iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » » » Berjuang Hidup di Surabaya


Pedoman Karya 10:21 PM 0


“Bu, kalau mau ke Surabaya kota, jalannya kemana?”
“Ya, mau ke kota. Kota apa?” tanya ibu itu.
“Ya, ke kota yang ramai toko-toko dan sekolahan disana, jawab Sahban.
“Kalau begitu anak naik trem, kalau sudah ketemu kotanya berhenti di halte trem, kata ibu itu
“Dimana tremnya bu?” tanya Sahban.



-------

PEDOMAN KARYA
Senin, 24 Desember 2018


Biografi Sahban Liba (10):


Berjuang Hidup di Surabaya


Penulis: Hernita Sahban Liba

Setelah mengarungi laut lepas selama dua hari dua malam, kapal kecil yang ditumpangi Sahban Liba bersandar di dermaga Tanjung Perak, Surabaya. Pada saat akan turun, Sahban sempat bercakap-cakap dengan seorang penumpang, bapak tua, yang berdekatan tidur dengannya di dek kapal.

“Nak, mau kemana?” tanya bapak tua itu.
“Ya, mau ke Surabaya, jawab Sahban.
“Ini Surabaya. Anak tinggal dimana di Surabaya?” tanya bapak tua itu lagi.
“Belum tahu, jawab Sahban.  
“Untuk apa anak ke Surabaya?” tanya bapak tua itu.
“Mau sekolah,jawab Sahban
“Dimana?” tanya bapak tua itu.
“Belum tahu, jawab Sahban.

Dialog singkat ini membuat bapak tua ituheran, tapi kemudian para penumpang bergegas-gegas turun sehingga dialog tidak dilanjutkan dan para penumpang turun ke darat.

Turun di darat, Sahban mencari warung makan yang murah, satu piring nasi putih, satu biji telur, dengan sausnya dan segelas teh manis. Dengan harga Rp5,- (lima rupiah). Hidangan ini telah cukup mengenyangkan perut untuk melanjutkan perjalanan. Sahban bertanya pada ibu pemilik warung.

“Bu, kalau mau ke Surabaya kota, jalannya kemana?”
“Ya, mau ke kota. Kota apa?” tanya ibu itu.
“Ya, ke kota yang ramai toko-toko dan sekolahan disana, jawab Sahban.
“Kalau begitu anak naik trem, kalau sudah ketemu kotanya berhenti di halte trem, kata ibu itu
“Dimana tremnya bu?” tanya Sahban.
Ya itu, yang panjang bergandeng-gandengan,” jelas ibu pemilik warung itu sambil geleng-geleng kepala, yang kemudian mengantar Sahban ke halte trem dan Sahban pun naik ke trem(*).

Di atas trem, Sahban merasa tegang. Mau bertanya kepada siapa, dan apa pertanyaannya semuanya serba bingung. Tapi hati tetap tegar menghadapi semua ini, karena Sahban berprinsip, asal niat yang baik pasti dikasih petunjuk oleh Allah SWT.

Selain itu, Sahban selalu membaca lembaran kertas yang bertuliskan ayat kursi berkali-kali, sesuai nasehat orang-tuanya sebelum berangkat.

Tak lama kemudian, secara tidak sengaja mata Sahban melihat Hotel Orange di sebelah kiri jalan. Ia teringat pidato Bung Tomo yang selalu didengarkan di radio pada tahun 1945, saat ia berusia delapan tahun.

Pidato itu berbunyi bahwa Bung Tomo dan kawan-kawanya bertahan di Hotel Orange dan seorang pemuda sedang naik ke puncak hotel merobek warna biru dari bendera Belanda yang berwarna merah, putih, dan biru.

Dengan lantang Sahban berteriak STOP-STOP. Trem berhenti di tempat pemberhentian trem di Jl. Tunjungan Surabaya, dekat dengan Hotel Orange tersebut.

Sahban pun turun diemper-emper sebuah toko. Sambil memperhatikan kendaraan yang mondar-mandir, Sahban duduk berjongkok menikmati kacang rebus yang dibungkus dengan daun pisang. Makanan itu begitu nikmat rasanya dan turut membantunya mengendurkan urat saraf yang masih tegang.

Sambil mengunyah kacang rebus, mata Sahban tertuju ke toko seberang jalan, tertulis jelas toko MATTALITTI. “Pemilik toko ini pasti orang dari Sulawesi Selatan,” pikir Sahban, karena nama Matalitti adalah nama yang umum di Sulawesi Selatan. Lagi pula, pada saat itu, Mattalitti adalah saudagar Bugis-Makassar yang terkenal di Surabaya.

Pelan-pelan tapi pasti, Sahban menyeberang ke pintu toko MATTALITTI. Di depan toko duduk seorang tua, mengawasi setiap tamu yang akan masuk berbelanja kain di toko tersebut. Kepada orang tua itulah Sahban bertanya tentang lokasi masjid di daerah tersebut.

Setelah beliau jelaskan, maka Sahban mulai menyelusuri lorong di belakang Jl Tunjungan. Setelah berjalan kurang lebih dua jam, sebuah masjid yang lumayan besar berada di dekat lapangan Kampung Kaliasin.

Alhamdulillah, bisik Sahban dalam hati memuji Allah SWT, karena memang tujuan pertama dan utama adalah masjid tempat menginap, walau mungkin hanya untuk beberapa hari saja sembari mencari tempat layak dan murah.

Langkah ini diambil karena memang uang yang tersedia sangat terbatas, hanya cukup satu kali makan nasi dan satu kali makan ubi atau tempe goreng setiap hari. Hemat tapi nikmat.

Walau rencananya adalah tinggal untuk beberapa hari saja, Sahban akhirnya tinggal selama lima bulan di Masjid Djami tersebut. Hal ini dapat dilakukan karena Sahban dibantu oleh pengurus mesjid.

Pengurus mesjid memberikan izin tinggal karena Sahban melakukan aktivitas yang sangat membantu bagi mesjid. Sahban setiap hari membantu menimba air dengan menggunakan pompa dragon, dari sumur sedalam 10 meter.

Selain itu, setiap masuk waktu shalat, Sahban selalu menjadi muadzin dan kadang-kadang membaca al-qur’an melalui pelantang masjid.

Setelah beberapa lama menginap, tiba saatnya ujian sekolah. Ujian ini bernama Ujian Persamaan Sekolah Guru Bawah (SGB) dan Tes Masuk Sekolah Guru Atas (SGA).

Sahban pagi-pagi telah bangun dan bersiap-siap berangkat. Ia berangkat dengan berjalan kaki sejauh 6 (enam) kilometer ke tempat ujian di PGAN Surabaya. Sekolah ini berada di Karang Menjangan, Airlangga, Surabaya.

Sesampai di sekolah, ia bertemu dengan sesama pelajar dari berbagai daerah yang akan ikut ujian. Satu dengan yang lainya belum saling mengenal, sehingga hanya saling pandang dan sekali-sekali mengulur senyum.

Saat lonceng berbunyi masing-masing masuk kelas dan duduk di kursi yang telah disediakan. Jarak antar kursi kurang lebih satu meter. Mulut Sahban mulai berkomat-kamit dengan bacaan doa dengan perasaan yang tegang.

Mata pelajaran yang pertama diujikan adalah aljabar. Dalam tempo seperampat jam Sahban selesaikan jawabannya dan menyerahkan hasil ke panitia. Panitia pun yang menerima kertas jawaban merasa kaget, mungkin disangkanya adalah meminta izin atau minta tambahan kertas, sehingga Sahban langsung menjelaskan “selesai pak”.

Peserta  ujian lainnya pun kaget dan menoleh ke arah Sahban yang berdiri dan keluar ke ruangan untuk istrahat. Situasi seperti itu kembali berulang saat ujian ilmu ukur dan ujian ilmu alam.

Satu bulan kemudian tiba hari penentuan kelulusan. Sahban pagi-pagi telah bangun shalat subuh, mandi dan jajan seadanya, kemudian berangkat ke sekolah. Seperti sebelumnya, ia jalan kaki di sekolah dan tiba kurang lebih jam 11.00 siang.

Saat itu, para peserta ujian sudah banyak yang berkumpul di depan papan pengumuman. Sahban pun mendekat dengan keyakinan akan lulus. Dari jarak satu meter jelas terbaca nomor ujian Sahban, yaitu nomor 64, sebagai salah satu peserta yang lulus. Sahban langsung sujud syukur saat itu juga.

Sahban kemudian bergegas pulang ke masjid tempat menginap. Kegembiraan hatinya begitu meluap-luap, tetapi hanya ia rasakan sendiri. Akhirnya hanya duduk tafakkur di serambi masjid dengan berkali-kali mengucapkan hamdalah.

Tidak terasa Sahban meneteskan air mata kebahagiaan, tapi kebahagiaan yang hampa karena tidak ada tempat berbagi, tidak ada tempat melampiskan kepuasan.

“Ya Allah, Engkau telah terima doa hamba-Mu ini. Engkau tidak sia-siakan upaya hambamu yang jauh-jauh datang dari Sulawesi menempuh ujian Ikatan Dinas. Semoga kesuksesan pertama ini akan membawa hamba-Mu menjadi orang yang berguna dan taat beribadah. Terima kasih ya Allah,” ucap Sahban.

Doa itulah yang pertama kali diucapkan Sahban saat tiba serambi Masjid Djami Surabaya saat lulus ujian.

Berita gembira itu ingin segera ia sampaikan kepada kedua orang-tua dan saudara-saudaranya di Desa Kalosi, Enrekang. Sahban pun mengirim surat melalui pos. Surat ini baru sampai setelah satu bulan dalam perjalanan dari Surabaya ke Kalosi. (bersambung)

Editor: Asnawin Aminuddin

Artikel terkait:



---
Keterangan:
(*) Di Surabaya saat itu masih terdapat trem. Trem adalah sejenis angkutan umum kereta api dalam kota. Trem pernah dioperasikan di Batavia (Jakarta) dan Surabaya sejak tahun 1886. Terdapat tiga jalur trem saat itu, salah satunya jalur yang dilalui Sahban, yaitu jalur Tanjung Perak – Tunjungan – Darmo – Kebon Binatang. Trem di Surabaya tidak lagi beroperasi sejak tahun 1975.

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply