah angin kencang dan
gelombang ombak menjadi reda. H.Agus Salim kembali berupaya melanjutkan program
kerjanya.
Silaturrahim beberapa teman yang awalnya
lain kubu kembali terjalin akrab lewat WAG 'Wartawan Glamur' yang di'motori' anggota
Dewan Penasehat PWI Sulsel, AB.Iwan Azis.
Khususnya, para wartawan senior yang sudah lanjut usia, di atas 60
tahun.
Saya teringat tahun 1993 kalau tak salah,
'duel' sesama Fajar juga terjadi, ketika Andi Syahrir Makkuradde bersaing ketat
dengan HM Alwi Hamu (terkirim Surah Al-Fatihah untuk kedua almarhum).
Awalnya saya mengira hanya formalitas
menyemarakkan Konferensi PWI Sulsel agar nampak hidup dan riuh, namun faktanya
ternyata 'pertarungan' dua tokoh mantan penggerak mahasiswa sesama 'HMI' ini
serius berebut kursi wartawan 'number one' di PWI Provinsi Sulsel.
Hebatnya, konferensi ini sempat 'deadlock'
beberapa minggu. Dan berakhir dengan kemenangan suara untuk owner Fajar Grup,
HM.Alwi Hamu.
Saat itu, alhamdulillah, usai perhelatan
'panas', dua kubu kembali berangkulan seperti semula dengan berbagai kesibukan
dan aktivitasnya sebagai pewarta.
Berbesar Hati
Ada yang menarik untuk persyaratan kandidat
Ketua PWI Sulsel kali ini yang sempat membuat prasangka miring terhadap panitia.
Karena syarat dukungan 20% dari jumlah klasifikasi Anggota Biasa PWI, sesuai
Daftar Pemilih Tetap (DPT) dari PWI Pusat. Juga harus melampirkan Rekomendasi Media calon kandidat.
Syarat ini memang baru dilaksanakan di
beberapa Konferensi PWI Provinsi, pasca-Kongres 'PWI Persatuan' di Cikarang,
yang dianggap sukses oleh sejumlah wartawan yang menghadiri Pemilihan Ketua
Umum dan Ketua Dewan Kehormatan PWI, Agustus 2025.
Terlepas dari kemiringan persepsi, saya
tetap yakin bahwa Konferprov PWI untuk periode 2026-2031 ini akan berlangsung
aman dan kondusif.
Terus terang kalau mau ngotot dan berpikir
negatif, saya pun bisa curiga dengan tidak masuknya anak saya dalam DPT,
padahal dia sudah Anggota Biasa, ikut memilih sejak 2010 dan jadi Pengurus PWI
Sulsel 2 (dua) periode.
Masalahnya, ketika terjadi dualisme
kepemimpinan PWI Pusat 2024, KTA-nya mati dan menunggu pengurus baru. Tapi
karena dianggap masanya kedaluwarsa, KTA-nya harus mulai lagi sebagai Anggota
Muda. Artinya hak pilihnya gugur.
Anak saya yang juga owner media daring
'Sulseltoday' terpaksa menyurutkan niatnya ikut Uji Kompetensi Wartawan (UKW)
tingkat Wartawan Madya (Mudanya, sudah 5 tahun), yang dilaksanakan PWI Sulsel
belum lama ini.
Kejadian ini justru saya timpakan pada
anak saya karena telah lalai dan memang menyalahi aturan.
Saya tidak ngotot, padahal mungkin saya
mampu lakukan. Namun mengingat posisi saya sebagai Ketua Dewan Penasehat di PWI
Sulsel, malu rasanya gunakan otak kiri dengan berpikir negatif.
Nah, kembali pada Konferprov PWI Sulsel, kedua
kandidat ini, nanti tetap akan 'berangkulan' tanpa sekat dari dua kubu yang
berjuang dalam kotak suara.
Pertanyaannya, kenapa..? Karena andai
Amrullah Basri curang dan mau menang sendiri, mengapa mau berbesar hati
menandatangani dan memberi 'rekomendasi' sebagai salah satu syarat kandidat
pada saingannya, H. Suwardi Tahir.
Saya kira pengalaman ini bisa menjadi
pembelajaran bagi kita, betapa Wartawan asal Fajar tetap menjunjung nilai
'sipakatau' . Itu saja. Selamat bertarung,
adindaku berdua. Yakinlah, takdir itu ada.
Eh, hampir lupa pada Kandidat Ketua Dewan
Kehormatan PWI Sulsel, saudaraku HM Dahlan Abubakar, dan dinda Abdul Jurlan,
yang keduanya 'jebolan' harian pagi Pedoman Rakyat, saya ikut mendoakan semoga
tercapai angan dan cita membenahi 'ulah' sejumlah Wartawan Pelanggar Kode Etik
Jurnalistik dan Perilaku Wartawan, setelah terpilih nanti. Salamakki tapada
salama’.***
