iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » Ingin Jadi Ponsel Pintar


Pedoman Karya 11:21 AM 0


"Orangtua saya sungguh sangat mencintai ponsel pintar mereka. Mereka peduli ponsel pintar mereka, sehingga kadang-kadang mereka lupa untuk peduli kepada saya. Ayah saya pulang dari kantor dalam keadaan lelah, tetapi ia masih memiliki banyak waktu untuk ponsel pintarnya, tapi tidak untuk saya."





---------
PEDOMAN KARYA
Senin, 25 Januari 2016


Anekdot:

Ingin Jadi Ponsel Pintar


Setelah makan malam dan setelah anak-anaknya pada tidur, seorang guru mulai memeriksa PR (pekerjaan rumah) yang dikerjakan oleh para siswanya. Saat itu, suaminya berjalan di dekatnya dengan ponsel pintar sambil belajar bisnis online.
Ketika membaca catatan terakhir, ibu guru itu mulai menangis dengan air mata berlinang. Melihat isterinya menangis, sang suami pun bertanya.
“Mengapa mama menangis sayang? Apa yang terjadi?” tanyanya.
“Kemarin saya memberikan pekerjaan rumah kepada para siswa. Saya meminta mereka menulis sesuatu dengan topik: Yang Saya Inginkan. Mereka saya minta menulis apa saja yang mereka inginkan,” jawab sang isteri sambil menangis.
“Oke say, tetapi mengapa kamu menangis?” tanya si suami.
“Memeriksa catatan mereka, itulah yang membuat saya menangis.”
“Apa yang tertulis dalam catatan mereka yang membuat kamu menangis say?”
“Ini saya ambilkan salah satu tulisan mereka. Dengarkanlah say, saya akan bacakan,” kata sang isteri sambil tetap menangis.
“Keinginan saya adalah ingin menjadi sebuah ponsel pintar,” kata sang isteri membacakan tulisan muridnya.
“Orangtua saya sungguh sangat mencintai ponsel pintar mereka. Mereka peduli ponsel pintar mereka, sehingga kadang-kadang mereka lupa untuk peduli kepada saya. Ayah saya pulang dari kantor dalam keadaan lelah, tetapi ia masih memiliki banyak waktu untuk ponsel pintarnya, tapi tidak untuk saya,” tutur sang isteri dengan derai air mata.
“Ketika orangtua saya melakukan beberapa pekerjaan penting dan ponsel pintar berdering, dengan segera mereka mengangkat teleponnya, tapi tidak untuk saya, bahkan jika saya merengek dan menangis pun. Mereka bermain game di ponsel pintar, mereka tidak bermain dengan saya,” ujar sang isteri dengan derai air mata.
“Mereka berbicara dengan seseorang di telepon pintar mereka, mereka tidak pernah mendengarkan saya, bahkan sekalipun saya mengatakan sesuatu yang penting. Jadi, keinginan saya adalah untuk menjadi sebuah Ponsel Pintar,” kata sang isteri.
Keduanya kemudian saling menatap satu sama lain, lalu berlari masuk ke kamar anak-anak mereka, menatap anak mereka yang sedang tertidur lelap dan langsung memeluk serta menciumi anak mereka sambil menangis. (Ditulis ulang dan dikreasi oleh Asnawin)  


«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply