iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » » Selalu Membeli Khamar dan Menemui Pelacur, tapi Jenazahnya Dishalati Ulama


Asnawin Aminuddin 7:46 PM 0


"Dia juga selalu pergi menemui para pelacur, memberi mereka uang dan berkata, malam ini kalian sudah dalam bayaranku, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi."





----
PEDOMAN KARYA
Ahad, 16 September 2018

Selalu Membeli Khamar dan Menemui Pelacur, tapi Jenazahnya Dishalati Ulama


Di dalam buku hariannya, Sultan Turki Murad IV mengisahkan, bahwa suatu malam dia merasakan kegalauan yang sangat. Ia ingin tahu apa penyebabnya.

Maka ia memanggil kepala pengawalnya dan memberitahu apa yang dirasakannya.
Sultan berkata kepada kepala pengawal, "Mari kita keluar sejenak."

Di antara kebiasaan sang Sultan adalah melakukan "blusukan" di malam hari dengan cara  menyamar. Mereka pun pergi, hingga tibalah mereka di sebuah lorong yang sempit.

Tiba-tiba, mereka menemukan seorang laki-laki tergeletak di atas tanah. Sang Sultan menggerak-gerakkan lelaki itu, ternyata ia telah meninggal. Namun orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya tak sedikitpun mempedulikannya. Sultan pun memanggil mereka, mereka tak menyadari kalau orang tersebut adalah Sultan.

Mereka bertanya, "Apa yang kau inginkan?
Sultan balik bertanya, "Mengapa orang ini meninggal, tapi tidak ada satu pun di antara kalian yang mau mengangkat jenazahnya? Siapa dia? Dimana keluarganya?"

Mereka berkata, "Orang ini zindiq (bejat), suka menenggak minuman keras dan berzina!"

Sultan menimpali, "Tapi . . bukankah ia termasuk umat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam? Ayo angkat jenazahnya, kita bawa ke rumahnya."

Mereka pun membawa jenazah laki-laki itu ke rumahnya. Melihat suaminya meninggal, sang istripun pun menangis. Orang-orang yang membawa jenazahnya langsung pergi, tinggallah sang Sultan dan kepala pengawalnya.

Dalam tangisnya sang istri berucap kepada jenazah suaminya, "Semoga Allah merahmatimu wahai wali Allah. Aku bersaksi bahwa engkau termasuk orang yang saleh," kata isteri almarhum.

Mendengar ucapan itu, Sultan Murad kaget dan ia pun segera bertanya.

"Bagaimana mungkin dia termasuk wali Allah sementara orang-orang membicarakan tentang dia begini dan begitu, sampai-sampai mereka tidak peduli dengan kematiannya?" tanya Sultan Murad.

Sang istri menjawab, "Sudah kuduga pasti akan begini. Setiap malam suamiku keluar rumah pergi ke toko-toko minuman keras, dia membeli minuman keras dari para penjual sejauh yang ia mampu. Kemudian minuman-minuman itu dibawa ke rumah lalu ditumpahkannya ke dalam toilet, sambil berkata, aku telah meringankan dosa kaum muslimin."

Sang isteri kemudian melanjutkan, "Dia juga selalu pergi menemui para pelacur, memberi mereka uang dan berkata, malam ini kalian sudah dalam bayaranku, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi."

Ia kembali melanjutkan dengan mengatakan, "Kemudian ia pulang ke rumah, dan berkata kepadaku, alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa para pelacur itu dan pemuda-pemuda Islam. Orang-orang pun hanya menyaksikan bahwa ia selalu membeli khamar dan menemui pelacur, lalu mereka menuduhnya dengan berbagai tuduhan dan menjadikannya buah bibir."

Suatu hari, lanjut sang isteri, dirinya pernah berkata kepada suaminya bahwa kalau ia mati nanti, tidak akan ada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahnya, menshalatinya, dan menguburkan jenazahnya.

"Mendengar ucapan saya, ia hanya tertawa, dan berkata, jangan takut, bila aku mati, aku akan dishalati oleh Sultannya kaum muslimin, para ulama dan para wali."

Mendengar itu semua, Sultan Murad pun menangis, dan berkata, "Benar! Demi Allah, akulah Sultan Murad, dan besok pagi kita akan memandikannya, menshalatkannya, dan menguburkannya."

Demikianlah, akhirnya prosesi penyelenggaraan pengurusan jenazah laki-laki itu dihadiri oleh Sultan, para ulama, para wali Allah dan seluruh masyarakat.

Catatan:
- Kisah ini diceritakan kembali oleh Syaikh Al Musnid Hamid Akram Al Bukhary dari Mudzakkiraat Sultan Murad IV.
- Artikel ini diposting oleh Andi Mattampa Wali di akun Facebook-nya, pada 16 September 2018

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply