Satupena Dukung Moncongkomba Takalar Jadi Desa Wisata Sejarah dan Budaya

Koordinator Satupena Sulawesi Selatan, Rusdin Tompo (tengah), foto bersama Ketua Yayasan Pendidikan Literasi Seni Sastra Pannyaleori Institut, Muhammad Fahmi Yahya (paling kiri) dan Direktur Penerbit CV Subaltern Inti Media, Rasmi Safitri, usai penandatanganan perjanjian kerjasama, di Sekretariat Yayasan Pendidikan Literasi Seni Sastra Pannyaleori Institut Desa Moncongkomba, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar, Sabtu, 03 Januari 2026. (ist)      

 

-----

Ahad, 04 Januari 2026


 

Satupena Dukung Moncongkomba Takalar Jadi Desa Wisata Sejarah dan Budaya

 

TAKALAR, (PEDOMAN KARA). Satupena Sulawesi Selatan menegaskan komitmennya mendukung gerakan literasi sekaligus mengambil peran strategis dalam upaya mewujudkan Desa Moncongkomba, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar, sebagai Desa Wisata Sejarah dan Budaya.

Komitmen tersebut disampaikan Koordinator Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena Sulawesi Selatan, Rusdin Tompo, usai penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara SATUPENA, Yayasan Pendidikan Literasi Seni Sastra Pannyaleori Institut, dan Penerbit CV Subaltern Inti Media, di Sekretariat Yayasan Pendidikan Literasi Seni Sastra Pannyaleori Institut Desa Moncongkomba, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar, Sabtu, 03 Januari 2026.

“SATUPENA Sulawesi Selatan selalu siap mendukung gerakan literasi, termasuk berkolaborasi dalam pengembangan Moncongkomba sebagai Desa Wisata Sejarah dan Budaya,” ujar Rusdin Tompo, yang dikenal sebagai penulis dan pegiat literasi.

Menurut Rusdin, gagasan pengembangan Desa Moncongkomba muncul setelah berdiskusi dengan Prof Kembong Daeng. Ditinjau dari aspek historis, kultural, sumber daya manusia, serta jejaring yang dimiliki, Moncongkomba dinilai sangat potensial untuk dikembangkan sebagai desa berbasis sejarah dan budaya.

Desa Moncongkomba sendiri merupakan tanah kelahiran Prof Kembong Daeng, Guru Besar Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (UNM). Pada akhir pekan tersebut, Pannyaleori Institut menggelar diskusi buku Autobiografi Permata Karya yang ditulis Prof Kembong Daeng, sekaligus meluncurkan program-program literasi Pannyaleori Institut.

Sebagai penanda resmi peluncuran program, dilakukan penandatanganan MoU tiga pihak. Prosesi ini diawali dengan kolaborasi pembacaan puisi “Panggil Aku Daeng” karya Rusdin Tompo, oleh Dr Fadli Andi Natsif, yang diiringi permainan kesok-kesok oleh pansirilik Haeruddin, menghadirkan nuansa sastra dan tradisi yang kental.

Ketua Yayasan Pendidikan Literasi Seni Sastra Pannyaleori Institut, Muhammad Fahmi Yahya, menilai kerja sama ini sebagai bentuk dukungan konkret terhadap lembaga dan gerakan literasi di desa.

“Kami berterima kasih atas kesediaan SATUPENA dan Subaltern berkolaborasi dalam mendukung Pannyaleori Institut,” ujar Fahmi di hadapan para undangan.

Ruang lingkup MoU meliputi penguatan gerakan literasi sastra, sejarah, dan budaya, melalui pelatihan dan pendampingan menulis kreatif, citizen journalism (pewarta warga), serta pendokumentasian dalam bentuk cetak seperti newsletter dan penerbitan buku.

Program literasi ini dirancang menyatu dengan upaya menjadikan Moncongkomba sebagai Desa Wisata Sejarah dan Budaya, sekaligus mendorong tumbuhnya budaya gemar membaca dan menulis.

Perpustakaan Pannyaleori Institut diharapkan menjadi ruang inklusif untuk membaca, menulis, berekspresi, dan berkreasi, sejalan dengan program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial.

Direktur Penerbit CV Subaltern Inti Media, Rasmi Safitri, berharap kolaborasi ini dapat mendorong Takalar menuju kabupaten literasi, sebagaimana pengalaman yang telah dilakukan pihaknya di Kabupaten Maros.

“Kami memiliki pengalaman mengembangkan program literasi dan penerbitan di Maros. Semoga kolaborasi ini juga memberi dampak positif bagi Takalar,” kata Rasmi.

Diskusi buku yang digelar Pannyaleori Institut menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Prof Sukardi Weda (Guru Besar UNM, dan salah satu calon Rektor Unhas Periode 2026-2030), Rusdin Tompo, Abdul Jalil Mattewakkang (tokoh literasi Takalar), serta Rosita Desriani (staf FBS UNM dan pegiat literasi Satupena).

Sejumlah kalangan turut hadir dalam kegiatan tersebut, mulai dari anggota DPRD Kabupaten Takalar, tokoh masyarakat Moncongkomba yang telah berkiprah secara nasional, aparat desa, penulis, pegiat literasi, jurnalis, hingga budayawan. (win)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama