Achmad Karim Majja: Guru Ganna, Pendidik, dan Penjaga Nilai Kehidupan

Achmad Karim Majja bersama istrinya, Takudaeng Dg. Ti’no.

 

------

PEDOMAN KARYA

Rabu, 07 Januari 2026

 

Achmad Karim Majja: Guru Ganna, Pendidik, dan Penjaga Nilai Kehidupan

 

Oleh: Achmad Ramli Karim

 

Achmad Karim Majja bersama istrinya, Takudaeng Dg. Ti’no, adalah pasangan suami istri yang dikenal memiliki kepedulian sosial tinggi dan gemar membantu sesama.

Keduanya merupakan sosok orang tua yang sabar, ikhlas, tulus, namun tegas dalam mendidik dan membesarkan tujuh orang anak—enam laki-laki dan satu perempuan—tanpa pamrih. Karakter itulah yang menjadi kebanggaan anak-anak mereka hingga hari ini.

Achmad Karim Majja berprofesi sebagai pendidik. Ia mengabdikan diri sebagai guru, kepala sekolah, dan penilik TK/SD di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Sementara itu, Takudaeng Dg. Ti’no adalah ibu rumah tangga yang setia, taat kepada Allah SWT dan suaminya, serta berperan besar dalam membentuk karakter anak-anaknya sejak dari rumah.

Takudaeng Dg. Ti’no merupakan anak dari keluarga pejuang bangsa. Kakeknya, Sariba Tiro, adalah seorang veteran pejuang yang gugur secara tragis bersama tiga rekannya—Makkarani, Baso Tappa, dan Rongke.

Mereka dieksekusi dengan cara disuruh berjejer di tepi sungai, tangan terikat dan mata tertutup, lalu ditembak di kawasan kanal Boka menuju Bontocinde. Keempatnya dikenang sebagai pahlawan perjuangan di Limbung Utara (Panciro).

Untuk menghormati jasa mereka, pemerintah membangun Tugu Pahlawan Limbung Utara di Panciro, dan mengabadikan nama keempat pejuang tersebut sebagai nama jalan desa, yakni Jalan Sariba Tiro, Jalan Makkarani, Jalan Baso Tappa, dan Jalan Rongke.

Kedua orang tua ini menjadi panutan dan teladan bagi anak-anaknya. Kasih sayang dan didikan mereka meninggalkan bekas yang begitu dalam, sulit dihapus meskipun waktu berlalu. Achmad Karim Majja ditakdirkan Allah SWT sebagai pendidik dan tokoh panutan masyarakat di mana pun ia bertugas.

Ia selalu dirindukan oleh para guru di tempat-tempat pengabdiannya, baik di Kecamatan Pallangga, Kecamatan Parang Loe, Kecamatan Somba Opu, maupun di kampung halamannya sendiri, Panciro, Kecamatan Bajeng.

Hal itu tidak terlepas dari kemampuannya menguasai kompetensi pedagogik, kecerdasannya, kesederhanaannya, serta perannya sebagai inisiator dan pembimbing sejati.

Selain pendidik, Achmad Karim Majja adalah seorang ulama dan da’i. Ia juga aktif sebagai pelatih Pramuka, KOKAM, dan Hizbul Wathan (HW) di Sulawesi Selatan. Dalam kepanduan Pramuka Sulsel, ia dikenal sebagai tulang punggung HM Yasin Limpo, ayah dari Dr. H. Syahrul Yasin Limpo, yang saat itu menjadi tokoh penting Pramuka di Sulawesi Selatan.

Salah satu peristiwa penting dalam hidupnya terjadi ketika ia membubarkan pertemuan orang-orang PKI di Masjid Nurul Jihad Panciro, meskipun organisasi tersebut telah dinyatakan terlarang. Akibat tindakan itu, ia dijemput oleh aparat TNI satu truk dari Kodim Gowa di kediamannya—yang kini menjadi lokasi Tugu Pahlawan Limbung Utara.

Namun, keesokan harinya ia dilepaskan setelah memberikan penjelasan bahwa dirinya hanya mengingatkan umat Islam agar tidak terjerumus. Pembebasannya juga dibantu oleh Kepala Inspeksi Pendidikan Kabupaten Jeneponto, Bakka Dg. Tobo.

Anak-anak dan menantu Achmad Karim Majja dan Takudaeng Dg. Ti’no. 

Peristiwa lain yang tak terlupakan adalah ketika ia dimutasi ke SD Borisallo, Kecamatan Parang Loe, karena membela guru-guru yang mengalami pemotongan gaji. Kepergiannya dari Kecamatan Pallangga bahkan diiringi aksi mogok mengajar para guru yang secara bersama-sama mengantar kepergiannya sebagai bentuk solidaritas.

Pada minggu pertama bertugas di Parang Loe, Achmad Karim Majja melakukan survei di sebuah masjid yang berada di depan Pasar Bontojai. Ia terkejut mendapati masjid tersebut dipenuhi kambing dan kotorannya, menandakan tidak lagi difungsikan sebagai tempat ibadah.

Dengan inisiatifnya, ia mengajak kaum laki-laki di pasar untuk bergotong royong membersihkan masjid agar dapat digunakan untuk shalat Jumat. Alhamdulillah, salat Jumat pertama pun terlaksana, dengan Achmad Karim Majja sendiri bertindak sebagai khatib.

Tanpa disangka, khutbah tersebut didengar oleh Kepala Desa Borisallo, Karaeng Ngopu, dari jendela rumahnya yang berada di samping masjid. Dari khutbah itulah hidayah Allah menyentuh hatinya.

Sejak saat itu, Karaeng Ngopu menjadi pribadi yang taat beribadah dan sebelum wafatnya berhasil membangun masjid besar di depan SDN Borisallo, tempat Achmad Karim Majja mengabdi selama sebelas tahun.

Setelah sebelas tahun mengabdi di Parang Loe, Achmad Karim Majja dimutasi ke Kecamatan Somba Opu. Sebelum berpisah, Karaeng Ngopu menghadiahkan sebuah rumah lengkap dengan sertifikat tanah sebagai ungkapan terima kasih atas jasa-jasanya.

Namun dengan penuh keikhlasan, Achmad Karim Majja mengembalikan sertifikat dan rumah tersebut, seraya berpesan agar rumah itu dijadikan fasilitas sosial demi kemaslahatan masyarakat. Kini, rumah tersebut dimanfaatkan sebagai Posyandu di depan Pasar Bontojai, Kecamatan Parang Loe.

Allah SWT kemudian membalas keikhlasan dan jasa-jasanya. Achmad Karim Majja kembali ke kampung halamannya di Panciro. Pelepasan kepulangannya dilakukan secara meriah. Ia diantar masyarakat Desa Bontojai pada pagi hari, bagaikan mengantar pengantin baru, setelah sebelumnya digelar resepsi malam perpisahan.

Di kalangan pendidik Kabupaten Gowa, ia dikenal dengan julukan “Guru Ganna”, yang berarti guru serba bisa. Ia mahir membimbing guru, kepala sekolah, dan sesama penilik TK/SD secara profesional. Ia juga dikenal piawai berdakwah dan menguasai kisah-kisah para nabi, sahabat Rasulullah, serta para pejuang di jalan Allah.

Di bidang seni, Achmad Karim Majja memiliki banyak bakat. Ia mampu memainkan piano, seruling bambu, dan harmonika. Ia juga menulis puisi dan cerpen, serta menghafal dan menyanyikan lagu-lagu turiolo (Makassar) dan lagu-lagu kepanduan Pramuka.

Prinsip hidupnya sangat kuat dan sederhana: carilah rezeki yang halal dan jauhi yang haram, karena rezeki yang tidak halal tidak akan membawa berkah. Ia menanamkan kepada anak-anaknya agar hanya memberi makan keluarga dari sumber yang jelas kehalalannya, dan jika ragu, lebih baik disedekahkan.

Pesan-pesan itulah yang ia titipkan kepada anak-anaknya ketika mereka mulai menjadi PNS dan pendidik. Ia berwasiat agar mereka mencari nafkah dengan jujur, tidak menyalahgunakan wewenang, dan selalu mengutamakan keberkahan daripada banyaknya harta.

“Jangan kejar banyaknya rezeki,” pesannya, “karena semakin banyak yang didapat, semakin banyak pula yang keluar. Kejarlah berkahnya, niscaya Allah akan melipatgandakan rezekimu.”

Anak-anak dari pasangan Achmad Karim Majja dan Takudaeng Dg. Ti’no yaitu Drs. Achmad Rami K, SH MH, Drs. Arsul Arifin K, SPd MM, Bukhari Muslim, Hj. Karuniati Karim, Salahuddin Al-Karima, SKM, Ahmad Islamil, SH MH, dan Ahmad Hamka.

Ia juga menegaskan agar tidak melupakan sedekah ketika Allah melapangkan rezeki, sebab sedekah tidak akan membuat seseorang miskin. Sebaliknya, sedekah akan membuka pintu-pintu rezeki yang tak disangka-sangka.

Achmad Karim Majja dan Takudaeng Dg. Ti’no telah berpulang. Namun keteladanan hidup, nilai kejujuran, keikhlasan, dan keberkahan yang mereka tanamkan tetap hidup—mengalir dalam kehidupan anak-anak, menantu, dan masyarakat yang pernah mereka sentuh.***

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama