-----
PEDOMAN KARYA
Ahad,
01 Maret 2026
Kultum Ramadhan:
Survive Puasa di Tengah Zaman Serba Instan
Oleh: Furqan Mawardi
(Muballigh Akar Rumput)
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji
bagi Allah yang masih memberi kita kesempatan bertemu dengan Ramadhan. Bulan
yang mengajarkan kita bertahan, menahan, dan bertumbuh. Shalawat dan salam
semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ï·º, teladan kesabaran di tengah ujian
kehidupan.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Kita hidup di zaman yang serba instan,
makanan instan, belanja instan, informasi instan, bahkan hiburan pun instan.
Zaman ini semua orang ingin cepat. Semua ingin segera. Klik — datang. Pesan —
tiba. Cari — muncul.
Tetapi Ramadhan berbeda suadaraku.Ia
datang membawa suatu sistem yang berbeda. Ramadhan tidak instan, Ramadhan
mengajarkan sebuah proses melatih diri untuk tidak ikut arus budaya cepat yang
instan.
Ketika di luar Ramadhan, ketika kita lapar
sedikit, kita bisa langsung makan. Ketika kita haus, bisa langsung minum.
Ketika kita menginginkan sesuatu, langsung dicari. Namun saat puasa, ketika
kita lapar wajib menunggu hingga maghrib. Ketika haus mesti bersabar hingga
petang tiba. Ingin marah, wajib menahan. Dari sinilah letak pendidikan dari
puasa.
Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang
beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah:
183)
Taqwa tidak lahir dari kecepatan, Ia lahir
dari kesabaran, dari kemampuan menunda keinginan demi ketaatan. Puasa melatih
kita untuk tidak menjadi budak keinginan.
Jamaah sekalian yang berbahagia ,
Zaman serba instan membuat kita ingin
hasil tanpa proses. Ingin kaya tanpa kerja keras. Ingin terkenal tanpa
perjuangan. Ingin bahagia tanpa kesabaran. Padahal kehidupan tidak bekerja
seperti itu.
Rasulullah ï·º bersabda: “Ketahuilah bahwa
kemenangan itu bersama kesabaran.” (HR. Ahmad)
Kesuksesan sejati tidak dibangun dalam
satu malam. Kematangan jiwa tidak lahir dalam satu klik. Ramadhan mengembalikan
kita pada hukum kehidupan yang sebenarnya bahwa yang kuat adalah yang mampu
menahan, bukan yang selalu menuruti.
Jamaah sekalian yang berbahagia
Bertahan dalam puasa bukan sekadar menahan
lapar dan haus. Akan tetapi memiliki kemampuan menahan emosi di tengah tekanan.
Menahan lisan di tengah provokasi. Menahan jempol di tengah keinginan
berkomentar. Di zaman kita saat ini yang serba instan, respons kita sering
spontan tanpa berpikir. Sedikit tersinggung, langsung membalas. Sedikit tidak
setuju, langsung menyerang.
Ramadhan mengajarkan jeda, dan jeda itu
menyelamatkan. Karena orang yang kuat bukan yang cepat bereaksi, tetapi yang
mampu mengendalikan diri.
Saudaraku semua yang dirahmati Allah,
Jika dunia mengajarkan kita untuk serba
cepat, Ramadhan mengajarkan kita untuk menjadi kuat. Jika dunia membiasakan
kita dengan kemudahan, Ramadhan melatih kita menghadapi keterbatasan. Dan
justru di situlah kita ditempa.
Semoga setelah Ramadhan, kita bukan hanya
menjadi orang yang bisa “bertahan lapar”, tetapi menjadi pribadi yang lebih
matang, dan lebih tangguh menghadapi kehidupan.
Mari kita berdoa berdoa bersama:
Ya Allah, kuatkan kami di tengah godaan
zaman. Ajarkan kami sabar di tengah budaya serba cepat. Dan jadikan Ramadhan
ini proses yang membentuk kami menjadi hamba yang lebih bertakwa. Aamiin ya
Rabbal ‘alamin.
