‘Manager’ Sekretariat PWI Sulsel yang Rapi

Gedung PWI Sulsel di Jalan AP Pettarani, Makassar. Inzet: H. Murtadji.


------

PEDOMAN KARYA

Senin, 13 Juli 2026

 

Obituari H. Mustadji S. Arwi:

 

‘Manager’ Sekretariat PWI Sulsel yang Rapi

 

Oleh: M. Dahlan Abubakar

 

Ahad (12/7/2026) malam, di Grup WA Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Sulawesi Selatan -- grup tempat istri saya juga bergabung -- tersiar berita duka. “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Telah berpulang ke rahmatullah Bapak Haji Murtadji. Semoga amalnya diterima di sisi Allah. Amin ya rabbil alamin”.

Membaca pesan duka itu, istri memberi tahu saya yang sedang sibuk di depan laptop di kamar tidur kami. Saya beberapa hari terakhir ini -- sejak di Bima -- sibuk mengikuti perkembangan pertandingan Piala Dunia 2026 dan menulis buku kenangan untuk Ibunda yang berpulang 22 Juni 2026 di Desa Kanca Kecamatan Parado Kabupaten Bima, tempat kelahiran saya.  

Saya memang pernah selama empat tahun lebih bekerja sama dengan Pak Murtadji ketika saya menjabat Sekretaris PWI Sulawesi Selatan periode 1988-1993 di bawah Ketua PWI Sulsel Rahman Arge (alm.).

Karena kesibukan saya sebagai seorang sekretaris yang masih wartawan aktif di Harian Pedoman Rakyat dan sebagai karyawan Universitas Hasanuddin, peran Pak Murtadji tidak dapat dikatakan ringan. Menghubungi saya jika tidak muncul di Balai Waatawan Jl. Penghibur No.1, Kantor PWI Sulsel dulu, jika ada hal-hal yang mendesak berkaitan dengan persuratan.

Ketika mendampingi saya sebagai Sekretaris PWI Sulsel dan Pak Murtadji menjabat Kepala Sekretariat PWI SUlsel, ada dua kenangan yang tidak bisa saya lupakan.

Pertama, ketika ada seorang wartawan senior mengajukan usulan seorang anaknya dibuatkan surat rekomendasi untuk diangkat sebagai wartawan Anggota PWI. Setelah saya mempelajari, anak tersebut ternyata masih sangat muda, baru 16 tahun. Kalau dihitung usia sekolahnya, anak tersebut baru tamat SMP atau paling cepat baru duduk di kelas 1 SMA.

Menyikapi hal ini, saya menolak menandatangani pengusulan nama yang bersangkutan. Dan itu, saya sampaikan kepada Pak Murtadji yang selanjutnya meneruskan informasi ini kepada pemimpin redaksi media mingguan tersebut. Dampak dari tindakan saya ini, Pemred media tersebut “membombe” (tidak bertegur sapa dengan saya) beberapa lama.

“Ini risiko saya sebagai sekretaris PWI Sulsel untuk selektif menerima kelengkapan administrasi seseorang yang hendak menjadi wartawan,” saya membatin.  

Kenangan kedua, soal bantuan dana dari APBD Sulsel. Suatu hari saya ditelepon oleh Staf Humas Kantor Gubernur Sulsel untuk mengambil pencairan dana bantuan Pemprov Sulsel kepada PWI Sulsel sebesar Rp 1.000.000.

Saya dikontak langsung karena sebelumnya, saya mendapati bahwa pencairan dana bantuan tersebut sebelum-sebelumnya tidak melibatkan tanda-tangan Sekretaris PWI Sulsel. Hanya tanda tunggal, Ketua PWI Sulsel.

“Setiap surat PWI Sulsel yang keluar harus ditandatangani oleh Ketua dan Sekretaris. Jika ini berlanjut saya akan menghadap ke Pak Gubernur,” kata saya bernada ‘mengancam’ kepada salah seorang Staf Humas Kantor Gubernur Sulsel yang saya tahu betul sangat dekat dengan para wartawan.

Staf itu tahu kalau saya sangat mudah bertemu Pak Amiruddin yang ketika itu menjabat Gubernur Sulsel.

Saya pun datang ke Kantor Gubernur Sulsel, di Jl. A.Yani (Balai Kota Makassar sekarang) untuk mengambil dana tersebut sebesar sesuai yang sudah diketahui. Usai menerima dana tersebut saya langsung ke Balai Wartawan.

“Pak Murtadji, ini ada uang Rp1.000.000. Gunakan untuk membuat bilik kerja Kepala Sekretariat yang terpisah dengan meja yang lainnya,” kata saya sembari menyerahkan uang tunai di dalam amplop kecil berwarna cokelat.

Menjelang sore, tiba-tiba masuk telepon dari salah seorang staf Humas Pemprov Sulsel.

“Kenapa Bapak datang ambil dana PWI tanpa sepengetahuan saya,” katanya.

“Loh, saya menerimanya dari Bagian Keuangan dan tidak ada perintah atau petunjuk harus melapor ke Staf Humas,” jawab saya.

Telepon itu sebenarnya hanya trik belaka yang sudah berlaku sebelum-sebelumnya ketika saya belum mengambil langsung dana bantuan tersebut. Tampaknya, pantas saja, dana itu bisa cair mudah meskipun secara administratif, surat yang masuk tidak ditandangani oleh dua pihak yang lazim menekennya.

 

Mengingatkan

Setelah Kantor PWI Sulsel pindah ke Jl. Andi Pangerang Petta Rani, masa jabatan saya juga berakhir. Gerbong kepemimpinan PWI Sulsel beralih ke Pak Alwi Hamu (alm.) yang pemilihannya sempat tertunda beberapa lama karena adanya penolakan terhadap namanya sebagai calon tunggal. Padahal, dari kalangan wartawan muda anggota PWI juga ada calon lain, yakni Kak Syahrir Makkuradde (alm.).

Pak Murtadji tetap diposisikan sebagai Kepala Sekretariat PWI Sulsel di kantor yang baru. Tugasnya selain mempersiapkan surat-surat yang hendak dikirim ke luar, juga mengurus kelengkapan administrasi perpanjangan kartu tanda anggota (KTA) PWI yang dikirim ke PWI Pusat. Tugas lain adalah “menagih” iuran anggota yang sudah keluar KTA-nya.

Almarhum punya cara yang santun jika KTA wartawan sudah tiba dari Jakarta. Dia akan menelepon pemilik KTA untuk datang mengambil kartunya masing-masing. Nanti saat hendak mengambil KTA-nya, Pak Murtadji memberi tahu besar tunggakan iuran sang pemilik KTA itu. 

Jadi, teman-teman langsung membayar iuran bersamaan dengan penyerahan KTA. Kalau saya, begitu ditelepon, langsung menanyakan berapa utang iuran KTA yang harus dilunasi agar dapat menyiapkan dana secukupnya.

Cara Pak Murtadji menagih iuran seperti ini termasuk sangat santun dan tidak ‘mencederai’ perasaan teman-teman anggota PWI. Setelah Pak Murtadji tidak lagi di posisi itu, saya tidak tahu bagaimana mekanismenya. Wallahuallam bisssawab.

Murtadji S. Arwi dilahirkan di Bogor, 06 April 1940. Suami dari Hj. Bahria dengan satu anak ini, sejak tahun 1964 terdaftar sebagai wartawan. Empat tahun kemudian dia menjadi anggota PWI dan hingga akhir hayatnya mengantongi KTA 23.00.0616.68 Seumur Hidup.

Sebelum tiba di Makassar, Pak Murtadji bekerja sebagai Staf Sekretariat Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) Pusat di Jakarta (1960-1967). Sambil bekerja di SPS itu, dia menggandengnya sebagai Koresponden Harian “Tanah Air” dan “Mercu Suar” Makassar di Jakarta.

Rupanya sejak tamat SMA, dia sudah berurusan dengan pekerjaan sebagai wartawan. Untuk mendukung keterampilan jurnalistiknya, dia mengikuti penataran wartawan tingkat dasar dan lanjutan tahun 1972 dan 1974. 

Pada tahun 1977 dia mengikuti Penataran Wartawan Hankam. Di Jakarta pada tahun 1978, Pak Murtadji mengikuti Pendidikan Teknik Percetakan yang diselenggarakan Departemen Penerangan RI.

Ketika diadakan Karya Latih Wartawan (KLW) Bidang Pemerintahan pada tahun 1983 di Makassar (yang juga saya ikuti), Pak Murtadji termasuk salah seorang pesertanya. Peserta lain di antaranya, Syahrir Makkuradde, Ajiep Padindang, Hasan Mintaraga, Hasan Kuba, dan beberapa wartawan Makassar lainnya. 

Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) yang diwajibkan pemerintah Orde Baru kepada seluruh organisasi di Indonesia, juga berlaku bagi PWI Sulsel. Dan Pak Murtadji, termasuk pesertanya dan berlangsung pada tahun 1980.

Dia ikut kegiatan penataran ini bersama sejumlah wartawan senior lainnya. Saya tidak ikut karena sudah mengikutinya di Unhas pada tahun yang sama.

Delapan tahun kemudian, dia mengikuti Oprientasi Kewaspadaan Nasional (Orpadnas) sebagai wadah mengindoktrinasi para wartawan dengan idealisme Orde Baru.

Dalam sejarah organisasi PWI Sulsel, nama Pak Murtadji akan selalu dikenang sebagai sebagai ‘manajer’ kesekretariatan yang andal dan penuh dengan pengabdian. Dia melakoni tugasnya dengan senyum dan keramahan.

Ketika mendengar dia tidak lagi di tempatnya itu karena perubahan rezim di kepengurusan PWI Sulsel, saya sangat bersedih. Mengapa sosok yang sangat telaten dalam urusan kesekretariatan organisasi profesi ini disingkirkan.

Selamat jalan Pak Murtadji. Semoga mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Amin ya rabbil alamin.***


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama