-----
Ahad, 04 Januari 2026
Satupena Dukung
Moncongkomba Takalar Jadi Desa Wisata Sejarah dan Budaya
TAKALAR, (PEDOMAN
KARA). Satupena Sulawesi Selatan menegaskan
komitmennya mendukung gerakan literasi sekaligus mengambil peran strategis
dalam upaya mewujudkan Desa Moncongkomba, Kecamatan Polongbangkeng Selatan,
Kabupaten Takalar, sebagai Desa Wisata Sejarah dan Budaya.
Komitmen tersebut
disampaikan Koordinator Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena Sulawesi
Selatan, Rusdin Tompo, usai penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of
Understanding/MoU) antara SATUPENA, Yayasan Pendidikan Literasi Seni Sastra
Pannyaleori Institut, dan Penerbit CV Subaltern Inti Media, di Sekretariat Yayasan
Pendidikan Literasi Seni Sastra Pannyaleori Institut Desa Moncongkomba, Kecamatan
Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar, Sabtu, 03 Januari 2026.
“SATUPENA Sulawesi
Selatan selalu siap mendukung gerakan literasi, termasuk berkolaborasi dalam
pengembangan Moncongkomba sebagai Desa Wisata Sejarah dan Budaya,” ujar Rusdin
Tompo, yang dikenal sebagai penulis dan pegiat literasi.
Menurut Rusdin,
gagasan pengembangan Desa Moncongkomba muncul setelah berdiskusi dengan Prof Kembong
Daeng. Ditinjau dari aspek historis, kultural, sumber daya manusia, serta
jejaring yang dimiliki, Moncongkomba dinilai sangat potensial untuk
dikembangkan sebagai desa berbasis sejarah dan budaya.
Desa Moncongkomba
sendiri merupakan tanah kelahiran Prof Kembong Daeng, Guru Besar Fakultas
Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (UNM). Pada akhir pekan tersebut,
Pannyaleori Institut menggelar diskusi buku Autobiografi Permata Karya yang
ditulis Prof Kembong Daeng, sekaligus meluncurkan program-program literasi
Pannyaleori Institut.
Sebagai penanda
resmi peluncuran program, dilakukan penandatanganan MoU tiga pihak. Prosesi ini
diawali dengan kolaborasi pembacaan puisi “Panggil Aku Daeng” karya Rusdin
Tompo, oleh Dr Fadli Andi Natsif, yang diiringi permainan kesok-kesok oleh
pansirilik Haeruddin, menghadirkan nuansa sastra dan tradisi yang kental.
Ketua Yayasan
Pendidikan Literasi Seni Sastra Pannyaleori Institut, Muhammad Fahmi Yahya, menilai
kerja sama ini sebagai bentuk dukungan konkret terhadap lembaga dan gerakan
literasi di desa.
“Kami berterima
kasih atas kesediaan SATUPENA dan Subaltern berkolaborasi dalam mendukung
Pannyaleori Institut,” ujar Fahmi di hadapan para undangan.
Ruang lingkup MoU
meliputi penguatan gerakan literasi sastra, sejarah, dan budaya, melalui
pelatihan dan pendampingan menulis kreatif, citizen journalism (pewarta warga),
serta pendokumentasian dalam bentuk cetak seperti newsletter dan penerbitan
buku.
Program literasi
ini dirancang menyatu dengan upaya menjadikan Moncongkomba sebagai Desa Wisata
Sejarah dan Budaya, sekaligus mendorong tumbuhnya budaya gemar membaca dan
menulis.
Perpustakaan
Pannyaleori Institut diharapkan menjadi ruang inklusif untuk membaca, menulis,
berekspresi, dan berkreasi, sejalan dengan program Transformasi Perpustakaan
Berbasis Inklusi Sosial.
Direktur Penerbit
CV Subaltern Inti Media, Rasmi Safitri, berharap kolaborasi ini dapat mendorong
Takalar menuju kabupaten literasi, sebagaimana pengalaman yang telah dilakukan
pihaknya di Kabupaten Maros.
“Kami memiliki
pengalaman mengembangkan program literasi dan penerbitan di Maros. Semoga
kolaborasi ini juga memberi dampak positif bagi Takalar,” kata Rasmi.
Diskusi buku yang
digelar Pannyaleori Institut menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Prof
Sukardi Weda (Guru Besar UNM, dan salah satu calon Rektor Unhas Periode
2026-2030), Rusdin Tompo, Abdul Jalil Mattewakkang (tokoh literasi Takalar), serta
Rosita Desriani (staf FBS UNM dan pegiat literasi Satupena).
Sejumlah kalangan
turut hadir dalam kegiatan tersebut, mulai dari anggota DPRD Kabupaten Takalar,
tokoh masyarakat Moncongkomba yang telah berkiprah secara nasional, aparat
desa, penulis, pegiat literasi, jurnalis, hingga budayawan. (win)
