------
PEDOMAN KARYA
Ahad, 11 Januari 2026
Kultum Subuh,
Foto, dan Ikhtiar Menjaga Istiqamah
Sudah beberapa tahun terakhir saya rutin
melakukan ceramah agama, terutama kultum subuh di masjid seusai shalat
berjamaah. Bukan di satu masjid tertentu, tetapi berpindah-pindah dari masjid
ke masjid. Di mana pun saya shalat subuh berjamaah, di situlah saya mencoba
berbagi sedikit ilmu yang saya miliki, jika memang belum ada taklim yang
terjadwal.
Hampir setiap mengisi kultum, saya meminta
salah seorang pengurus masjid atau jamaah untuk mengambil foto menggunakan
telepon genggam saya. Foto itu kemudian saya posting di beberapa grup WhatsApp,
biasanya saat saya sudah tiba kembali di rumah.
Bagi sebagian orang, memposting foto
ceramah mungkin dianggap sebagai pamer atau mencari pujian. Namun bagi saya,
itu adalah cara sederhana untuk memotivasi diri sendiri agar tetap istiqamah
berceramah.
Foto itu menjadi pengingat bahwa saya
telah melangkah, telah berbuat, dan memiliki tanggung jawab moral untuk terus
belajar agar apa yang saya sampaikan semakin baik, semakin benar, dan semakin
bermanfaat.
Saya sadar, saya bukan ahli agama. Ilmu
saya terbatas. Justru karena itulah saya terus belajar, menambah pengetahuan
agama, menambah hafalan Al-Qur’an, dan memperbaiki bacaan. Sebab sering kali,
setiap saya datang ke sebuah masjid untuk shalat berjamaah, saya diminta
menjadi imam shalat. Mungkin karena kebetulan saya berjanggut, dan janggut saya
sudah memutih serta agak panjang.
Ceramah kultum subuh umumnya tidak
diundang. Saya datang ke masjid, lalu bertanya dengan sopan kepada pengurus
atau jamaah yang ada, apakah ada taklim atau tidak. Jika tidak ada, saya
sampaikan bahwa saya bersedia mengisi kultum subuh. Alhamdulillah, hampir
selalu mereka berkenan.
Dari perjalanan itu, saya semakin
menyadari satu kenyataan: masih sangat banyak masjid yang jarang sekali diisi
pengajian. Dalam sepekan, kadang hanya ada khutbah Jumat. Selebihnya, masjid
hanya menjadi tempat shalat fardhu dengan jumlah jamaah yang relatif sedikit
dibandingkan jumlah warga di sekitarnya.
Maka tidak heran jika pengurus dan jamaah
masjid merasa gembira ketika ada muballigh yang datang, tanpa diminta, tanpa
imbalan, hanya ingin berbagi nasihat agama.
Saya sering merasa iba. Umat ini
sesungguhnya sangat membutuhkan siraman rohani. Ibarat bunga di taman, jika
hanya disiram sekali sepekan, apalagi di musim kemarau, tentu akan layu. Ia
baru kembali segar jika disiram dengan air yang cukup.
Kadang-kadang saya shalat subuh di masjid
yang jamaahnya banyak berjanggut, ada yang bersorban, dan tampak alim. Namun
mereka tetap mempersilakan saya mengisi kultum.
Ada pula yang bertanya tentang siapa saya
dan dari mana. Kepada mereka, saya jelaskan bahwa saya pengurus Majelis Ulama
Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Selatan, dan secara pribadi memiliki misi
untuk berkeliling berceramah dari masjid ke masjid.
Biasanya setelah itu, pengurus masjid
mengumumkan kepada jamaah tentang kehadiran saya dan meminta jamaah untuk
tinggal sejenak mendengarkan ceramah agama. Alhamdulillah, suasana pun menjadi
hangat dan penuh perhatian.
Saya memposting foto-foto ceramah itu
bukan untuk dipuji, bukan untuk mencari nama, apalagi popularitas. Itu adalah
ikhtiar kecil untuk menjaga semangat, sekaligus pesan halus kepada teman-teman
muballigh bahwa dakwah tidak harus selalu menunggu undangan. Datanglah ke
masjid, lihat umat, dengarkan kebutuhan mereka, dan jika diberi ruang,
sampaikanlah kebaikan.
Dalam setiap langkah ini, saya terus
berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar dijauhkan dari sifat riya’ dan
keinginan untuk dipuji manusia.
Saya memohon agar Allah menjaga saya tetap
istiqamah dalam berceramah, memberi pencerahan agama, mengajak saudara-saudara
muslim kepada amal dan kebajikan, serta menjauhkan diri dan umat dari perbuatan
dosa dan aniaya.
Semoga langkah kecil ini bernilai ibadah,
diterima oleh Allah, dan menjadi jalan kebaikan yang terus mengalir. Aamiin. (asnawin
aminuddin)
