iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » » » Kalau Ada Jangan Dimakan, Kalau Tidak Ada Baru Dimakan


Pedoman Karya 3:43 AM 0


PERIBAHASA aslinya berbunyi: ‘Ketika Ada Jangan Dimakan, Telah Habis Maka Dimakan”. Peribahasa ini terkesan kontradiktif. Bagaimana mungkin dapat makan jika ketika ada makanan tidak boleh dimakan, sementara ketika tidak ada makanan, baru boleh makan. 

 



---------

PEDOMAN KARYA
Kamis, 24 Oktober 2019


Biografi Sahban Liba (36):


Kalau Ada Jangan Dimakan, Kalau Tidak Ada Baru Dimakan


Penulis: Hernita Sahban Liba

Poin ke-10 dari 12 Mutiara Pemikiran Hidup Sahban, yaitu “Kalau Ada Jangan Dimakan, Kalau Tidak Baru Dimakan.”

Dalam bidang manajemen keuangan, Sahban bertopang pada motto ini: kalau ada jangan dimakan, kalau tidak ada baru dimakan. Sahban mendapatkan peribahasa ini dari gurunya saat masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).

Ini merupakan salah satu peribahasa yang telah langka diucapkan. Peribahasa aslinya berbunyi: ‘Ketika Ada Jangan Dimakan, Telah Habis Maka Dimakan”. Peribahasa ini terkesan kontradiktif. Bagaimana mungkin dapat makan jika ketika ada makanan tidak boleh dimakan, sementara ketika tidak ada makanan, baru boleh makan.

Kesan kontradiktif dalam peribahasa yang dipegang teguh oleh Sahban ini, memiliki makna mendalam terkait manajemen keuangan. Peribahasa ini dapat dipahami jika peribahasa tersebut membicarakan hal yang berbeda antara “ada” dan “dimakan”.

Sesuatu yang dimaksud “dimakan” dalam peribahasa tersebut adalah simpanan, tabungan, atau deposito, sedangkan sesuatu yang dimaksud “ada” dalam peribahasa tersebut adalah dana yang berada di luar dana simpanan atau tabungan.

Dengan kata lain, peribahasa tersebut bermakna bahwa ketika terdapat dana lebih di luar simpanan, maka dana simpanan tidak boleh diambil. Dana simpanan hanya boleh diambil jika dana di luar simpanan telah kosong.

Sahban baru benar-benar paham dan menerapkan peribahasa ini ketika ia telah cukup memiliki uang. Ia menyisihkan sebagian uangnya sebagai dana deposito, sementara sebagian lagi digunakan sebagai dana yang dapat digunakan. Ia selalu menggunakan dana yang dapat digunakan tersebut dan tetap menyimpan, bila perlu menambah, dana deposito.

Sahban menyadari bahwa pepatah inilah yang dipegang oleh masyarakat Tionghoa di Jakarta. Ia melihatnya sendiri ketika rumah-rumah Tionghoa di Jalan Keramat dibongkar seluruhnya di masa Ali Sadikin.

Hanya dalam beberapa bulan, rumah-rumah tersebut dapat berdiri kembali. Seolah-olah penduduk Tionghoa tiba-tiba memiliki uang yang sangat banyak untuk dapat kembali membangun rumah.

Namun ini dapat dipahami jika mereka sebenarnya memiliki dana cadangan yang tidak pernah diambil dan hanya dikeluarkan saat dana lancar benar-benar habis. Malahan, dana cadangan ini, menurut Sahban, akan terus dibawa oleh orang Tionghoa hingga ia meninggal. Dana cadangan ini disimpan di dalam kuburan mereka.

Sahban sangat kagum dengan ilmu ini. Ia menyarankan agar setiap orang menabung pada jumlah tertentu setiap bulan untuk mengisi ruang cadangan yang tidak dapat diganggu tersebut. Jika perlu, istri atau suami tidak mengetahuinya.

Pernah suatu kejadian, anak dan istri Sahban terheran-heran ketika Sahban tiba-tiba memiliki banyak uang di saat uang mereka telah benar-benar habis sementara mereka sangat memerlukannya.

Beli Karena Butuh

Poin ke-11 dari 12 Mutiara Pemikiran Hidup Sahban, yaitu membeli sesuatu karena kebutuhan, bukan karena keinginan.

Petuah keuangan ini diajarkan Sahban berdasarkan kisah hidupnya, yaitu membeli sesuatu karena kebutuhan, bukan karena keinginan. Hal ini adalah kunci mengapa dengan bekal hanya Rp140 dan tiga sarung, Sahban dapat bertahan hidup di Surabaya selama beberapa bulan.

Agar uang sedikit itu dapat bertahan hingga Sahban diterima di asrama, Sahban harus berhemat dengan ketat. Ia hanya memakan ubi jalar rebus atau pisang rebus yang dijual penjaja makanan pada waktu pagi hari. Ia memilih yang paling murah sekadar untuk membuat perut kenyang.

Di siang hari, ia juga memakan menu yang sama. Baru pada malam hari ia mengisi perutnya dengan nasi, itupun hanya separuh porsi. Hal ini membuatnya terbiasa untuk hidup hemat.

Begitu pula, di saat bekerja di Pemda DKI Jakarta, Sahban hampir tidak pernah makan di luar kantor. Sahban menghitung-hitung, mungkin ia keluar kantor untuk makan hanya sekali dalam tiga atau empat bulan.

Ketika para pegawai istirahat jam 12 siang, Sahban memakan bekalnya dari rumah di kantor. Walaupun saat itu ia telah memiliki cukup uang, kebiasaan telah membuatnya merasa normal untuk melakukan disiplin ini. Alasannya adalah karena jika makan di luar, ia akan mengeluarkan banyak uang dan juga menghabiskan banyak waktu. Ia bertahan 25 tahun di Pemda DKI Jakarta dengan perilaku ini.

Kebiasaan untuk tidak boros ini terus dipegangnya hingga saat ini. Ia mampu menjaga kesehatan dan beraktivitas fisik dengan baik, karena selektif dalam makanan. Ia hanya memakan makanan yang bergizi dan murah.

Intinya adalah, ia hanya memakan apa yang sebenarnya ia butuhkan. Ia tidak membeli apa yang ia inginkan, tetapi apa yang ia butuhkan. Ia sampai sekarang hanya memiliki satu pasang sepatu, karena menurutnya memiliki dua pasang sepatu atau lebih adalah pemborosan.

Lagi pula, setiap orang tetap akan memakai satu pasang sepatu setiap saat membutuhkannya. Ia tidak pernah pula menggunakan fasilitas pembelian produk secara online karena adanya risiko kalau produk yang dipesan hanya memunculkan keinginan, bukan sesuatu yang benar-benar dibutuhkan.

Perilaku hemat juga ditunjukkannya saat membesarkan anak-anaknya. Sahban tidak memberikan uang jajan pada anak-anaknya. Mereka terlebih dahulu sarapan di rumah. Setelahnya mereka jalan kaki ke sekolah yang memang tidak jauh jaraknya dari rumah.

Hal ini didukung oleh kondisi sekolah yang memang masih jarang memiliki kantin ataupun pedagang. Perilaku ini terus dilakukan dari anak-anak usia TK hingga SMA. Kalaupun ada uang, mereka gunakan untuk naik becak.

Pandangan ini sangat relevan dengan kehidupan saat ini yang dipenuhi dengan berbagai produk konsumen. Pada dasarnya, saat ini orang telah menjual barang yang digunakan untuk memenuhi keinginan, bukan memenuhi kebutuhan.

Iklan yang sangat banyak bertebaran, produk dengan desain yang menarik, dan berbagai trik penjualan lainnya. Akibatnya, banyak orang yang merasa memiliki sedikit kelebihan uang terdorong untuk membeli melebihi apa yang ia butuhkan. Konsumerisme semacam ini berakibat pada menipisnya keuangan dan akhirnya kehabisan sebelum periode pendapatan berakhir.

Banyak pegawai yang kehabisan uang di pertengahan bulan, hanya karena di awal bulan membeli sejumlah barang yang tidak diperlukan, semata karena bagus atau menarik. Barang-barang itu sekarang ada di rumah dan tidak terpakai. (bersambung)

Editor: Asnawin Aminuddin


--------
Artikel edisi sebelumnya:

Biografi Sahban Liba (35): Dari Desa ke Kota Kembali ke Desa



«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply