-----
PEDOMAN KARYA
Ahad, 01 Maret 2026
Kisah Nabi Muhammad SAW (31):
Mintalah
Mukjizat-mukjizat kepada Berhala
Penulis: Abu Hasan
Ali An-Nadwi
Bersungguh-sungguh atau hanya
sekadar mengejek, orang-orang Quraisy sering meminta mukjizat kepada
Rasulullah.
“Kalau Tuhan-mu bisa
menurunkan mukjizat, kami pasti akan beriman kepadamu!” demikian seru salah
seorang dari mereka kepada Rasulullah.
“Muhammad! Kalau engkau benar-benar
Rasulullah, mintalah Tuhan agar menyulap Bukit Shafa dan Marwa menjadi
bukit-bukit emas!” seru yang lain.
“Ya, itu benar! Tetapi kalau
Tuhanmu tidak sanggup membuat bukit emas, cobalah turunkan ayat-ayat Allah itu
dalam sebuah kitab yang diturunkan langsung dari langit! Itu pun sudah akan
membuat kami beriman!” timpal yang lain.
Rasulullah tidak menanggapi
permintaan-permintaan aneh itu. Melihat Rasulullah yang tetap diam dan tenang,
orang-orang Quraisy jadi semakin kesal. Dari waktu ke waktu, sering di muka
umum dan disaksikan orang banyak, mereka mengajukan permintaan-permintaan lain
yang lebih mustahil.
“Muhammad, kami dengar engkau
sering membicarakan Jibril. Mengapa engkau tidak menampakkan Jibril di hadapan
kami agar kami yakin?” kata mereka.
“Muhammad, kalau Tuhanmu
memang sehebat yang engkau katakan, mintalah Ia menghidupkan orangtua-orangtua
kami yang sudah mati!” ujar yang lainnya.
“Muhammad, katamu engkau
membawa agama kasih sayang buat seluruh alam! Kalau begitu, mintalah Tuhan-mu
agar memunculkan mata air yang lebih sedap dari sumur Zamzam! Bukankah engkau
tahu bahwa penduduk Mekah sangat memerlukan air?” kata yang lain lagi.
“Ya, setidaknya mintalah
Tuhanmu melenyapkan bukit-bukit yang mengurung Mekah agar kota ini dapat mudah
dicapai orang dari arah mana pun!” seru mereka.
Jawaban untuk Kaum
Quraisy
Allah sendirilah yang menjawab
permintaan-permintaan itu melalui firman-Nya:
Katakanlah: Aku tidak berkuasa
menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali
yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku
membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan.
Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi
orang-orang yang beriman. (Surah Al-A’raf, 7:188)
Melalui ayat ini, Allah
menyuruh Rasulullah mengatakan, “Wahai orang Quraisy, aku hanyalah seorang
pemberi peringatan. Bukankah aku tidak meminta kepadamu hal-hal di luar
kemampuan akal? Mengapa kamu justru memintaku menunjukkan hal-hal yang tidak
masuk akal?”
“Wahai orang Quraisy, bukankah
Al-Qur’an itu sendiri merupakan sebuah mukjizat? Kemudian, mengapa kamu masih
meminta mukjizat yang lain? Apakah jika mukjizat itu benar-benar diturunkan,
kamu akan beriman kepadaku? Bukankah jika mukjizat itu turun, kamu akan
mengatakan bahwa aku hanyalah seorang penyihir yang mengada-ada?” lanjut
Rasulullah.
“Wahai orang Quraisy, kalau
kamu tidak mau menyembah Allah dan tetap menyembah berhala, mengapa tidak kamu
minta saja mukjizat-mukjizat tadi kepada para berhala itu? Bukankah kamu tahu
bahwa berhala-berhala itu tidak dapat mendatangkan kebajikan? Bukankah mereka
tidak bergerak, tidak hidup, dan hanya terbuat dari batu dan kayu? Bukankah
mereka tidak dapat membela diri jika ada orang yang datang dan
menghancurkannya?” tanya Rasulullah.
Demikianlah, Rasulullah
menjawab dengan kata-kata yang tidak dapat lagi dibantah kebenarannya. Namun,
apakah orang-orang kafir itu seketika mau menerima Islam? Tidak, mereka bahkan
melakukan hal-hal lain untuk menyingkirkan Rasulullah.
Ammarah bin Walid
Sekali pun tidak memeluk
Islam, Abu Thalib adalah pelindung Rasulullah. Jika ada orang yang membahayakan
Rasulullah, Abu Thalib dan kabilahnya siap membelanya sampai titik darah
penghabisan.
Tidak ada musuh Rasulullah
yang berani membunuh beliau tanpa menghadapi Abu Thalib dan kabilahnya. Karena
mengetahui kokohnya perlindungan Abu Thalib ini, para pemuka Quraisy mendatangi
orangtua itu di rumahnya.
“Abu Thalib,” demikian mereka
mengajak bicara, “keponakanmu itu sudah memaki berhala-berhala kita, mencaci
agama kita, dan menganggap sesat nenek moyang kita. Engkau harus menghentikan
dia sekarang. Jika tidak, biarlah kami yang akan menghadapinya. Kalau kamu
melindunginya juga, biar kabilah-kabilah kami yang akan menghadapi kabilahmu,”
kata mereka.
Abu Thalib menghela napas
berat, “Demi Tuhan Ka’bah, biar seluruh Mekah menghalangi jalanku, aku akan
tetap melindungi kemenakanku itu.”
Para pemimpin Quraisy itu
saling berpandangan, lalu pergi tanpa berkata apa-apa. Bagaimanapun, mereka
belum sanggup menghadapi perang saudara yang akan menghancurkan kota Mekah.
Mereka memutar akal dan menemukan muslihat lain.
Para pemimpin Quraisy itu
kembali mendatangi Abu Thalib sambil membawa serta Ammarah bin Walid. Ia adalah
pemuda Quraisy yang gagah perkasa dan paling tampan wajahnya.
“Ambillah dia! Jadikan dia
sebagai anak. Ia jadi milikmu. Namun, serahkanlah keponakanmu yang menyalahi
agama kita dan agama nenek moyang kita, yang memecah belah persatuan kita itu
untuk kami bunuh!” tawar mereka.
“Bagaimana, Abu Thalib?
Bukankah ini pertukaran yang adil? Seorang laki-laki ditukar pula dengan
seorang laki-laki!” kata yang lain.
Wajah Abu Thalib berubah
murka. Dengan mata menyala, ditatapinya para bangsawan itu satu demi satu.
“Betapa buruknya tawaran
kalian kepadaku ini!” geram Abu Thalib.
“Bayangkan, kalian memberikan
anakmu kepadaku untuk aku beri makan, sedangkan aku harus menyerahkan anakku
untuk kalian bunuh! Demi Tuhan Ka’bah, ini adalah hal yang tidak boleh terjadi
buat selamanya!” tegas Abu Thalib.
Abu Thalib adalah pemimpin kabilah Bani Hasyim. Kini Bani Hasyim terpecah dua. Kaum miskinnya membela Abu Thalib, sedang kaum kayanya membela Abu Lahab. (bersambung)
.....
Kisah sebelumnya:
