Pertandingan Paling Brutal di Piala Dunia 1962, Brasil Pertahankan Gelar Juara

PIALA DUNIA 1962. Brasil keluar sebagai juara Piala Dunia FIFA 1962 setelah mengalahkan Cekoslowakia di final dengan skor 3–1, di Estadio Nacional, Santiago de Chile17 Juni 1962. Brasil sekaligus mempertahankan gelarnya sebagai juara dunia. (int)  


------

PEDOMAN KARYA

Senin, 08 Juni 2026

 

Sejarah Piala Dunia Sepak Bola FIFA (7):

 

Pertandingan Paling Brutal di Piala Dunia 1962, Brasil Pertahankan Gelar Juara

 

Oleh: Asnawin Aminuddin

 

Piala Dunia FIFA 1962 merupakan edisi ketujuh dari Piala Dunia FIFA, yang putaran finalnya diselenggarakan di Chili, 30 Mei hingga 17 Juni 1962. Turnamen ini dimenangkan Brasil, setelah memenangkan pertandingan final atas Cekoslowakia dengan skor 3–1, di Estadio Nacional, Santiago de Chile, yang disaksikan 66,057 penonton.

Sementara, tuan rumah Chili meraih juara ketiga setelah menang dengan skor 1–0 atas Yugoslavia dalam pertandingan perebutan tempat ketiga di stadion yang sama.

Ada sebuah peristiwa yang tak terlupakan pada babak penyisihan di Piala Dunia 1962. Peristiwa itu kemudian dikenal dengan julukan “Battle of Santiago” atau Pertarungan Santiago.

Pertarungan Santiago adalah julukan untuk pertandingan sepak bola yang terkenal karena keburukannya pada Piala Dunia FIFA 1962. Pertandingan ini dimainkan antara ruan rumah Chili melawan Italia pada 02 Juni, 1962 di Santiago. Wasit pertandingan tersebut adalah Ken Aston yang kemudian dari pertandingan ini terciptalah sistem kartu kuning dan merah.

Pada pertandingan Grup 2 ini, sudah terjadi ketegangan ketika dua wartawan Italia yang meliput persiapan Santiago dalam Piala Dunia 1962 yang dianggap masih buruk.

Organisasi Chili dan persiapan akan turnamen tersebut sudah luar biasa, tetapi pada 1960 gempa bumi terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah sangat memengaruhi negara tersebut.

Artikel Italia tersebut digunakan oleh koran-koran Chili untuk merangsang penduduk Chili. Wartawan tersebut, Antonio Ghirelli dan Corrado Pizzinelli, harus meninggalkan Chili sebelum Piala Dunia dimulai dengan alasan keamanan. Beberapa hari sebelumnya seorang wartawan Argentina, yang dengan salah dianggap wartawan Italia, dipukuli di sebuah bar di Santiago.

Pelanggaran pertama terjadi 12 detik setelah kick-off antara Chili versus Italia. Giorgio Ferrini dikeluarkan dua belas menit kemudian setelah melakukan pelanggaran terhadap Honorino Landa, tetapi menolak untuk meninggalkan lapangan sehingga ia harus dikeluarkan paksa oleh polisi. Landa membalas memukul beberapa menit kemudian, tetapi ia tidak dikeluarkan.

Wasit Ken Aston mengabaikan pukulan Leonel Sanchez kepada Mario David, yang kemudian dibalas oleh David tak lama kemudian. Ketika David menendang kepala Sanchez, ia dikeluarkan.

Ketika kekerasan terus berlanjut, antara sembilan pemain Italia dan sebelas pemain Chili, Sanchez mematahkan hidung Humberto Maschio dengan tonjokan tangan kiri, namun Aston tidak mengeluarkan Sanchez. Ketika kedua tim terlibat baku hantam dan peludahan, polisi harus melerai sebanyak tiga kali.

Chili memenangkan pertandingan ini dengan skor 2-0. Dua gol Chili dicetak oleh Jaime Ramirez pada menit ke-74, dan Jorge Toro pada menit ke-88.

Ketika sorotan permainan tersebut ditayangkan pada televisi Inggris beberapa hari kemudian (tidak pada hari yang sama, karena rekaman harus diterbangkan ke Inggris), pertandingan tersebut dibuka dengan introduksi David Coleman yang mengatakan pertandingan tersebut “adalah pertandingan paling bodoh, paling mengerikan, paling menjijikan, dan paling memalukan dalam sejarah sepak bola.”

Beberapa insiden yang terjadi antara lain Giorgio Ferrini mendapat kartu merah dan harus dikeluarkan polisi dari lapangan karena menolak keluar. Leonel Sanchez memukul Mario David hingga terjatuh, tetapi lolos dari hukuman.

Mario David kemudian membalas dengan menendang kepala Sanchez dan langsung diusir wasit. Kapten Italia Humberto Maschio mengalami cedera rahang setelah benturan keras.

Pertandingan berlangsung kacau dan berkali-kali dihentikan karena keributan antarpemain. Cile akhirnya menang 2-0, tetapi laga tersebut lebih diingat sebagai simbol betapa brutalnya sepak bola pada era itu.

 

Lahir Ide Kartu Merah dan Kuning

Insiden Battle of Santiago ternyata meninggalkan dampak besar bagi dunia sepak bola. Wasit asal Inggris, Ken Aston, yang memimpin pertandingan tersebut menyadari sulitnya berkomunikasi dengan pemain dari berbagai negara saat memberikan sanksi.

Pengalaman itu menginspirasinya menciptakan sistem kartu kuning dan kartu merah sebagai tanda visual yang mudah dipahami semua pemain.

Sistem tersebut kemudian resmi digunakan FIFA pada Piala Dunia 1970 dan menjadi bagian tak terpisahkan dari sepak bola hingga saat ini.

 

Babak Penyisihan Grup

Piala Dunia 1962 diikuti 16 tim dan dibagi 4 grup. Grup A dihuni Uni Soviet, Yugoslavia, Uruguay, dan Kolombia. Uni Soviet dan Yugoslavia lolos ke babak kedua, sedangkan Uruguay dan Kolombia gugur di penyisihan grup.

Uni Soviet meraih 5 poin setelah mengalahkan Yugoslavia 2-0, dan menundukkan Uruguay 2-1, serta bermain imbang 4-4 melawan Kolombia. Yugoslavia menempati peringkat kedua dengan 4 poin setelah mengalahkan Uruguay 3-1, dan menghancurkan Kolombia 5-0, serta kalah 0-2 dari Uni Soviet.

Di Grup B, Jerman Barat dan tuan rumah Chili lolos ke babak berikutnya. Italia dan Swiss gugur di babak penyisihan grup.

Jerman Barat menempati peringkat pertama grup dengan raihan 5 poin hasil dua kali menang dan satu seri, sedangkan Chili urutan kedua dengan raihan 4 poin hasil dua kali menang dan satu kali kalah.

Jerman Barat mengalahkan Swiss 2-1, dan menundukkan tuan rumah Chili 2-0, serta bermain imbang tanpa gol dengan Italia. Tuan rumah Chili mengalahkan Swiss 3-1, dan menang atas Italia dengan skor 2-0, serta kalah 0-2 dari Jerman Barat.

Grup C dihuni Brasil, Cekoslowakia, Meksiko, dan Spanyol. Brasil dan Cekoslowakia lolos ke babak perempatfinal. Brasil meraih 5 poin hasil dua kali menang dan satu seri, sedangkan Cekoslowakia meraih 3 angka, hasil satu kali menang, satu seri, dan satu kalah.Meksiko dan Spanyol masing-masing satu kali menang dan dua kali kalah.

Brasil menang 2-0 atas Meksiko, dan menang 2-1 atas Spanyol, serta bermain imbang tanpa gol dengan Cekoslowakia. Peringkat kedua Cekslowakia mengalahkan Spanyol 1-0, bermain imbang 0-0 dengan Brasil, serta kalah 1-3 dari Meksiko.

Grup D ditempati Hungaria, Inggris, Argentina, dan Bulgaria. Hungaria dan Inggris lolos ke babak perempatfinal, sedangkan Argentina dan Bulgaria gugur di babak penyisihan grup.

Hungaria menempati peringkat pertama hasil dua kali menang dan satu kali seri. Hungaria mengalahkan Inggris 2-1, menang besar 6-1 atas Bulgaria, dan bermain imbang tanpa gol dengan Argentina.

Inggris dan Argentina sama-sama meraih 3 poin, hasil dari satu kali menang, satu kali seri, dan satu kali kalah, tetapi Inggris ditempatkan pada peringkat kedua karena memiliki selisih gol lebih banyak dibanding Argentina.

Secara kebetulan Inggris juga mengalahkan Argentina dengan skor 3-1, kemudian bermain imbang tanpa gol dengan Bulgaria, dan kalah 1-2 dari Hungaria. Bulgaria menempati juru kunci dan hanya memperoleh 1 poin hasil seri 0-0 dengan Inggris, kemudian kalah 0-1 dari Argentina, dan kalah 1-6 dari Hungaria.

 

Perempatfinal

Pada perempatfinal, tuan rumah Chili menyingkirkan Uni Soviet 2-1, Brasil mengalahkan Inggris 3-1, Yugoslavia menang tipis 1-0 atas Jerman Barat, serta Cekoslowakia menundukkan Hungaria 1-0.

 

Semifinal

Di semifinal, juara bertahan Brasil mengalahkan tuan rumah Chili 4-2, sedangkan Cekoslowakia mengalahkan Yugoslavia dengan skor 3-1.

 

Juara Ketiga

Tuan rumah Chili keluar sebagai juara ketiga setelah mengalahkan Yugoslavia 1-0. Gol tunggal Chili dicetak oleh Eladio Rojas pada menit ke-90. Pertandingan dilangsungkan di Stadion Nasional, Santiago, 16 Juni 1962, dipimpin wasit Juan Gardeazabal Garay (Spanyol), serta disaksikan 67 ribu penonton.

 

Final

Pertandingan final dilangsungkan di Stadion Nasional, Santiago, 17 Juni 1962, dipimpin wasit Nikolay Latsdhev (Uni Soviet), dan disaksikan 68.679 penotnon.

Di final, juara bertahan Brasil berhasil mengalahkan Cekoslowakia 3-1. Tiga gol Brasil dicetak oleh Amarildo Tavares da Silveira (17), Jose Ely de Miranda (69), dan Edvaldo Jizidio Neto yang lebih dikenal dengan nama Vava (78). Satu-satunya gol balasan Cekoslowakia diceak oleh Josef Masopust pada menit ke-15.

 

Pele dan Garrincha

Piala Dunia 1962 juga menghadinnrkan kisah heroik ketika Brasil mampu mempertahankan gelar juara dunia meski kehilangan pemain terbaiknya, Pele.

Brasil datang ke Cili dengan status juara bertahan sekaligus favorit utama meraih trofi Jules Rimet. Semua perhatian tertuju kepada Pele yang saat itu baru berusia 21 tahun. Penampilan gemilangnya di Piala Dunia 1958 membuatnya sudah dianggap sebagai pemain terbaik dunia.

 Pele langsung menunjukkan kualitasnya saat Brasil mengalahkan Meksiko 2-0 pada laga pembuka. Ia mencetak gol indah setelah melewati beberapa pemain lawan. Namun petaka datang pada pertandingan kedua melawan Cekoslowakia.

Saat melepaskan tendangan jarak jauh, Pele mengalami cedera otot paha yang cukup serius. Karena aturan pergantian pemain belum diberlakukan pada era tersebut, Pele terpaksa bertahan di lapangan dalam kondisi cedera sebelum akhirnya dipastikan tidak bisa melanjutkan turnamen.

Banyak pihak menilai peluang Brasil mempertahankan gelar langsung menurun drastis setelah kehilangan sang bintang. Namun, ketika Pele harus menepi, Brasil menemukan sosok penyelamat dalam diri Garrincha.

Pemain sayap berjuluk “Burung Kecil” itu tampil luar biasa sepanjang fase gugur. Menariknya, Garrincha lahir dengan kondisi fisik yang tidak sempurna. Kaki kirinya lebih pendek sekitar enam sentimeter dan bentuk kedua kakinya tidak simetris.

Namun keterbatasan tersebut tidak menghalanginya memberi mimpi buruk bagi para bek lawan. Pada babak perempat final, Garrincha mencetak dua gol untuk membantu Brasil mengalahkan Inggris 3-1.

Penampilannya berlanjut di semifinal ketika kembali mencetak dua gol untuk membawa Brasil menaklukkan tuan rumah Cile dengan skor 4-2.

Dribel-dribel magis Garrincha membuatnya menjadi pemain paling dominan di turnamen tersebut dan membantu Brasil tetap menjadi favorit juara meski tanpa Pele.

Brasil akhirnya memang keluar sebagai juara setelah di final mengalahkan Cekoslowakia dengan skor 3-1 (1-1).

Keberhasilan tersebut menjadikan Brasil sebagai negara kedua yang mampu meraih gelar Piala Dunia secara beruntun setelah Italia pada 1934 dan 1938.

Lebih dari itu, kemenangan tersebut membuktikan bahwa kekuatan Brasil tidak hanya bergantung pada Pele, tetapi juga pada kedalaman skuad yang luar biasa.

 

Topskor

Topskor atau pencetak gol terbanyak Piala Dunia 1962 ada enam orang, yaitu Manuel Francisco dos Santos alias Garrincha (Brasil), Edvaldo Jizidio Neto alias Vava

Brasil Vavá (Brasil), Leonel Guillermo Sanchez Lineros (Chili), Drazan Jerkovic (Yugoslavia), Florian Albert (Hungaria), dan Valentin Kozmich Ivanov (Uni Soviet) masing-masing dengan 4 gol. (bersambung)

 

......

Referensi:

Piala Dunia FIFA 1962; https://id.wikipedia.org/wiki/Piala_Dunia_FIFA_1962; dikutip pada Senin, 08 Juni 2026

Final Piala Dunia FIFA 1962; https://id.wikipedia.org/wiki/Final_Piala_Dunia_FIFA_1962; dikutip pada Senin, 08 Juni 2026

Sejarah Piala Dunia 1962: Laga Paling Brutal yang Mengubah Aturan Sepak Bola; https://www.medcom.id/olahraga/liga-dunia/5b2yrvMN-sejarah-piala-dunia-1962-laga-paling-brutal-yang-mengubah-aturan-sepak-bola; dikutip pada Senin, 08 Juni 2026

Pertarungan Santiago; https://id.wikipedia.org/wiki/Pertarungan_Santiago; dikutip pada Senin, 08 Juni 2026


......

Sejarah Piala Dunia Sepak Bola FIFA (6):

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama