-----
PEDOMAN KARYA
Ahad, 04 Januari 2026
Catatan HUT Ke-3 IPMI dan Diskusi Buku
Kumpulan Cerpen “Ibu” (8-habis):
Ibu Gaib dan
Penasaran yang Tak Pernah Usai
Oleh: Asnawin Aminuddin
Buku kedua yang dibedah dalam Diskusi Buku
Kumpulan Cerita Pendek “IBU” dan HUT ke-3 Ikatan Penulis Muslim Indonesia
(IPMI), di Kafebaca, Jl. Adhyaksa, No 2, Makassar, Rabu, 24 Desember 2025,
yaitu buku: “Ibu, Gaib!” karya Muhammad Amir Jaya.
Penulis dan wartawan senior Muhammad
Dahlan Abubakar mengomentari buku tersebut dengan menulis catatan berjudul: “Penasaran
yang Tak Pernah Usai.”
Dahlan mengatakan, saat seorang sastrawan
atau penulis melahirkan karyanya, yang ada di benaknya adalah bagaimana
mengonkretkan inspirasinya dalam bentuk cerita dan kisah yang dapat dinikmati
oleh pembaca.
“Para penulis tidak pernah memikirkan akan
seperti apa respons pembaca. Hubungan
antara sastrawan dengan peminat lebih kepada relasi saling memengaruhi
dan memperkaya,” kata Dahlan.
Sastrawan menghasilkan karya sastra yang
dapat memengaruhi pembaca, sementara pembaca dapat memengaruhi sastrawan
melalui tanggapan dan interpretasi yang diberikan setelah membaca karya sastra
tersebut.
Berdasarkan asumsi inilah sehingga H.B.
Jassin pernah berkata. “Jangan salahkan penyair jika tidak mengerti pembaca,
tetapi salahkan pembaca yang tidak mengerti terhadap penyair.”
“Kalimat ini saya peroleh -- jika tidak
salah -- di dalam buku ‘Tufa Penyair dan Daerahnya’ yang ditulis oleh HB Jassin
dan diterbitkan pada tahun 1965. Buku ini membahas tentang kesusastraan
Indonesia, teori-teori sastra dan keindahan bahasa. Buku yang berwarna hijau
ini tersimpan dalam jejeran buku di perpustakaan pribadi saya,” ungkap Dahlan.
Secara umum dalam karyanya, sastrawan
dapat menawarkan aspek yang dapat menginspirasi, mengedukasi, dan menghibur.
Pembaca pun dapat menginterpretasi, memberi tanggapan, dan menginspirasi
sastrawan melalui seluruh aspek dalam cerita produk sastrawan.
Cakupan ketiga poin ini secara umum dapat
dilakukan dengan melihat konteks karya yang dihasilkan, yakni situasi dan
nuansa yang kemungkinan memiliki hubungan dengan penciptaan karya sastra
tersebut. Baik, relasi situasi, lokus, atau aspek kehidupan sosial, politik,
ekonomi, budaya, dan sebagainya.
“Membaca karya Muhammad Amir Jaya dalam
kumpulan cerita pendek ‘Ibu Gaib’, saya tertarik dengan cerpen yang dijadikan
judul buku ini, 'Ibu Gaib',” kata Dahlan.
Di dalam buku ini, selain ‘Ibu Gaib’,
terdapat beberapa cerpen, yakni “Gigi Emas”, “Ustaz Maulanto”, “Tuga Tamu”, “Pak
Broto”, “Perbincangan Kakek dan Cucu”, “Memperebutkan Bunga Desa”, “Aku
Koruptor”, “Semalam di Kamar 101”, “Menunggu Ibu di Tepi Pantai”, “Uang Palsu”,
“Tubuh Ibu Bau Harum Kasturi”, “Stempel Palsu”, dan “Hakim Rinto”.
“Saya tertarik dengan cerpen ‘Ibu Gaib’
karena ada beberapa hal, tetapi secara umum, membuat penasaran. Pertama, pada
judul spanduk (dalam acara diskusi buku, red) tertulis ‘Ibu, Gaib!’. Kedua,
cerpen ini menapasi acara diskusi buku ini yang dirangkaikan dengan Hari Ibu.
Ketiga, cerita seorang anak terhadap ibu, adalah kisah yang tidak pernah
ada habisnya,” tutur Dahlan.
Soal judul, “Ibu, Gaib!”, meskipun di
dalam buku sendiri tertulis “Ibu Gaib”, tetapi penggunakan tanda (!) pada judul
menimbulkan penasaran. Di spanduk menggunakan “kalimat seru”, sementara pada
isi buku memakai kalimat berita, menginformasikan.
“Jika dianalisis berdasarkan sintaksis
(tata kalimat), jelas judul yang di spanduk memancing penasaran pembaca,
termasuk saya. Kalimat pendek dua kata itu menginformasikan bahwa ibu sedang
mengalami proses kegaiban. Jika saya membaca isi cerpen, judul yang di spanduk
tampaknya lebih berterima. Di sini ada unsur ketakjuban anak terhadap peristiwa
‘transendental’ yang dialami sang Ibu. Melibatkan sesuatu yang di luar
nalarnya. Yakni, bagaimana seorang ibu tiba-tiba menghilang di belakangnya saat
salat berjamaah,” papar Dahlan.
Kalau “Ibu Gaib”, konteks pemaknaannya
datar-datar saja jika dibandingkan judul yang di spanduk. Pada judul kedua ini
hanya menginformasikan, tidak memberi rasa penasaran yang mendalam kepada
pembaca saat melihat judulnya. Terutama dapat menggugah perasaan mereka yang
sensitif memaknai suatu frasa yang digunakan di dalam tulisan.
Kedua, peringatan Hari Ibu, juga menjadi
bagian dari warna diskusi buku ini. Peringatan Hari Ibu yang dilaksanakan
selama ini lebih kepada hal-hal yang seremonial rutin belaka.
Memang sejatinya, memakna dan menyikap
suatu peringatan, suatu kelompok atau komunitas tertentu seharusnya
memperingati hari tersebut dengan aktivitas kreatifnya masing-masing.
Misalnya, Ikatan Penulis Muslim Indonesia
(IPMI) memperingati Hari Ibu dengan peluncuran dan diskusi buku bertemakan dan
menyoal tentang eksistensi dan jasa seorang ibu, sehingga peringatan Hari Ibu
“semarak” dengan model aktivitas yang sangat variatif.
Ketiga, kisah tentang ibu adalah bagaikan
mata air yang terus mengalir. Siapa pun dia, terutama orang Indonesia di
perdesaan, memiliki masa bersama ibu dalam rentang waktu yang lama.
“Saya misalnya, mungkin tidak sama dengan
anak-anak kota yang lebih lama membersamai ibunya. Anak-anak desa membersamai
ibu mereka selama menjalani pendidikan dasar di desanya. Pada saat menamatkan
pendidikan SD, dia akan pindah ke tempat lain yang ada SMP. Begitu pun dengan
saat di SMA dan perguruan tinggi. Kondisi seperti ini membuat seorang anak
memiliki banyak waktu tidak bersama dengan ibunya. Di sisi lain, setiap hadir
di depan ibunya pastilah melahirkan kisah tersendiri,” kenang Dahlan.
Itulah yang membuat seorang anak desa
memiliki kisah bersama dan tentang ibunya. Kisah “Ibu Gaib” M. Amir Jaya justru
terjadi pada saat sang anak sedang bersama-sama dengan sang Ibu.
“Kisahnya menjadi sangat mengasyikkan,”
kata Dahlan.
Berakhir dengan Penasaran
Cerpen “Ibu Gaib” M. Amir Jaya sangat
menarik. Kita dibawa kepada suasana yang serba penasaran setiap paragraf. Jalan
ceritanya pun lebih mudah dipahami karena penulis mampu mengonkretisasi kisah
dengan deskripsi lokus yang dapat dimaknai pembaca dengan mudah dan lugas. Contohnya
seperti gambaran masjid.
Penulis juga mampu menjawab penasaran
pembaca dengan menampilkan sang Ibu bercerita tentang peristiwa yang
dialaminya.
“Ia sedang mempraktikkan ilmu yang
diajarkan ayahnya. Dirinya masuk ke dalam huruf ‘H’. Dan saat itu dia merasa
kenikmatan yang luar biasa. Dia fana,” ujar Dahlan.
Pada paragraf ini, meskipun penulis
menampilkan sang Ibu untuk mengisahkan pengalaman gaibnya, tetapi tidak
menuntaskan rasa penasaran pembaca. Pertama, tidak menjelaskan ilmu dari sang
ayah yang dipraktikkan.
Kedua, huruf “H”, mungkin pembaca awam
banyak tidak paham. Huruf “H” dalam ilmu tarekat sering dikaitkan dengan konsep
“hakikat”, yang berarti kebenaran atas realitas spiritual. Huruf H juga dapat
dihubungkan dengan kata “hidayah” yang kita sama maklumi sebagai petunjuk atau
bimbingan dari Allah.
“Relasi interpretasi dan pemaknaan huruf ‘H’
sangat kontekstual. Bergantung pada siapa pelaku penderitanya. Dalam kisah ‘Ibu
Gaib’ jelas yang bersesuaian dengan pemaknaan huruf ‘H’ adalah ‘hakikat’,
kebenaran atau realitas spiritual. Ini menurut catatan saya,” kata Dahlan.
Ketiga, “Saat itu dia merasakan kenikmatan
yang luar biasa. Dia fana”. Kalimat ini sangat berkaitan sesuatu yang sangat
sufistik. Mendiang Pak Ishak Ngeljaratan mengatakan, kematian itu adalah sebuah
kenikmatan karena seseorang itu akan fana, hilang, mati; tidak kekal’ segala
yang ada di dunia.
Karena sebuah kenikmatan, orang yang
meninggal telah terbebas dari penderitaan (menurut versi Pak Ishak
Ngeljaratan). Tetapi menurut paham Islam, seseorang lepas dari penderitaan di
hari kemudian bergantung pada apa yang dia “tanam” selama hidupnya.
“Fana” dalam ilmu sufi berarti “lenyap”
atau “hilang”. (maaf saya bukan seorang sufi, hanya suka membaca buku). Fana
adalah konsep yang merujuk pada proses spiritual ketika seseorang mengalami
kehilangan kesadaran diri (ego) dan meleburkan diri dalam eksistensi Ilahi.
Catatan lain, penulis kurang memanfaatkan
kalimat dialogis yang sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk membantu memperkaya
inspirasi pembaca memaknai deskripsi suasana atau tempat yang terkait dengan
informasi yang dijelaskan.
Contoh, “Ibu sangat mengerti keadaanku. Ia
hanya memberi nasihat. “Yang penting salatmu tidak putus-putus”. (hlm 15).
Kalimat ini bisa lebih menggambarkan deskripsi suasana jika dikonstruksi seperti ini. “Yang penting, salatmu tidak putus-putus,” Ibu yang sangat mengerti keadaanku, memberi nasihat.
Kemudian, penyajian paragraf seharusnya
merujuk pada konsep paragraf yang baku. Suatu paragraf berisi kalimat topik / utama.
Informasi pada kalimat topik / utama itulah yang dikembangkan menjadi beberapa
kalimat berikutnya dengan tetap menjaga koherensi atau kepaduan. Maksudnya,
kalimat hasil pengembangan merupakan penjabaran dari kalimat topik, bukan
mengungkapkan gagasan baru.
“Praktik penyimpangan penulisan paragraf
seperti ini banyak ditemukan pada penulisan berita para wartawan. Satu paragraf
hanya terdiri atas satu kalimat, sehingga menyalahi konsep paragraf yang
gramatikal,” kata Dahlan.
Kesimpulannya, kata Dahlan, “Ibu Gaib” meskipun melalui plot kisah dan cerita yang runtut, namun menawarkan misteri yang tidak selesai. Pembaca tetap terjebak dalam penasaran. “Ilmu yang diajarkan ayah. Huruh “H”, dan “Dia fana”.***
.....
Tulisan Bagian 7: Ibu dan Pengorbanan yang Tak Pernah Bertepi
