-----
PEDOMAN KARYA
Ahad,
01 Maret 2026
Kultum Ramadhan:
Mengatur Ulang Prioritas di Zaman Overload
Oleh: Furqan Mawardi
(Muballigh Akar Rumput)
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji
bagi Allah yang masih memberi kita waktu, kesempatan, dan kesadaran untuk terus
memperbaiki diri. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ï·º,
yang hidupnya sederhana, tetapi prioritasnya selalu jelas: Allah di atas
segalanya.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Kita hidup di zaman overload. Informasi
overload, pekerjaan overload, target overload, dan ekspektasi pun juga sering
overload. Setiap hari kita merasa sibuk, akan tetapi seringkali, sibuk bukan
berarti penting. Padat bukan berarti bermanfaat, terkadang kita mengejar banyak
hal, namun kadang lupa bertanya bahwa apakah hal yang kita kejar ini
benar-benar prioritas atau hanya tuntutan keadaan.
Zaman ini membuat segalanya terlihat
urgent. Pesan harus segera dibalas. Pekerjaan harus segera selesai. Target
harus segera tercapai. Namun perlu kita pahami dan sadari bahwa tidak semua
yang mendesak itu penting, dan tidak semua yang penting itu mendesak.
Ramadhan datang seperti alarm yang
membangunkan kita. Ia memaksa kita untuk berhenti sejenak, mengatur ulang ritme
hidup, dan menata ulang kembali skala prioritas.
Allah berfirman: “Tidaklah Aku ciptakan
jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini sederhana, tetapi sangat tajam
pesan yang disampaikan. Apa itu? Yakni bahwa tujuan hidup sangat sudah sangat
jelas, yakni ibadah kepada Allah, maka prioritas dan kesibukan yang mesti dilakukan
dalam keseharian adalah wajib bernilai ibadah disisi Allah.
Saudaraku semua yang dicintai Allah.
Ada orang yang jadwalnya penuh, tetapi
hatinya kosong. Ada yang kariernya naik, tetapi jiwanya turun. Ada yang dikenal
banyak orang, tetapi jarang dikenal dalam sujud malamnya.
Inilah dampak ketika prioritas bergeser.
Rasulullah ï·º pernah mengingatkan: “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah
meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)
Coba kita jujur pada diri sendiri, berapa
banyak energi kita habis untuk hal yang tidak benar-benar bernilai di sisi
Allah? Sementara Ramadhan mengajarkan kita untuk fokus dan penuh keteraturan.
Makan pun dibatasi waktunya. Tidur pun diatur. Bahkan kata-kata pun dijaga.
Mengapa? Agar kita belajar bahwa hidup ini bukan tentang melakukan semuanya,
melainkan tentang memilih yang paling bermakna.
Mengatur ulang prioritas bukan berarti
meninggalkan dunia. Bukan berarti berhenti bekerja atau berhenti bermimpi.
Tetapi menempatkan dunia di tangan, bukan di hati. Ketika shalat menjadi
prioritas, pekerjaan mengikuti. Ketika akhlak dijaga, relasi menjadi sehat.
Ketika Allah didahulukan, hidup terasa lebih terarah. Ramadhan mengembalikan
pusat gravitasi hidup kita. Dari dunia yang riuh kemudian kembali kepada Allah
yang menenangkan.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Jika hari-hari ini terasa terlalu padat,
mungkin bukan waktunya yang kurang, akan tetapi prioritasnya yang perlu ditata
ulang.
Mari jadikan Ramadhan sebagai momentum
evaluasi. Apa yang harus dikurangi? Apa yang harus diperbaiki? Apa yang harus
diutamakan? Jangan sampai kita kelelahan mengejar dunia, namun terlambat
mempersiapkan akhirat.
Ya Allah, tuntun kami untuk memilih yang
Engkau ridhai. Ringankan hati kami untuk meninggalkan yang tidak bermanfaat. Dan
jadikan hidup kami terarah, tidak hanya sibuk tetapi bermakna. Aamiin ya Rabbal
‘alamin.
