Ratusan Mahasiswa Lintas Kampus Hadiri Kuliah Umum Literasi Keuangan di Unhas

 

LITERASI KEUANGAN. Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa memberikan sambutan pada acara Kuliah Umum LIKE-It LIKE-It (Literasi Keuangan Indonesia Terdepan) bertajuk: “Financial Resilience for the Future”, di Baruga AP Pettarani, Kampus Universitas Hasanuddin, Tamalanrea, Makassar, Selasa, 20 Oktober 2026.  


----

Rabu, 21 Oktober 2026

 

Ratusan Mahasiswa Lintas Kampus Hadiri Kuliah Umum Literasi Keuangan di Unhas

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Enam ratusan mahasiswa berbagai perguruan tinggi atau lintas kampus menghadiri Kuliah Umum LIKE-It LIKE-It (Literasi Keuangan Indonesia Terdepan) bertajuk: “Financial Resilience for the Future” dengan tema: “Membangun Generasi yang Aman, Paham, dan Terlindungi”, di Baruga AP Pettarani, Kampus Universitas Hasanuddin, Tamalanrea, Makassar, Selasa, 20 Oktober 2026.

Kuliah umum yang dibuka oleh Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa, menampilkan tiga pembicara utama yakni Andi Timo Pangerang (Anggota Badan Supervisi Lembaga Penjaminan Simpanan), Farid Azhar Nasution (Wakil Ketua Dewan Komisoner LPS), dan Andi Yuliani Paris (Anggota Komisi XI DPR RI).

Setelah ketiga pembicara utama tampil dilanjutkan dengan dialog interaktif yang menampilkan empat pembicara.

Kuliah umum LIKE IT Series LPS 2026 diselenggarakan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bekerja sama Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Keuangan, serta Komisi XI DPR RI, untuk memperluas pemahaman mahasiswa mengenai sistem keuangan Indonesia.

Kegiatan ini turut menghadirkan sesi Leader Insight bertema “Financial Resilience for the Future: Membangun Generasi yang Aman, Paham, dan Terlindungi”, Parliament Insight mengenai peran legislasi dan pengawasan sektor keuangan, serta talkshow bersama narasumber dari BI, OJK, Kementerian Keuangan, dan LPS.

Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada LPS yang memilih Unhas sebagai lokasi penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Forum ini dinilai strategis karena mempertemukan mahasiswa dengan sejumlah lembaga yang memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas dan kepercayaan terhadap sistem keuangan nasional.

“Hari ini mahasiswa Unhas tidak belajar tentang keuangan hanya dari buku, tetapi langsung dari lembaga-lembaga yang menjaga sistem keuangan Indonesia,” jelas Prof. JJ, sapaan akrab Prof Jamaluddin Jompa.

Tantangan literasi keuangan saat ini, katanya, bukan semata-mata keterbatasan informasi. Di tengah arus informasi yang semakin mudah diakses, masyarakat justru perlu memiliki kemampuan untuk menilai kualitas informasi dan memahami konsekuensi dari setiap keputusan finansial.

Kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan, investasi dan spekulasi, produk keuangan yang sesuai dengan kebutuhan dan produk berisiko, serta peluang yang sah dan praktik penipuan. Pemahaman ini penting agar keputusan keuangan tidak didasarkan pada tren atau iming-iming keuntungan.

“Bagi generasi mahasiswa yang akrab dengan layanan digital, kemampuan tersebut semakin relevan. Transaksi dapat dilakukan dalam hitungan detik, sementara keputusan untuk membeli produk, menggunakan layanan pembiayaan, atau menempatkan dana dalam instrumen investasi dapat membawa konsekuensi jangka panjang,” tambah Prof.JJ.

Dia mengingatkan bahwa kecepatan teknologi perlu diimbangi dengan kebiasaan berpikir kritis. Mahasiswa perlu memahami produk yang digunakan, mengenali risikonya, dan tidak mudah mengambil keputusan hanya karena mengikuti rekomendasi di media sosial.

Ketahanan finansial (financial resilience), lanjutnya, juga tidak harus menunggu seseorang memiliki penghasilan besar. Fondasinya dapat dibangun sejak mahasiswa melalui kebiasaan mengelola pengeluaran, menabung, memahami risiko, dan mengenali perlindungan yang tersedia dalam sistem keuangan.

Dalam konteks yang lebih luas, Prof. JJ menekankan pentingnya memahami peran setiap institusi dalam ekosistem keuangan Indonesia.

Bank Indonesia menjalankan mandat di bidang moneter dan sistem pembayaran, OJK mengatur dan mengawasi sektor jasa keuangan serta menjalankan fungsi perlindungan konsumen, sedangkan Kementerian Keuangan berperan dalam kebijakan fiskal dan pembiayaan pembangunan.

Adapun LPS menjalankan fungsi penjaminan simpanan serta berperan dalam penanganan bank dan stabilitas sistem keuangan sesuai kewenangannya.

“Pemahaman terhadap fungsi lembaga-lembaga tersebut membantu mahasiswa melihat bahwa sistem keuangan tidak hanya berkaitan dengan aktivitas perbankan, tetapi juga ditopang oleh kebijakan, pengawasan, perlindungan konsumen, dan kepercayaan publik,” kata Prof JJ. (kia)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama