-----
PEDOMAN KARYA
Kisah Nabi Muhammad SAW (27):
Rasulullah
Menyendiri Lagi di Gua Hira dan Turun Surah Ad-Duha
Penulis: Abu Hasan Ali An-Nadwi
Orang yang Berselimut
Muhammad SAW yang kini telah menjadi
Rasulullah terbangun karena mendengar Malaikat Jibril membawakan wahyu
kepadanya, “Hai orang yang berkemul (berselimut),” (QS: Al-Muddassir 74:1)
“bangunlah, lalu berilah peringatan!
(74:2), dan Tuhanmu agungkanlah! (74:3), dan pakaianmu bersihkanlah, (74:4) dan
perbuatan dosa tinggalkanlah, (74:5), dan janganlah kamu memberi (dengan
maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. (74:6) Dan untuk (memenuhi
perintah) Tuhanmu, bersabarlah.” (74:7)
Khadijah memandang Rasulullah dengan kasih
yang bertambah besar. Beliau perlahan mendekati suaminya. Khadijah dengan
lembut memintanya agar kembali tidur.
“Waktu tidur dan istirahat sudah tidak ada
lagi, Khadijah,” demikian jawab Rasulullah.
“Jibril membawa perintah supaya aku
memberi peringatan kepada umat manusia, mengajak mereka, dan supaya mereka
beribadah hanya kepada Allah. Namun, siapa yang akan kuajak? Siapa pula yang
akan mendengarkan?” lanjut Rasulullah.
Khadijah cepat cepat menenteramkan hati
suaminya. Diceritakannya apa yang tadi dikatakan Waraqah (bahwa Muhammad, suaminya,
telah menerima Namus Besar = Kitab Suci yang diwahyukan).
Dengan penuh semangat, Khadijah menyatakan
diri sebagai orang yang mengimani Rasulullah.
Dengan demikian, tercatat dalam sejarah
bahwa orang pertama yang memeluk Islam adalah Khadijah.
Untuk lebih menentramkan Rasulullah,
Khadijah meminta suaminya memberitahu dirinya apabila malaikat datang.
Kemudian Jibril memang datang, namun hanya
Rasulullah yang dapat melihatnya. Khadijah mendudukkan Rasulullah di pangkuan
sebelah kiri, lalu ke pangkuan sebelah kanan. Malaikat Jibril masih terlihat
oleh Rasulullah. Namun, ketika Khadijah melepas penutup wajahnya, Rasulullah
melihat Sang Malaikat menghilang.
Dari kejadian itu, Bunda Khadijah merasa
yakin bahwa yang datang itu benar-benar malaikat, bukan jin.
Bertemu Waraqah
Tidak lama kemudian, Rasulullah bertemu
dengan Waraqah bin Naufal (seorang pendeta Nasrani, dan paman dari Khadijah).
Saat itu, Rasulullah sedang melaksanakan thawaf.
Sesudah Rasulullah menceritakan
keadaannya, Waraqah berkata, “Demi Dia yang memegang hidup Waraqah, engkau
adalah nabi atas umat ini. Engkau telah menerima Namus Besar seperti yang
pernah disampaikan kepada Musa. Pastilah kau akan didustakan, disiksa, diusir,
dan diperangi orang. Kalau sampai pada waktu itu aku masih hidup, pasti aku
akan membela yang di pihak Allah dengan pembelaan yang sudah diketahui-Nya
pula.”
Kemudian, Waraqah mendekat dan mencium
ubun-ubun Rasulullah.
Kini Rasulullah memalingkan wajah ke
sekitarnya, melihat orang-orang yang menyembah patung-patung batu. Orang-orang
ini juga menjalankan riba dan memakan harta anak yatim. Mereka jelas-jelas
berada dalam kesesatan. Kepada orang orang inilah Rasulullah diperintahkan
untuk menyeru agar mereka menghentikan perbuatan perbuatan itu.
Namun, apakah mereka mau berhenti begitu
saja? Orang-orang Quraisy itu benar-benar amat kuat dalam memegang keyakinan
mereka.
Orang-orang itu bahkan siap berperang dan
mati untuk mempertahankan keyakinan mereka. Untuk itu, Rasulullah memerlukan
datangnya wahyu penuntun lagi.
Namun, wahyu yang dinanti Rasulullah
ternyata tidak juga turun. Jibril tidak pernah datang lagi untuk waktu yang
lama. Rasulullah merasa amat terasing. Rasa takutnya kembali muncul. Beliau
takut jika Allah melupakan bahkan tidak menyukainya.
Rasulullah kembali pergi ke bukit dan
menyendiri lagi di Gua Hira. Ingin rasanya beliau membubung tinggi dengan
sepenuh jiwa, menghadap Allah, dan bertanya mengapa dirinya seolah
ditinggalkan.
Apa gunanya hidup ini kalau harapan besar
Rasulullah untuk menuntun umat ternyata menjadi kering. Rasulullah saat itu,
benar benar hampir merasa putus asa.
Surah Adh Dhuha
Tiba-tiba, wahyu itu turun: “Demi waktu
matahari sepenggalahan naik, (Surah Ad-Duha: 93:1), dan demi malam apabila
telah sunyi (gelap), (93:2), Tuhan-mu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula)
benci kepadamu. (93:3)
Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih
baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan). (93:4) Dan kelak Tuhanmu pasti
memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. (93:5)
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang
yatim, lalu Dia melindungimu? (93:6) Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang
bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. (93:7) Dan Dia mendapatimu sebagai
seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. (93:8)
Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah
kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah
kamu menghardiknya. (93:10) Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu
siarkan.” (93:11)
Rasa cemas dan takut di hati Rasulullah
kini hilang sudah. Betapa damainya firman Allah itu terasa di hati beliau.
Rasulullah harus menjauhi setiap perbuatan mungkar dan membersihkan pakaian.
Beliau harus mengajak orang mengingat
Allah. Beliau harus tabah menghadapi gangguan, tidak boleh menolak orang yang
meminta bantuan, dan berlaku lembut kepada anak yatim.
Allah juga mengingatkan bahwa Rasulullah
yatim, lalu Allah melindunginya lewat asuhan kakeknya, Abdul Muthalib, dan
pamannya, Abu Thalib.
Dulu, Rasulullah hidup miskin, lalu Allah
memberinya kekayaan. Allah pula yang telah menyandingkan beliau dengan
Khadijah, yang menjadi kawan semasa muda, kawan semasa beliau ber-tahannuts,
kawan yang penuh cinta kasih, yang memberi nasihat dengan rasa kasih sayang.
Allah telah mendapati Rasulullah tidak tahu jalan, lalu diberi-Nya beliau petunjuk kenabian. Cukuplah semua itu. Hendaklah mulai sekarang, Rasulullah mengajak orang kepada kebenaran, sedapat mungkin, sekuat mungkin. (bersambung)
.....
Kisah Nabi Muhammad (26):
Malaikat Jibril Bacakan Surah Al-‘Alaq, Muhammad Diangkat Jadi Nabi
