HUT ke-79, Pedoman Rakyat Gelar Bimtek Jurnalistik

Wartawan dan karyawan Pedoman Rakyat foto bersama pada acara peringatan ulang tahun ke-79 (1 Maret 1947 - 1 Maret 2026) media siber Pedoman Rakyat (pedomanrakyat.co.id), yang dirangkaikan dengan Bimtek Jurnalistik, pertandingan domino, dan buka puasa bersama, di Virendy Cafe, Jl. AP Pettarani, Makassar, Ahad, 01 Maret 2026. (Foto: Aji Taruna)    

 

----

PEDOMAN KARYA

Senin, 02 Maret 2026

 

HUT ke-79, Pedoman Rakyat Gelar Bimtek Jurnalistik

 

Juga Gelar Buka Puasa Bersama dan Pertandingan Domino

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Memperingati ulang tahunnya yang ke-79 (1 Maret 1947 - 1 Maret 2026), media siber Pedoman Rakyat (pedomanrakyat.co.id) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Jurnalistik yang dirangkaikan dengan pertandingan domino, acara ulang tahun dan buka puasa bersama, di Virendy Cafe, Jl. AP Pettarani, Makassar, Ahad, 01 Maret 2026.

Bimtek bertema: “Profesionalitas Wartawan di Era Digital”, menghadirkan pemateri Prof Mas’ud Muhammadiah (akademisi, mantan wartawan Pedoman Rakyat), Suwardi Tahir (Penguji UKW Dewan Pers), Abdul Manaf Rahman (Wakil Ketua PWI Sulsel), Ronald Ngantung (Penasehat PWI Sulsel), serta Dr M. Dahlan Abubakar (Tokoh Pers versi Dewan Pers).

Dipandu oleh M. Rusdi Embas, dari Pedoman Rakyat, acara ini dihadiri oleh para purnabakti wartawan Pedoman Rakyat, jurnalis dari berbagai perusahaan pers, hingga masyarakat umum yang antusias mempelajari dunia kewartawanan.

Mengawali sesi materi, Mas’ud Muhammadiah yang merupakan Guru Besar Universitas Bosowa (Unibos) sekaligus alumnus harian Pedoman Rakyat, mengupas tuntas urgensi pemilihan diksi dalam produk jurnalistik.

Ia menekankan agar wartawan menghindari penggunaan diksi yang bersifat menghakimi demi menjaga prinsip praduga tak bersalah. Dalam penjelasannya, ia turut memberikan komparasi antara struktur judul yang tendensius dan yang objektif.

Pakar Linguistik Terapan ini menggarisbawahi bahwa ketepatan dalam memilih kata adalah kewajiban mutlak bagi setiap jurnalis saat menyusun sebuah naskah berita.

Pada sesi berikutnya, Suwardi Tahir memaparkan materi mengenai Standar Kompetensi Wartawan. Ia menegaskan bahwa esensi kompetensi bukan sekadar mengantongi sertifikat kelulusan Uji Kompetensi Wartawan (UKW), melainkan mencakup aspek integritas dan tanggung jawab sosial.

Menurutnya, pilar utama kemampuan seorang jurnalis bertumpu pada tiga hal: wawasan (knowledge), keterampilan (skill), dan perilaku (attitude).

“Menjadi kompeten bukan hanya soal kemahiran menulis, tapi juga kepatuhan pada regulasi, penguasaan teknis jurnalistik, serta kemandirian etika,” jelas Suwardi.

Sosok yang disebut-sebut sebagai kandidat kuat Ketua PWI Sulsel ini juga merinci bahwa tujuan kompetensi wartawan adalah demi menjamin mutu informasi, menjaga profesionalisme, serta memproteksi publik maupun profesi pers itu sendiri.

Ia pun membedah dikotomi antara wartawan yang kompeten dan yang tidak, sembari mengulas histori lahirnya kode etik profesi serta sistem sertifikasi wartawan di Indonesia.

Lebih mendalam, Wakil Ketua Bidang Pendidikan PWI Sulsel ini mengingatkan kedudukan UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 sebagai Lex Specialis. Artinya, jika ada aturan umum yang bertentangan dengan UU Pers dalam ranah jurnalistik, maka aturan spesifik inilah yang harus diprioritaskan.

Sementara itu, tokoh pers Ronald Ngantung yang didaulat membagikan perspektifnya mengenai turbulensi di industri media, membeberkan pengalamannya saat menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Tribun Timur.

Ia mengisahkan hasil diskusinya dengan kalangan akademisi dan tokoh masyarakat yang kini mayoritas meninggalkan koran cetak maupun radio sebagai sumber informasi, dan beralih sepenuhnya ke media sosial.

Kenyataan ini, menurut Ronald, menjadi bukti bahwa daya tahan sebuah media sangat bergantung pada kemampuannya beradaptasi dengan tren zaman melalui pemanfaatan platform digital.

Kendati demikian, ia mengingatkan agar konten yang diunggah ke media sosial tetap wajib berpijak pada standar jurnalistik yang baku. Ia juga berbagi strategi teknis mengenai cara mengembangkan satu peristiwa menjadi rangkaian berita yang variatif.

“Langkah praktisnya adalah merilis berita umum yang ringkas terlebih dahulu, baru kemudian dikembangkan menjadi beberapa berita spesifik yang menyoroti narasumber yang berbeda,” jelas Penasihat PWI Sulsel tersebut.

Selanjutnya, Abdul Manaf Rahman yang juga merupakan kader jebolan Pedoman Rakyat, mensosialisasikan regulasi baru hasil konversi media massa yang diputuskan pada Hari Pers Nasional (HPN) di Serang, Banten, Februari 2026.

Poin krusial dalam aturan anyar tersebut adalah penambahan kuota bagi pemegang sertifikasi Wartawan Utama, di mana mereka kini diizinkan menjadi Penanggung Jawab untuk tiga perusahaan pers sekaligus.

Di sisi lain, narasumber Dahlan Abubakar yang dijadwalkan mengisi materi kepenulisan berita yang tajam dan humanis, berhalangan hadir karena posisi masih di Jakarta. Namun, ia tetap membagikan materi pembelajarannya melalui pesan singkat kepada panitia untuk dipelajari peserta.

Seluruh rangkaian materi tersebut menjadi suplemen ilmu berharga bagi para jurnalis muda dan peserta lainnya yang datang dari berbagai wilayah, mulai dari Gowa, Takalar, Jeneponto, Wajo, Majene, hingga Bogor.

Acara Bimtek Jurnalistik, buka puasa bersama, dan peringatan hari ulang tahun ke-79 Pedoman Rakyat juga diisi ceramah agama dan doa oleh Ustadz Asnawin Aminuddin. (jar)

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama