-----
PEDOMAN KARYA
Senin, 19 Januari 2026
Bodohnya, Karl
Marx dan Imam Al_Ghazali
Oleh: Maman A. Majid Binfas
(Sastrawan, Akademisi, Budayawan)
Sebelum menggores mengenai esensi dari
durasi topik dimaksudkan. Mungkin tidak keliru, manakala sebagai penghantar
goresan ini akan dinukilin pepatah lama yang telah difahami secara umum, sejak
tingkat sekolah dasar di kampung, yakni di antaranya.
"Pengalaman merupakan kunci
kebijaksanaan, dan pengalaman diperoleh dari waktu ke waktu akan esensi sebagai
perjalanan hidup.
Sama halnya dengan diksi: Jauh berjalan
banyak dilihat, lama hidup banyak dirasai," adalah peribahasa yang
bermakna; seseorang yang melakukan banyak perjalanan dan hidup lebih lama akan
memiliki lebih banyak pengalaman, pengetahuan, dan pemandangan hidup yang lebih
luas.
Kesan pepatah ini, yakni menekankan bahwa
pengalaman datang dari eksplorasi dan waktu, membuat seseorang lebih bijaksana
dan kaya akan wawasan.
Atau boleh diindikasikan dengan pemaknaan;
seseorang yang sering bepergian (merantau) akan melihat lebih banyak tempat,
lintas ragam budaya, dan karakter orang. Begitu pula eksplorasi/jelajahan
kajian berkarakter keilmuan yang dilakukan oleh para ilmuwan tersohor yang
benaran, di antaranya Karl Marx dan Imam Al-Ghazali.
Karakter Bodoh ala Karl Marx
Karl Marx adalah seorang filsuf, ekonom,
sejarawan, pembuat teori politik, sosiolog, jurnalis dan sosialis revolusioner
asal Jerman. Lahir di Trier,1818 -1883, hingga berumur 65 tahun. Karya-karyanya buku yang terkenal: Manuskrip Ekonomi dan Filosofis, Manifesto Komunis,
Upah Buruh dan Modal, Kritik terhadap Program Gotha.
Namun, saya kutip hanya secuil saja di
sini, yakni berkaitan dengan diksi topik, sekalipun tidak selugas yang
demikian, di mana dalam tulisannya tahun 1844, ia pernah menyebut ide-ide
beberapa komunitas buruh Prancis dan Jerman sebagai "utterly crude and
unintelligent"/sangat mentah dan tidak cerdas, namun ia menghormati
kemanusiaan dan dedikasi mereka.
Sebagai seorang filsuf dan ekonom, Marx
menyadari luasnya bidang keilmuan dan terus menerus belajar, yang merupakan
ciri umum dari pemikir besar, di mana mereka merasa "belum tahu
apa-apa" dibandingkan dengan luasnya ilmu pengetahuan.
Marx lebih suka berpikir kritis daripada
sekadar mengikuti satu aliran pemikiran. Dalam konteks ini,
"kebodohan" yang dimaksud adalah sikap menolak kepura-puraan bahwa
seseorang mengetahui segalanya.
Sebaliknya, Marx justru sangat menekankan
pentingnya teori dan pengetahuan. Ketika Wilhelm Weitling mengeluh bahwa kaum
intelektual, seperti Marx hanya membahas hal-hal yang tidak dipahami buruh,
Karl Marx dengan marah merespons: "Ignorance never yet helped
anybody/Ketidaktahuan tidak pernah membantu siapa pun."
Memang, esensi dari ilmu sejati, yakni
membawa dampak kepada kesadaran akan kebodohan diri dan kebesaran Tuhan"
merupakan esensi dari kerendahan hati intelektual dan spiritual, di mana
semakin banyak seseorang belajar, semakin, ia menyadari betapa terbatasnya
pengetahuannya dibandingkan keluasan ilmu Tuhan.
Ilmu sejati adalah proses seumur hidup
yang menghilangkan kebodohan diri dan memuliakan kebesaran Tuhan, bukan
menonjolkan diri sendiri dengan polesan sorbanan dan atau berdasian hingga
bertenjangan tanpa karuan di dalam arogansi dunguan. Hal itu, menjadi pantangan
dari para ilmuwan yang berkarakter moral yang benaran, baik Karl Marks maupun
yang lainnya, terlebih lagi oleh Imam Al-Ghazali.
Kebodohan ala Imam Al-Ghazali
Imam Al-Ghazali, bernama lengkap: Abu
Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i, tahun 1058-1111
M), hanya berumur 53 tahun. Beliau merupakan seorang filsuf dan teolog muslim
Persia, dan dikenal di dunia Barat abad Pertengahan sebagai Algazel.
Terkenal, dikarenakan kecerdasan dan
karyanya, di mana selama hidupnya, ia telah menulis lebih dari 70 kitab, dan
menyatukan filsafat dengan agama. Terutama melalui karya monumentalnya Ihya'
Ulumuddin yang membahas ibadah, etika, dan tasawuf, serta kritiknya terhadap
filsafat dalam Tahafut al-Falasifah untuk membela akidah Islam
Terlepas, dari memorinya yang luar biasa
keilmuwanya, namun Imam Al-Ghazali, mengukir diksi yang dahsyat, "Semakin
tinggi ilmu seseorang, semakin kecil dirinya (merasa rendah hati)" atau
ungkapan serupa yang menunjukkan kerendahan hati seorang yang berilmu, meskipun
kalimat persisnya bervariasi, intinya adalah ilmu sejati membawa pada
kesadaran akan kebodohan diri dan kebesaran Tuhan, sehingga merasa diri kecil
dan tak berarti. Hal ini mencerminkan pemikiran Al-Ghazali yang menekankan ilmu
sebagai jalan mendekatkan diri pada Allah (hakikat) dan membentuk akhlak mulia,
bukan sekadar pengetahuan di otak.
Namun, membalas kesombongan dengan
kesombongan bisa jadi "sedekah", jika diniatkan untuk memberi
pelajaran dan dilakukan dengan hati yang rendah hati (tawadhu'), tetapi jika
hanya untuk melampiaskan emosi, itu haram dan merusak diri.
Lebih bijak adalah pilih jalan hikmah:
tegas jika perlu, sabar lebih sering, dan tetap rendah hati agar keangkuhan
mereka tidak merusak ketenangan batin Anda.
Dan boleh ditampilkan kekuatan atau
kelebihan kita, bukan untuk pamer. Tetapi sebagai respons agar orang
sombong tidak meremehkan, bah Nabi Sulaiman kepada Ratu Balqis.
Walaupun demikian, tidak mesti berlebihan
terusan ditampilkan, tetapi cukup sekadarnya ditunjukkan, seperti merespons
Karl Marx atas kritikan di atas. Namun, dibarengi pula dengan akhlak akan
durasi kerendahan hati Imam Al-Ghazali di dalam berilmu pengetahuan.
Imam Al-Ghazali juga Karl Marx, pun Bodoh
Imam Al-Ghazali: "Semakin tinggi ilmu
seseorang, semakin kecil dirinya" atau ilmu sejati memang esensinya
membawa pada kesadaran akan kebodohan diri dan mengakui akan kebesaran Tuhan,
sehingga merasa diri kecil atau merasa semakin bodoh dan tak berarti apa-apa.
Kalau orang pintar, di antaranya bah Imam
Al-Ghazali dan Karl Marx saja, masih merasa dirinya bodoh, sekalipun diakui
oleh orang lain sangat luar biasa kepintarannya.
Bukan berarti dibiarkan kebodohan
merajakan dirinya.
Lalu, membiarkan kebodohan tetap berakutan
di dalam lipatan kedunguan yang luar biasa berarogansi.
Bah orang berselimutan kebodohan, tetapi
merasa dirinya paling pintar dengan aksesoris polesan yang ditampak dalam
penampilan doang sebagai landasan logika berkubangan yang berampasan ceboannya
saja, jadi idiom sorbanannya hingga bertenjangan kedunguan.
Bahkan, hanya lihai berargumentatif dengan
ber_plagiarisme/mencuri/ merampok karya/pendapat imam Al-Ghazali tanpa mengutip
dengan tanda kutip pun. Kemudian, merasa diri pintaran di dalam akumulasi
titelan secara administrasi ala bersorbanan pula.
Akibatnya, kelakuan demikin, biar esensi
misi akar dari Syiar sebagai landasan dari Dinnullah pun, dilelang dengan
polesan kebodohan dikibarin.
Tentu, itu sungguh keliru
dan syarat dengan kesesatan bersasar, akan
lebih elok manakala dimaknai dengan amalan lillahi ta'ala bah kreasi Bung Kecil
yang berintro yang berlanggam Adzan; 'Setara di Mata Semesta'.
Disajikan dalam berbagai atmosfir; ada
sunda parahyangan, sunda cirebonan, melayu, irama nasyid dan mandarin. Sama
dengan adzan, meskipun iramanya beragam, namun satu makna panggilan.
Demikian dengan syair ini, juga disajikan
dalam berbagai langgam namun tunggal dalam penghayatan. Boleh klik untuk
mendengarkannya di dalam (https://suno.com/s/CPxZCQshbfe4QfwD).
Kreasi intro dari Bung Kecil, sang Maestro
Bengawan, bukan sekedar petatah petitih an sich doangan.
Jadi, kalau soal pepatah 'petatah
petitih', cukup dititipkan kepada protokol/Mc pernikahan di kampung sebagai
penghantar dan mengakhiri kosakata di dalamjoki sebagai penghibur acaranya.
Tidak mesti berpangkuan titelan dan juga bersorbanan yang berderetan dengan
menghamburin 'piti atau kepengan' nan berkeping, baik dari kas Negara maupun
organisasi keumatan.
Apalagi kesannya, demi memoles penampakan
gulita diksi tak karuan tanpa dikutip sumber asli dari susur galurnya secara
syari'i .
Akan lebih bersyariat lagi, manakala kita berkarya sendiri dengan diam diam, sekalipun terkesan ecekan dan tetap merasa belum apa-apa dibandingkan dengan imam Al_Ghazali dan Karl Marx. Namun, hasilnya dari goresan ecekan pun memang hadir berdasarkan logika sendiri yang dapat dipertanggungjawabkan dengan jantan, baik di dunia berhingga kiamatan berkalam senyum. Wallahu'alam.
