Antrean Panjang dan Ujian Kesabaran di SPBU


ANTREAN PANJANG. Jika kita ingin membeli pertalite atau pertamax di SPBU, maka bersiaplah untuk mengantre dan bersabar dalam waktu yang tidak sebentar. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)  


-----

PEDOMAN KARYA

Selasa, 14 April 2026

 

Antrean Panjang dan Ujian Kesabaran di SPBU

 

Ada yang terasa baru dan agak aneh dalam beberapa bulan, bahkan setahun terakhir. Apa itu? Antrean panjang dan lama di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Jika kita ingin membeli pertalite atau pertamax di SPBU, maka bersiaplah untuk mengantre dan bersabar dalam waktu yang tidak sebentar. Antrean mengular, kadang seperti tak berujung. Dari sepeda motor hingga mobil, semua berbaris rapi, atau sesekali tidak begitu rapi, menunggu giliran mengisi bahan bakar.

Yang lebih terasa, antrean panjang ini tidak mengenal waktu. Pagi hari saat orang hendak memulai aktivitas, siang hari ketika matahari menyengat tanpa ampun, hingga malam hari saat orang berharap suasana lebih lengang, semuanya tetap saja dipenuhi antrean. Bahkan pada waktu subuh, ketika langit masih redup dan udara masih sejuk, antrean sudah mulai terbentuk.

Kesabaran benar-benar diuji. Terutama saat siang hari, di bawah terik matahari yang membakar kulit. Mesin kendaraan menyala, hawa panas naik dari aspal, dan waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Sudahlah panas, proses pengisian bahan bakar pun terasa lambat.

Mengapa pengisian BBM menjadi lambat? Salah satu penyebabnya adalah adanya prosedur tambahan. Setiap pembeli ditanya berapa liter atau berapa rupiah bahan bakar yang akan dibeli. Setelah itu, petugas SPBU mencatat data tersebut melalui aplikasi di telepon genggam.

Saat ditanya mengapa harus dicatat, yang jelas-jelas memperlambat pelayanan, petugas menjawab bahwa itu adalah aturan. Sebuah kebijakan yang harus dijalankan, meskipun berdampak pada panjangnya antrean.

“Tapi ada juga SPBU yang melayani tanpa mencatat,” celetuk saya suatu ketika.

Petugas itu tersenyum tipis, lalu menjawab, “Kalau di sini tidak bisa begitu.”

Jawaban singkat, tetapi menyiratkan bahwa ada sistem yang lebih besar sedang berjalan. Boleh jadi ini terkait dengan upaya pengawasan distribusi BBM bersubsidi agar lebih tepat sasaran. Sebuah kebijakan yang secara niat tentu baik, namun dalam praktiknya masih menyisakan persoalan di lapangan.

Antrean panjang di SPBU bukan sekadar soal waktu yang terbuang. Ia juga berdampak pada produktivitas masyarakat. Para pekerja bisa terlambat, pengemudi ojek online kehilangan waktu mencari penumpang, bahkan distribusi barang bisa ikut terhambat. Dalam skala yang lebih luas, ini bisa memengaruhi ritme ekonomi harian.

Di sisi lain, kita juga memahami bahwa pengelolaan BBM bukan perkara sederhana. Ada banyak aspek yang harus dijaga: ketersediaan, distribusi, hingga pengawasan agar tidak terjadi penyalahgunaan. Namun demikian, pelayanan kepada masyarakat tetap harus menjadi perhatian utama.

Perlu ada evaluasi dan inovasi. Misalnya, mempercepat sistem pencatatan dengan teknologi yang lebih efisien, menambah petugas di jam-jam sibuk, atau membuka jalur khusus untuk jenis transaksi tertentu. Dengan begitu, tujuan pengawasan tetap tercapai tanpa mengorbankan kenyamanan masyarakat.

Antrean panjang di SPBU pada akhirnya menjadi cermin dari sebuah sistem yang sedang berproses. Di sana ada kebijakan, ada pelaksanaan, dan ada masyarakat yang merasakan langsung dampaknya.

Dan di tengah antrean itu, kita belajar satu hal sederhana: bersabar. Namun tentu saja, harapan kita bukan hanya sekadar sabar, melainkan juga adanya perbaikan—agar suatu saat nanti, mengisi bahan bakar kembali menjadi urusan singkat, bukan lagi ujian kesabaran. (asnawin aminuddin)



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama