iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » » Mengkonstruk Kepemimpinan Profetik Menuju IMM FEB yang Transformatif (1)


Pedoman Karya 5:27 PM 0


Setiap pimpinan komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, harus memiliki nilai-nilai spiritual yang lebih baik dari mahasiswa pada umumnya, setiap pimpinan komisariat harus memiliki tingkat intelektual yang lebih mumpuni dari mahasiswa pada umumnya, dan pimpinan komisariat mesti punya kepekaan social yang lebih tinggi dari mahasiswa pada umumnya. (Kahar)





-------

PEDOMAN KARYA
Kamis, 22 Agustus 2019


Mengkonstruk Kepemimpinan Profetik Menuju IMM FEB yang Transformatif (1)


Oleh: Kahar
(Ketua IMM FE Bisnis Unismuh Makassar periode 2014/2015)


Istilah ideologi pertama kali diperkenalkan oleh filsuf berkebangsaan Francis yaitu Destutt de Tracy. Ideology menurut Tracy adalah gabungan dua kata yaitu Ideo yang artinya ide, cita-cita, melihat, memandang, serta Logie yang artinya logika atau rasio. Dengan demikian, ideologi dapat juga didefinisikan sebagai seperangkat ide yang membentuk keyakinan dan paham untuk mewujudkan cita-cita manusia.

Ideologi bukan ibarat baju yang bisa dipakai atau digantungkan menurut musim. Bukan pula untuk disembunyikan di bawah bantal. Ideologi mengandung norma-norma, titik-tolak, motivasi, pendorong dan sumber-sumber tenaga untuk gerak melaksanakan program.

Bagi masing-masing pejuang, ideologi sudah lama tertanam dalam bathin mereka, ada yang bersifat transendental melalui wahyu ilahi, ada pula sebagaian hasil pemikiran manusia yang sudah bersejarah. Ideologi dan program adalah dua sisi dari mata uang yang satu. (M Natsir)

Menurut Frans Magnis Suseno, ideologi merupakan keseluruhan sistem berpikir, nilai-nilai dan  sikap dasar rohaniah sebuah gerakan, kelompok sosial atau individu. Ideologi dapat dimengerti sebagai suatu sistem penjelasan tentang eksistensi suatu kelompok sosial, sejarahnya dan proyeksinya ke masa depan.

Dengan demikian, ideologi memiliki fungsi mempolakan, mengkonsolidasikan, dan menciptakan arti dalam tindakan masyarakat. Ideologi yang dianutlah yang pada akhirnya akan sangat menentukan bagaimana seseorang atau sekelompok orang memandang sebuah persoalan dan harus berbuat apa untuk mensikapi persoalan tersebut.

Singkatnya, ideologi adalah kesepakatan dan kesepahaman bersama dalam suatu komunitas masyarakat tentang suatu obyek yang diyakini dan diperjuangkan bersama.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) adalah salah satu komunitas masyarakat yang memiliki kesepahaman dan kesepakatan bersama untuk mewujudkan tujuan mulia Muhammadiyah, yaitu menegakkan dan menjunjung tinggi ajaran agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Ideologi Gerakan IMM

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah merupakan salah satu eksponen Muhammadiyah (baca : ortom), yang telah mendeklarasikan diri melalui deklarasi kota garut yang kemudian dikenal dengan istilah enam penegasan IMM.

Enam penegasan yang dimaksud yaitu IMM adalah gerakan mahasiswa Islam, Kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM, IMM adalah Eksponen Mahasiswa dalam Muhammadiyah, Fungsi IMM adalah organisasi yang sah dengan mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan, serta dasar dan falsafah Negara, Ilmu adalah amaliah dan amalan adalah ilmiah, serta Amal IMM adalah Lillahi Ta’ala dan senantiasa diabdikan untuk kepentingan rakyat.
 
Refleksi terhadap deklarasi tersebut dalam konteks kekinian adalah proses pengamalan dan pengejewantahan nilai-nilai yang ada dalam setiap poin penegasan tersebut. Hal itu lahir atas sebuah kesadaran moril terhadap kondisi bangsa secara umum dan kondisi persyarikatan dan Ikatan secara khusus.

Kondisi bangsa yang masih latah dalam menafsirkan era globalisasi, era millennium dan era revolusi industry 4.0,  menjadi suatu hal yang menjadi tanggungjawab secara kelembagaan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai bentuk kesadaran untuk semakin mengokohkan semangat awal kelahiran IMM itu sendiri.

Upaya memahami ideologi gerakan IMM merupakan hal yang sangat penting.  Apabila ditelisik, persoalan ideologi merupakan pusat kajian ilmu sosial. Namun hingga kini, kajian tentang ideologi khususnya dalam gerakan mahasiswa sangat minim.

Maka, identitas ideologi IMM yang niscaya terefleksikan dalam praksis gerakan IMM perlu dikaji. Identitas ideologi IMM dapat tercermin dalam sebuah rumusan identitas Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang juga merupakan rumusan ideologi IMM.

Sekadar memperbaharui ingatan terhadap identitas IMM yang telah usang termakan zaman, kami sampaikan bahwa IMM adalah organisasi kader yang bergerak di bidang keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.

Sesuai dengan gerakan Muhammadiyah, maka IMM memantapkan gerakan dakwah di tengah-tengah masyarakat,  khususnya di kalangan mahasiswa. Setiap anggota IMM harus mampu memadukan kemampuan ilmiah (intelektual) dan aqidahnya (spiritual).

Karena itulah, setiap anggota IMM harus tertib dalam beribadah, tekun dalam studi dan mengamalkan ilmunya untuk menyatalaksanakan ketaqwaan dan pengabdiannya kepada Allah SWT.

Poin mendasar yang dapat kita jadikan ukuran dari identitas tersebut adalah adanya penyatupaduan dan penyatalaksanaan gerakan IMM yaitu; gerakan keagamaan, gerakan kemahasiswaan, dan gerakan kemasyarakatan. Artinya adalah setiap kader dan pimpinan IMM mesti bergerak dalam kerangka acuan gerakan IMM.

Ideologi gerakan IMM ini lahir dari trikompetensi dasar yang melekat dalam diri seorang kader yaitu kompetensi spritual, kompetensi intelektual, dan kompetensi humanitas.

Ketiga kompetensi ini menjadi suatu kewajiban yang harus melekat dalam diri seorang kader dan pimpinan IMM kapan dan di manapun mereka eksis.

Level Pimpinan Komisariat (Pikom) mesti melekatkan potensi itu dalam menjalankan amanah kepemimpinannya dalam berkomisariat.

Artinya, setiap pimpinan komisariat harus memiliki nilai-nilai spiritual yang lebih baik dari mahasiswa pada umumnya, setiap pimpinan komisariat harus memiliki tingkat intelektual yang lebih mumpuni dari mahasiswa pada umumnya, dan pimpinan komisariat mesti punya kepekaan social yang lebih tinggi dari mahasiswa pada umumnya. (bersambung)



Penulis, Kahar, adalah Ketua Bidang Organisasi Pikom IMM Fakultas Ekonomi Unismuh Makassar periode 2013/2014, Sekretaris Umum PC IMM Kabupaten Takalar 2014-2015,
Ketua Umum Pikom IMM Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unismuh Makassar periode 2014/2015, Ketua Umum PC IMM Kabupaten Takalar periode 2015-2016, Ketua Bidang Organisasi DPD IMM Sulsel 2016-2018, serta Sekretaris Umum DPD IMM Sulsel 2016-2018.
 

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply